17 Juli 2008 merupakan
salah satu hari bersejarah sekaligus hari terkelam sepanjang hidup saya. Pasalnya
di hari dan tanggal inilah saya merasakan bagaimana rasanya kehilangan
seseorang yang paling saya cintai, sosok tempat dimana surga saya ada di
telapak kakinya, sosok yang paling banyak berkorban selama hidupnya untuk
kebahagiaan kami, sosok yang tak pernah lelah mencurahkan kasih sayangnya,
seorang wanita tangguh penopang keluarga kami, seorang ibu, pendidik, akuntan,
koki, perawat, serta pembangkit semangat kami. Ibu.
Hari terkelam ini pun
merupakan salah satu hari bersejarah khususnya bagi saya pribadi, dimana hari
ini merupakan hari terakhir pelaksanaan MOS SMA yang sedikit banyaknya menguras
waktu saya sehingga saya kurang memiliki momen-momen terakhir dengan ibunda
tercinta.
Tak akan pernah saya
lupakan sosoknya, senyum manisnya, kata lembutnya, kasih sayangnya, usapannya,
dekapannya, bahkan aroma tubuhnya pun masih bisa saya ingat dengan jelas dan
tersimpan dalam memori dan dalam sanubari hati saya yang terdalam. Setelah 5
tahun berlalu tanpa kehadiran sosok lembutnya, Bukan lagi isak tangis kesedihan
yang saya rasakan saat mengingatnya, melainkan senyum kebahagiaan penuh
kerinduan, bukan lagi ratap duka yang saya lakukan ketika merindukannya,
melainkan lantunan doa yang tiada henti dipanjatkan untuknya, semoga engkau
tenang disana Ibunda.
Maafkan jika putrimu
ini seringkali lalai dalam menjalankan amanahnya, maafkan jika putrimu ini
seringkali khilaf dalam menjalani roda kehidupannya, maafkan jika putrimu ini
seringkali masih goyah dalam mempertahankan pendiriannya. Maafkan saya ibunda,
maafkan. Tak pernah ada keinginan bahkan niat secuilpun untuk menggantikan
posisimu di hati dan hidup saya,
Jangan bersedih ibunda,
akan tetap saya tempuh jalan ini, jalan yang dirintis dengan tertatih-tatih,
jalan untuk menggapai cita-cita dan mimpimu sebagai pengajar sekaligus pendidik
generasi muda yang tak pernah terwujud, lihat dan amati saja ibunda, kali ini saya
yang akan mewujudkannya. Cita-cita mulia yang senantiasa engkau idamkan, engkau
tanamkan dalam snubari dan hati kecil saya bahkan ketika saya belum mengerti
arti sebuah cita-cita dan pengabdian.
Saya menyayangimu
ibunda, terimakasih atas kasih sayang yang senantiasa engkau berikan bahkan
setelah engkau pergi, terimakasih atas setiap arti kehidupan yang telah engkau
ajarkan, terimakasih Tuhan telah menakdirkan saya sebagai putrinya, terimakasih
atas hidup yang telah Engkau berikan pada ku melalui rahimnya, kasih sayangnya,
darahnya, peluh keringatnya, setiap kelelahannya, entah bagaimana lagi saya
membalas mu ibunda. Hanya seuntai doa tulus yang tak pernah henti kupanjatkan
untukmu. Saya menyayangimu ibunda, saya teramat sangat sangat sangat bangga
menjadi putrimu, menjadi bagian dari keluarga ini, terimakasih pulat telah
Engkau tempatkan saya ke dalam keluarga sederhana nan bahagia ini ya Allah,
Terimakaasih banyak..
Cirebon, 17 Juli 2013
Cirebon, 17 Juli 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar