Rabu, 17 Juli 2013

Tentang 17 Juli, Tentang Kasih Sayang tulus, Tentangmu Ibunda


17 Juli 2008 merupakan salah satu hari bersejarah sekaligus hari terkelam sepanjang hidup saya. Pasalnya di hari dan tanggal inilah saya merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang paling saya cintai, sosok tempat dimana surga saya ada di telapak kakinya, sosok yang paling banyak berkorban selama hidupnya untuk kebahagiaan kami, sosok yang tak pernah lelah mencurahkan kasih sayangnya, seorang wanita tangguh penopang keluarga kami, seorang ibu, pendidik, akuntan, koki, perawat, serta pembangkit semangat kami. Ibu.
Hari terkelam ini pun merupakan salah satu hari bersejarah khususnya bagi saya pribadi, dimana hari ini merupakan hari terakhir pelaksanaan MOS SMA yang sedikit banyaknya menguras waktu saya sehingga saya kurang memiliki momen-momen terakhir dengan ibunda tercinta.
Tak akan pernah saya lupakan sosoknya, senyum manisnya, kata lembutnya, kasih sayangnya, usapannya, dekapannya, bahkan aroma tubuhnya pun masih bisa saya ingat dengan jelas dan tersimpan dalam memori dan dalam sanubari hati saya yang terdalam. Setelah 5 tahun berlalu tanpa kehadiran sosok lembutnya, Bukan lagi isak tangis kesedihan yang saya rasakan saat mengingatnya, melainkan senyum kebahagiaan penuh kerinduan, bukan lagi ratap duka yang saya lakukan ketika merindukannya, melainkan lantunan doa yang tiada henti dipanjatkan untuknya, semoga engkau tenang disana Ibunda.
Maafkan jika putrimu ini seringkali lalai dalam menjalankan amanahnya, maafkan jika putrimu ini seringkali khilaf dalam menjalani roda kehidupannya, maafkan jika putrimu ini seringkali masih goyah dalam mempertahankan pendiriannya. Maafkan saya ibunda, maafkan. Tak pernah ada keinginan bahkan niat secuilpun untuk menggantikan posisimu di hati dan hidup saya,
Jangan bersedih ibunda, akan tetap saya tempuh jalan ini, jalan yang dirintis dengan tertatih-tatih, jalan untuk menggapai cita-cita dan mimpimu sebagai pengajar sekaligus pendidik generasi muda yang tak pernah terwujud, lihat dan amati saja ibunda, kali ini saya yang akan mewujudkannya. Cita-cita mulia yang senantiasa engkau idamkan, engkau tanamkan dalam snubari dan hati kecil saya bahkan ketika saya belum mengerti arti sebuah cita-cita dan pengabdian.
Saya menyayangimu ibunda, terimakasih atas kasih sayang yang senantiasa engkau berikan bahkan setelah engkau pergi, terimakasih atas setiap arti kehidupan yang telah engkau ajarkan, terimakasih Tuhan telah menakdirkan saya sebagai putrinya, terimakasih atas hidup yang telah Engkau berikan pada ku melalui rahimnya, kasih sayangnya, darahnya, peluh keringatnya, setiap kelelahannya, entah bagaimana lagi saya membalas mu ibunda. Hanya seuntai doa tulus yang tak pernah henti kupanjatkan untukmu. Saya menyayangimu ibunda, saya teramat sangat sangat sangat bangga menjadi putrimu, menjadi bagian dari keluarga ini, terimakasih pulat telah Engkau tempatkan saya ke dalam keluarga sederhana nan bahagia ini ya Allah, Terimakaasih banyak..

Cirebon, 17 Juli 2013 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar