Tentang Hidup, Kehidupan, Pikiran, Hati, Emosi, Senja, Dandellion, Ilalang dan... Langit ^^
Kamis, 06 Maret 2014
Rindu keluarga, sangat.
Dan saya sedang begitu rindu dengan mereka..
ibu yang hanya bisa berkomunikasi lewat do'a, yang hangat kasihnya tak pernah putus walaupun terpisah dunia
Bapak di Cirebon yang doa dan kasih sayangnya pun sangat terasa
kakak, kakak ipar dan keponakan kecil yang mudah saja membuat saya rindu
keluarga besar mamah di mundu (terlalu banyak jika disebutkan satu-satu)
keluarga di Semarang (Nok Dian, bibi mimin, um Birin),
keluarga di Bogor (Bibi Dang, Nur, Um ntis)
semoga kebahagiaan dan keberkahan senantiasa menaungi kita semua.
dan saya tak pernah berhenti mengharapkan berkumpulnya keluarga besar ini lagi, :)
Bismillahirrahmanirrahiim :)
Menjadi pemimpin
merupakan sebuah amanah dan tanggungjawab besar yang juga merupakan suatu bukti
kepercayaan yang telah dilimpahkan oleh rekan-rekan yang lain yang telah
memilih. Mungkin memang masih banyak yang lebih baik daripada saya, tetapi pada
akhirnya disinilah saya dengan berbekal sebatas pengetahuan, kemauan untuk
belajar dan kepercayaan dari kawan-kawan.
Himpunan Mahasiswa
Pendidikan IPS UPI (selanjutnya disebut HIMA PIPS) adalah sebuah organisasi
mahasiswa, penghimpun mahasiswa khususnya dalam program studi pendidikan IPS,
UPI. Dalam struktur tubuhnya, HIMA PIPS ini memiliki dua lembaga yakni Lembaga
Eksekutif (BEM) dan Lembaga Legislatif (DPM). Sesuai dengan namanya, kedua
lembaga ini memiliki tugas dan fungsi masing-masing. BEM sebagai Pihak
eksekutor atau Pelaksana kebijakan dan kegiatan, sedangkan DPM sebagai lembaga
legislasi mahasiswa yang juga berfungsi sebagai pengawas, budgeting dan
penampung aspirasi mahasiswa.
Dalam perjalanannya,
dua lembaga dalam satu tubuh Himpunan ini seringkali dianggap sebagai dua badan
yang terpisah yang seakan tujuan tugasnya berbeda, bahkan seringkali DPM
dianggap sebagai Dewan Pengawas Mahasiswa dan memiliki kedudukan yang lebih
tinggi di atas BEM. Disinilah salah satu tantangan dimana kami selaku DPM dan
saya pribadi sebagai pimpinannya merasa harus ada pola pikir yang diluruskan. Dimana
BEM dan DPM adalah dua lembaga yang bekerja bersama demi mencapai tujuan
Himpunan yang sinergis dan sesuai dengan apa yang di cita-citakan. Jika
diibaratkan, BEM adalah kaki kiri dan DPM adalah kaki kanan yang melangkah
secara harmonis dan saling mengisi satu sama lain. Atau BEM adalah tangan,
sedangkan DPM adalah pikiran atau syaraf yang menggerakkan otot tangan untuk
bekerja dan melakukan sesuatu.
9 Februari 2014, pukul
00.29 saya selaku ketua DPM dan adik saya Retno Ayu Hardianti resmi diangkat
dan dilantik sebagai Pimpinan HIMA 2014, saya sebagai ketua DPM dan Retno
sebagai ketua BEM. Ya, keduanya adalah wanita. Sebuah sejarah baru yang terukir
selama perjalanan HIMA PIPS.
Semoga amanah baru ini
menjadi ladang amal yang berkah bagi kami, semoga perjalanan HIMA PIPS 2014
semakin lancar, jaya dan bukan sekedar organisasi pelaksana kegiatan semata. Melainkan
organisasi mahasiswa penghimpun massa yang sesuai dengan landasan negara, tri
dharma perguruan tinggi dan tentunya landasan pergerakan Himpunan ini sendiri. Catur
Sila HIMA PIPS. Cerdas, Ikhlas, Totalitas, Independen!
Analisis masalah objek wisata Yogyakarta
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Indonesia merupakan
sebuah negara dengan berbagai macam budaya dan kesenian yang sangat mempesona
mata dunia. Salah satu kota tujuan pariwisata di Indonesia adalah kota
Yogyakarta. Kota yang di identikkan dengan kota yang penuh kenangan akan
sejarah dan budaya ini senantiasa mengundang wisatawan tiap tahunnya. Baik dari
wisatawan lokal maupun wisatawan asing.
Sebagai salah satu kota
tujuan wisata, Yogyakarta pun tidak lepas dari permasalahan yang juga
senantiasa mengikutinya. Seperti masalah-masalah sosial yang terjadi di
masyarakat yang berhubungan langsung dengan objek pariwisata. Dalam makalah
ini, penulis mencoba menjelaskan mengenai masalah-masalah yang muncul yang
terjadi di daerah objek pariwisata, dalam hal ini Candi Borobudur, Malioboro,
Keraton Yogyakarta, Benteng Vredeburg, Kota gede dan pantai Depok yang
dikunjungi selama kegiatan praktikum berlangsung. Permasalahan tersebut coba
penulis lihat dari sudut pandang ilmu-ilmu sosial seperti ekonomi, sosiologi, antropologi,
Geografi, sejarah, filsafat dan politik.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang penulisan di atas, penulis mengambil rumusan masalah yang akan
di bahas berupa:
·
Masalah apa yang muncul di objek wisata
dari sudut pandang ekonomi?
·
Masalah apa yang muncul di objek wisata
dari sudut pandang sosiologi dan antropologi?
·
Masalah apa yang muncul di objek wisata
dari sudut pandang Geografi?
·
Masalah apa yang muncul dari sudut
pandang Sejarah?
·
Masalah apa yang muncul dari sudut
pandang filsafat?
·
Masalah apa yang muncul dari sudut
pandang politik?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan kami membuat makalah ini
adalah untuk:
·
Mengetahui masalah yang muncul di objek
wisata dari sudut pandang ekonomi
·
Mengetahui masalah yang muncul di objek
wisata dari sudut pandang sosiologi dan antropologi
·
Mengetahui masalah yang muncul di objek
wisata dari sudut pandang geografi
·
Mengetahui masalah yang muncul di objek
wisata dari sudut pandang sejarah
·
Mengetahui masalah yang muncul di objek
wisata dari sudut pandang filsafat
·
Mengetahui masalah yang muncul di objek
wisata dari sudut pandang politik
1.4 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan
makalah ini penulis buat dengan terdiri dari tiga bab. Bab pertama membahas
latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan dan sistematika penulisan.
Bab kedua berupa pembahasan yang
mencakup ulasan singkat mengenai objek wisata, masalah yang muncul jika
ditinjau dari sudut pandang ilmu-ilmu sosial. Bab tiga berisi kesimpulan,
kritik dan saran.
BAB
II PEMBAHASAN
2.1
Candi Borobudur
Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah, sekitar 40
km dari Yogyakarta. Kata Borobudur berdasarkan bukti tertulis pertama yang
ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Britania Raya di
Jawa, yang memberi nama candi ini. Tidak ada bukti tertulis yang lebih tua yang
memberi nama Borobudur pada candi ini. Satu-satunya dokumen tertua yang
menunjukkan keberadaan candi ini adalah kitab Nagarakretagama, yang ditulis
oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365. Di kitab tersebut ditulis bahwa candi ini
digunakan sebagai tempat meditasi penganut Buddha.
Arti nama Borobudur yaitu "biara di perbukitan",
yang berasal dari kata "bara" (candi atau biara) dan
"beduhur" (perbukitan atau tempat tinggi) dalam bahasa Sansekerta.
Karena itu, sesuai dengan arti nama Borobudur, maka tempat ini sejak dahulu
digunakan sebagai tempat ibadat penganut Buddha.
a. Permasalahan yang Muncul Jika Ditinjau dari Sudut Pandang Ekonomi
Adanya para wisatawan dan minat usaha yang besar
dari para pedagang akan mempengaruhi perilaku social ekonomi yang tampak dari
cara-cara dan aktivitasaktivitas pedagang dalam kegiatan ekonomi mereka sebagai
pedagang di Taman Wisata Candi Borobudur. Sebagai makhluk social para pedagang
juga melakukan interaksi social yang terjalin dalam kehidupan social pedagang
di Taman Wisata Candi Borobudur. Dalam berinteraksi social para pedagang,
selain akan terjalin kerjasama-kerjasama juga tidak lepas dari
benturan-benturan dan konflik-konflik yang dikarenakan perbedaan kepentingan
diantara para pedagang.
Di
dalam kompleks candi ini terdapat ratusan lapak pedagang kaki lima yang
berjualan di sekitar candi borobudur. Sesampai di dalam situs candi ini,
pengunjung akan di suguhkan berbagai macam pernak-pernik yang di jual mulai dari
parkiran bus dan juga jalam keluar dari borobudur. Barang yang dijualpun
beraneka macamnya, mulai dari gantungan kunci, vas bunga, baju, miniatur
borobudur, tas dan sebagainya. Jika pengunjung merasa lelah pun disini tersedia
banyak lapak pedagang yang menjual makanan dan minuman untuk melepas dahaga.
Sementara dalam bidang jasa, banyak masyarakat sekitar yang menyewakan payung
untuk para pengunjung dengan tarif mulai dari 3 ribu hingga 10 ribu rupiah,
tergantung pada jenis dan ukuran payung yang disewakan. Adapula jasa foto yang
kini mulai tergeser karena banyaknya pengunjung yang sudah membawa kamera
sendiri ataupun fasilitas kamera handphone.
Sayangnya,
walaupun candi ini di jadikan objek wisata dan membuka sebuah peluang usaha
baru bagi masyarakat di sekitarnya, tetapi cara pemasaran yang kurang tepat
dengan sedikit memaksa membuat citra yang buruk bagi para pedagang asongan di
sana.
b. Di tinjau dari Sudut Pandang Sosiologi
Jika
ditinjau dari sudut pandang sosiologi, di bukanya peluang usaha bagi masyarakat
sekitar kawasan candi memberikan sebuah pengaruh yang cukup besar, dari adanya
wisatawan atau pengunjung baik dari dalam ataupun dari luar negeri, membuat
masyarakat di kawasan ini semakin terbuka dengan perubahan dan semakin intensif
dalam berinteraksi.
c. Di tinjau dari Sudut Pandang Geografi
Di
tinjau dari sudut pandang Geografi yang mempelajari mengenai struktur permukaan
bumi, keadaan atau posisi candi ini memiliki keunikan tersendiri. Hal ini
karena candi ini terletak di tengah dataran tinggi yang dikelilingi oleh
perbukitan yang menambah daya tarik tersendiri bagi objek wisata budaya yang
satu ini. Bahkan, beberapa ilmuwan mengatakan bahwa candi ini di bangun di atas
sebuah danau purba.
Permasalahan
yang muncul dari sudut pandang Geografi salah satu diantaranya adalah masalah
keterjangkauan objek. Hanya saja masalah ini sudah terselesaikan dengan baik
oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dengan membuka akses jalan yang
mudah di tempuh oleh wisatawan.
d. Di tinjau dari Sudut Pandang Antropologi
Antropologi
adalah ilmu yang mengkaji mengenai kebudayaan dan hasil karya manusia lainnya.
Dalam hal ini, ilmu antropologi sangat berguna dalam menjawab masalah-masalah
yang ada di candi ini. Karena, seperti yang kita tahu, bahwa candi ini merupakan
salah satu peninggalan kebudayaan masa lalu, salah satu candi Buddha terbesar
di dunia. Hal-hal seperti darimana batu-batu yang digunakan untuk membuat candi
ini di ambil atau siapakah yang sebenarnya membangun candi ini masih menjadi
misteri yang tidak terpecahkan hingga sekarang.
Selain
itu, candi ini menggambarkan bahwa Indonesia pernah menjadi salah satu tempat
pusat ajaran Buddha yang cukup besar. Dari candi ini, kita dapat melihat
kejayaan maa lalu kita dan mengetahui kebudayaan dan filosofis yang terkandung
di dalamnya.
Sehingga,
tidak salah jika kita sebagai generasi penerus bangsa harus dapat melestarikan
dan berusaha membangkitkan kembali era keemasan Indonesia di mata dunia.
e. Di tinjau dari Sudut Pandang Sejarah
Dari
sudut pandangg sejarah, jelas terlihat bahwa candi ini merupakan salah satu
bukti bisu sejarah Indonesia yang sempat mencapai masa keemasannya. Dari relief
yang ada pada candi ini pun dapat menggambarkan bagaimana keadaan masyarakat
padda zaman tersebut. Sehingga membantu para sejarawan untuk merekonstruksi
sejarah Indonesia. Hanya saja, sebagai salah satu bukti sejarah, candi
borobudur yang telah mengalami beberapa kali pemugaran ini tidak lepas pula
dari tangan-tangan jahil para pengunjung yang mencoret atau merusak keindahan
dan keasrian candi ini.
f. Di tinjau dari Sudut Pandang Filsafat
Bangunan
candi nan megah ini tidak pernah berhenti mengundang rasa penasaran, baik dari
wisatawan maupun para sejarawan dan para ahli yang meneliti candi ini. Candi
ini memiliki unsur filosofis yang sangat tinggi. Dimana bagian dari candi ini
berbentuk tingkatan yang memiliki makna dan arti tersendiri.
Candi Borobudur
memiliki 10 tingkat yang terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujur sangkar, 3
tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Di
setiap tingkat terdapat beberapa stupa. Seluruhnya terdapat 72 stupa selain
stupa utama. Di setiap stupa terdapat patung Buddha. Sepuluh tingkat
menggambarkan filsafat Buddha yaitu sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus
dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha di nirwana. Kesempurnaan ini
dilambangkan oleh stupa utama di tingkat paling atas. Struktur Borobudur bila
dilihat dari atas membentuk struktur mandala yang
menggambarkan kosmologi Buddha dan cara berpikir manusia.
Di keempat sisi candi
terdapat pintu gerbang dan tangga ke tingkat di atasnya seperti sebuah
piramida. Hal ini menggambarkan filosofi Buddha yaitu semua kehidupan berasal
dari bebatuan. Batu kemudian menjadi pasir, lalu menjadi tumbuhan, lalu menjadi
serangga, kemudian menjadi binatang liar, lalu binatang peliharaan, dan
terakhir menjadi manusia. Proses ini disebut sebagai reinkarnasi. Proses
terakhir adalah menjadi jiwa dan akhirnya masuk ke nirwana. Setiap tahapan
pencerahan pada proses kehidupan ini berdasarkan filosofi Buddha digambarkan
pada relief dan patung pada seluruh Candi Borobudur.
g. Ditinjau
dari Sudut Pandang Politik
Unsur politik yang merupakan salah satu unsur yang paling
dominan dalam setiap aspek pun di temukan dalam perkembangan candi ini. Salah
satunya adalah pendirian candi ini yang di prakarsai oleh raja Samaratungga
dari wangsa Syailendra, wangsa atau dinasti yang berkuasa pada saat itu di
wilayah Jawa Tengah.
Di masa sekarang, pengaruh politik pun tidak lepas seiring
perkembangan candi ini yang merupakan salah satu objek pariwisata yang memang
banyak dicari dan di kunjungi oleh para wisatawan baik dari dalam maupun luar
negeri. Hal ini membuat adanya campur tangan pemerintah yang memang harus
diakui berdampak positif dan efektif dalam mencegah terjadinya monopoli dari
pihak swasta.
2.2 Malioboro
Kawasan Malioboro sebagai salah satu kawasan wisata belanja
andalan kota Jogja, ini didukung oleh adanya pertokoan, rumah makan, pusat
perbelanjaan, dan tak ketinggalan para pedagang kaki limanya. Untuk pertokoan,
pusat perbelanjaan dan rumah makan yang ada sebenarnya sama seperti pusat
bisnis dan belanja di kota-kota besar lainnya, yang disemarakan dengan
nama-merk besar dan ada juga nama-nama lokal. Barang yang diperdagangkan dari
barang import maupun lokal, dari kebutuhan sehari-hari sampai dengan barang
elektronika, mebel dan lain sebagainya. Juga menyediakan aneka kerajinan, misal
batik, wayang, ayaman, tas dan lain sebagainya. Terdapat pula tempat penukaran
mata uang asing, bank, hotel bintang lima hingga tipe melati.
Keramaian dan semaraknya Malioboro juga tidak terlepas dari
banyaknya pedagang kaki lima yang berjajar sepanjang jalan Malioboro menjajakan
dagangannya, hampir semuanya yang ditawarkan adalah barang/benda khas Jogja
sebagai souvenir/oleh-oleh bagi para wisatawan. Mereka berdagang kerajinan
rakyat khas Jogjakarta, antara lain kerajinan ayaman rotan, kulit, batik,
perak, bambu dan lainnya, dalam bentuk pakaian batik, tas kulit, sepatu kulit,
hiasan rotan, wayang kulit, gantungan kunci bambu, sendok/garpu perak, blangkon
batik [semacan topi khas Jogja/Jawa], kaos dengan berbagai model/tulisan dan
masih banyak yang lainnya. Para pedagang kaki lima ini ada yang menggelar
dagangannya diatas meja, gerobak adapula yang hanya menggelar plastik di
lantai. Sehingga saat pengunjung Malioboro cukup ramai saja antar pengunjung
akan saling berdesakan karena sempitnya jalan bagi para pejalan kaki karena
cukup padat dan banyaknya pedagang di sisi kanan dan kiri.
a. Permasalahan yang terjadi di Malioboro
jika di tinjau dari sudut pandang Ekonomi
Malioboro sebagai pusat belanja tentunya memberikan berkah
tersendiri bagi masyarakat sekitar. Hal ini dikarenakan kawasan ini memberikan
kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk berdagang dan mencari keuntungan.
Masalah yang muncul salah satunya adalah karena banyaknya
pedagang, maka pembeli memiliki otoritas sendiri dalam memilih barang yang di
inginkan. Sehingga timbullah apa yang di sebut dengan konsep “buyer’s market”
atau pembeli yang menguasai pasar. Selain itu, kawasan yang senantiasa ramai
ini menimbulkan adanya kerawanan dalam bidang keamanan khususnya. Sehingga
diperlukan sistem pengamanan yang lebih ketat lagi.
b. Ditinjau dari sudut pandang sosiologi dan Antropologi
Sebuah
pusat perbelanjaan seperti Malioboro pada umumnya menimbulkan interaksi yang
sangat intens dari penjual ataupun pembeli. Selain itu, adanya interaksi dan
kontak sosial yang memiliki frekuensi yang sangat intens tersebut memberikan
dampak pula bagi perkembangan budaya yang terjadi di daerah tersebut.
Contohnya, karena banyaknya wisatawan asing yang berlibur di sana, salah satu
minimarket menyediakan atau menjuual bir atau minuman keras untuk memnuhi
keinginan konsumen. Sedangkan seperti yang kita tahu, bahwa budaya minuman
keras bukanlah budaya yang semata-mata dimiliki atau di anut oleh bangsa
Indonesia yang notabene bergaya ketimuran.
c. Ditinjau dari sudut pandang Geografi
Dari
sudut pandang Geografi, Malioboro memiliki tempat atau posisi yang sangat
strategis. Selain menjadi pusat perdagangan, jalan yang
merupakan bagian dari sumbu imajiner yang menghubungkan Pantai Parangtritis,
Panggung Krapyak, Kraton Yogyakarta, Tugu, dan Gunung Merapi ini pernah menjadi
sarang serta panggung pertunjukan para seniman Malioboro pimpinan Umbu Landu
Paranggi. Dari mereka pulalah budaya duduk lesehan di trotoar dipopulerkan yang
akhirnya mengakar dan sangat identik dengan Malioboro. Menikmati makan malam
yang romantis di warung lesehan sembari mendengarkan pengamen jalanan
mendendangkan lagu "Yogyakarta" milik Kla Project akan menjadi
pengalaman yang sangat membekas di hati.
Sehingga, permasalahan
yang biasanya muncul dalam objek wisata berupa keterjangkauan ataupun akses
jalan bukanlah hal yang perlu dipertanyakan lagi.
d.
Ditinjau dari sudut pandang sejarah
Sebelum berubah menjadi
jalanan yang ramai, Malioboro hanyalah ruas jalan yang sepi dengan pohon asam
tumbuh di kanan dan kirinya. Jalan ini hanya dilewati oleh masyarakat yang
hendak ke Keraton atau kompleks kawasan Indische pertama di Jogja seperti Loji
Besar (Benteng Vredeburg), Loji Kecil (kawasan di sebelah Gedung Agung), Loji
Kebon (Gedung Agung), maupun Loji Setan (Kantor DPRD). Namun keberadaan Pasar
Gede atau Pasar Beringharjo di sisi selatan serta adanya permukiman etnis
Tionghoa di daerah Ketandan lambat laun mendongkrak perekonomian di kawasan
tersebut. Kelompok Tionghoa menjadikan Malioboro sebagai kanal bisnisnya,
sehingga kawasan perdagangan yang awalnya berpusat di Beringharjo dan Pecinan
akhirnya meluas ke arah utara hingga Stasiun Tugu.
Sejarah Malioboro yang
sangat manis ini menimbulkan kenangan tersendiri bagi para wisatawan yang
berkunjung ke daerah ini. Hanya saja, bagaimana membangun dan mempertahankan
sejarah tersebut yang perlu diperhatikan dan perlu di jaga.
e.
Ditinjau dari Sudut pandang Filsafat
Malioboro bukan hany
sekedar tempat, namanya pun bukan hany sekedar nama. Di lihat dari sejarahnya
yang awalnya hanya berupa jalann kecil hingga kini menjadi sebuah objek atau
kawasan pusat perbelanjaan, tentu saja wilayah ini pun tidak lepas dari
unsur-unsur filosofis yang menyertainya.
Dalam bahasa Sansekerta, malioboro berarti jalan karangan
bunga karena pada zaman dulu ketika Keraton mengadakan acara, jalan sepanjang 1
km ini akan dipenuhi karangan bunga. Meski waktu terus bergulir dan jaman telah
berubah, posisi Malioboro sebagai jalan utama tempat dilangsungkannya aneka
kirab dan perayaan tidak pernah berubah. Hingga saat ini Malioboro, Benteng
Vredeburg, dan Titik Nol masih menjadi tempat dilangsungkannya beragam karnaval
mulai dari gelaran Jogja Java Carnival, Pekan Budaya Tionghoa, Festival
Kesenian Yogyakarta, Karnaval Malioboro, dan masih banyak lainnya.
f. Ditinjau dari sudut pandang politik
Malioboro yang merupakan denyut nadi perekonomian kota
Yogyakarta tidak terlepas pula dari tangan-tangan politik yang menyertainya.
Maliobboro yang awalnya hanya di penuhi oleh penjual tradisional kini sudah
tumbuh menjadi salah satu tempat dengan investasi asing yang juga tumbuh
menjamur. Pertokoan modern seperti rumah makan, restoran ataupun kafe-kafe yang
beerdiri di sepanjang jalan ini sedikit demi sedikit menggeser keberadaan pasar
atau penjual tradisional. Walaupun tentu saja tidak banyak pula orang yang
masih lebih memilih makan di tempat lesehan untuk membangkitkan kenangan masa
lalu pada kota Yogyakarta ini.
2.3 Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton
Yogyakarta merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebut secara
resmi telah menjadi bagian Republik
Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan
tradisi kesultanan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu
objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan,
termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini
merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki
balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.
a. Permasalahan dari sudut pandang ekonomi
Dari sudut
pandang ekonomi, Keraton ini merupakan salah satu simbol kemewahan dan
kemegahan yang dimiliki oleh keluarga keraton. Hal ini juga membuktikan sistem
pemerintahan yang feodal mencerminkan atau identik dengan kemewahan yang
dimiliki oleh lingkungan kerajaan.
b. Ditinjau dari sudut pandang sosiologi dan Antropologi
Dari sudut
pandang sosiologi dan antropologi, Keraton ini melambangkan adanya sistem
feodalisme atau sistem kerajaan yang ternyata masih bisa bertahan dan masih
bisa di gunakan di wilayah Indonesia. Hal ini merupakan salah satu warisan budaya
yang dimiliki oleh Indonesia yang memang sarat akan kekayaan dan keanekaragaman
budaya.
c. Ditinjau dari sudut pandang Geografi
Keraton ini
terletak di pusat kota Yogyakarta. Satu hal yang harus di pahami bahwa walaupun
Indonesia sudah mengakui keraton dan kesultanan Yogyakarta sebagai bagian dari
wilayah Republik Indonesia, tapi ternyata bangunan ini masih di gunakan untuk
tempat tinggal pribadi sultan dan keluarganya. Hal ini merupakan salah satu
konsep yang ada di Geografi yaitu konsep tata ruang dan letak.
d. Ditinjau dari sudut pandang Sejarah
Keraton
Yogyakarta ini sangat sarat dan sangat erat kaitannya dengan ilmu sejarah.
Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan
Hamengku Buwono I
beberapa bulan pasca Perjanjian
Giyanti di tahun 1755. Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan[2] yang bernama Garjitawati.
Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja
Mataram (Kartasura dan Surakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain menyebutkan lokasi
keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah
hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, Sultan Hamengku Buwono I
berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk wilayah
Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman.
Sejarah berdirinya
keraton ini pun sangat erat kaitannya dengan sejarah bangsa Indonesia sendiri.
Sehingga masalahnya sekarang adalah bagaiman cara yang efektif untuk membuat
masyarakat sadar akan sejarah panjang dan berliku yang dimiliki oleh Negaranya.
e. Ditinjau dari sudut pandang ilmu
filsafat
Keraton Yogyakarta
merupakan sebuah simbol kesultanan dan salah satu peninggalan sejarah yang
telah berusia cukup panjang. Keraton ini sama seperti bangunan-bangunan keraton
yang sarat akan filosofis yang mendalam. Mulai dari makna filosofis dua buah
patung yang merupakan simbol dua buah penjaga keraton, makna filosofis tata
letak keraton, masjid dan alun-alun, serta simbol atau langgam istana yang juga
memiliki arti dan makna tersendiri.
f. Ditinjau dari sudut pandang ilmu
Politik
Keraton Yogyakarta merupakan salah satu
simbol politik yang unik yang terdapat di Indonesia. Yaitu sistem politik
kesultanan yang masih tetap di pegang teguh hingga kini. Hanya saja, seiring
perkembangan zaman, sistem kesultanan dianggap tidak lagi cocok dengan keadaan
bangsa Indonesia yang semakin menggelorakan semangat Demokrasi. Sehingga ada
pihak-pihak yang menginginkan pemilihan kepala daerah dari DIY ini dipilih
secara demokrasi, bukan hany berdasarkan keturunan semata.
2.4 Kota Gede
Kotagede atau Kutagede adalah sebuah kecamatan di Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Kotagede berbatasan dengan Kabupaten
Bantul di sebelah utara, timur, dan selatan,
dan kecamatan Umbulharjo di sebelah barat.
Nama 'Kotagede' diambil dari nama
kawasan Kota Lama Kotagede, yang terletak di perbatasan kecamatan ini dengan
kabupaten Bantul di sebelah selatan.
Sayangnya, rombongan praktikum tidak
di ajak berkeliling mengitari kawasan kota gede, kota yang sarat akan sejarah.
Melainkan hanya di bawa ke dalam sebuah toko souvenir atau toko oleh-oleh yang
berada di kawasan kota gede yang menjual beraneka macam pernak-pernik yang
berasal dari perak. Indah memang, hanya saja salah satu kendala pemasarannya
adalah harga yang ditawarkan dirasa terlalu mahal. Mungkin harga yang
ditawarkan memang sepadan dengan harga perak, tetapi pengunjung pasti akan
lebih memilih membeli emas di bandingkan membeli perak. Karena harga jual emas
yang cenderung meningkat atau naik.
2.5. Museum Vredenburg
dan Taman Pintar
Musium Benteng Vredeburg dulunya merupakan tangsi militer
Belanda yang mulai dibangun pada tahun 1760. Benteng ini terletak di Jl. A.
Yani, tepatnya di depan Gedung Agung Yogyakarta. Lokasinya sangat dekat dengan
Malioboro. Benteng ini dulunya bernama Rustenburg yang berarti 'Benteng
Peristirahatan'. Kemudian diganti nama menjadi Vredeburg yang berarti 'Bentang
Perdamaian' setelah selesai dibangun kembali karena rusak akibat gempa besar
yang melanda kota Yogyakarta pada tahun 1867.
Sementara itu, Taman
Pintar adalah tempat wisata untuk anak-anak Yogya ataupun anak-anak
Indonesia agar tumbuh ketertarikan untuk belajar dan kreatif dalam bidang sains
dan teknologi. berlokasi di jalan P. Senopati, Yogyakarta. Begitu memasuki
pintu gerbang, kita langsung disambut oleh area yang disebut sebagai Playground
Arena. Jalan masuk dari pintu gerbang terpecah menjadi 2 oleh sebuah koridor
yang terdiri atas 3 tiang berbentuk segitiga di masing-masing sisinya. Air akan
menyembur dari masing-masing tiang tersebut hingga membentuk sebuah koridor
air. Namun sayang, koridor ini hanya dioperasikan pada saat-saat tertentu saja.
Di ujung koridor ada sebuah gong bertuliskan "Gong perdamaian Nusantara
(sarana persaudaraan dan pemersatu bangsa)". Di sekeliling gong tersebut nampak
logo dari semua propinsi dan kabupaten yang ada di Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
a. Permasalahan Ditinjau dari sudut pandang Ekonomi
Benteng ini kini telah beralih fungsi menjadi sebuah museum
yang memiliki arti sajarah yang sangat tinggi. Sayangnya, tidak ada geliat
ekonomi yang berarti di sekitar benteng ini. Tetapi, kegiatan ekonomi lebih
terasa di daerah pasar Beringharjo yang memang tidak terlalu jauh dari museum
Vredeburg. Begitu pula kegiatan ekonomi yang muncul di sekitar taman pintar dan
jalan keluar kompoleks tersebut.
Hanya saja, jika di bandingkan dengan harga yang di tawarkan
di Malioboro ataupun pasar yang ada di candi Borobudur, di pasar Beringharjo
ini menawarkan harga yang sedikit lebih mahal. Sehingga di butuhkan kesabaran
dan kejelian dalam menawar dan memilih kualitas barang yang akan di beli.
b. Dalam bidang Sosiologi dan Antropologi
Dalam
bidang sosiologi dan antropologi, museum ini memberikan kesan yang cukup
berbeda. Karena di museum ini, seorang tour Guide akan memandu para pengunjung
dan menjelaskan hal yang ada dalam museum ini. Dalam hal ini, muncullah
interaksi yang dilakukan antara individu dengan kelompok. Hanya saja, budaya
mencintai dan menghargai sejarah memang masih sulit di tumbuhkan di masyarakat,
walaupun itu di kalangan mahasiswa. Hal ini terbukti dengan sikap mahasiswa
yang terkesan acuh tak acuh dalam mengikuti kegiatan yang ada di museum ini dan
panduan atau penjelasan yang dilakukan oleh tour guide.
c. Dalam bidang Geografi
Satu hal yang muncul dan patut di pertanyakan adalah,
mengapa letak museum selalu di tempatkan di pojok dari sebuah kompleks objek
wisata. Hal ini mungkin bisa menjadi salah satu alasan mengapa museum di
Indonesia menjadi terkesan di anaktirikan. Atau mungkin, hal ini bukan karena
faktor tata letak, melainkan keadaannya yang sepi sehingga membuat museum ini
terkesan terpojok.
d. Dalam bidang Sejarah
Pembangunan benteng ini sangat erat kaitannya dengan sejarah
kota Yogyakarta. Selepas Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755,
Mataram dibagi menjadi 2 bagian: setengah masih menjadi hak Kerajaan Surakarta
dan setengah lagi menjadi hak Pangeran Mangkubumi. Pada perjanjian itu,
Pangeran Mangkubumi diakui sebagai Raja dengan gelar Sultan Hamengku Buwono
Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah atau lebih
sering disebut Sultan Hamengku Buwono I.
Guna menjalankan pemerintahannya, Sultan HB I membangun
Kraton dengan membuka hutan Beringin pada tahun 1755. Kraton mulai ditempati
Sultan pada tahun 1756, dan mulai membangun bangunan pendukung yaitu benteng
pertahanan, Melihat perkembangan pembangunan yang pesat, Belanda merasa
khawatir dan meminta izin untuk membangun sebuah benteng pertahanan dengan
dalih untuk menjaga keamanan Kraton dan wilayah sekitarnya. Letak benteng yang
menghadap ke jalan utama menuju Kraton dan hanya 1 jarak tembakan meriam
menjadikan benteng ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai banteng strategi,
intimidasi dan juga sebagai blokade apabila sewaktu-waktu ada serangan dari
Kraton Yogyakarta. Sejarah panjang dari benteng ini menggambarkan sejarah yang
panjang pula dari berdirinya daerah Yogyakarta.
e. Dalam bidang Filsafat
Dalam bidang filsafat, bangunan keraton dan sistem kerajaan
seeperti ini memiliki sebuah nilai filosofis yang sangat dalam. Bentuk bangunan
dan arah bangunan menghadap memiliki arti dan makna tersendiri.
f. Dalam bidang Politik
Benteng vredeburg dibangun sebagai benteng untuk mempertahankan
keraton, padahal alasan sebenarnya benteng tersebut didirikan adalah untuk
mengawasi gerak-gerik keraton agar tidak melakukan gerakan atau kegiatan yang
dianggap mengancam keberadaan kolonial Belanda. Ini merupakan salah satu taktik
politik yang di gunakan oleh Belanda untuk melemahkan lingkungan keraton.
2.6. Pantai Depok
Pantai
Depok secara administratif masuk wilayah Kabupaten Bantul, tepatnya di Desa
Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul. Letak Pantai Depok sendiri
berdekatan dengan Pantai Parangtritis. Selain keindahannya, disini juga
terkenal dengan wisata kulinernya, terutama masakan ikan segar yang langsung
bisa dibeli setiap kapal nelayan berlabuh, karena di pantai ini juga ada tempat
pelelangan ikan (TPI). Selain bisa dibawa pulang, ikan segar yang baru turun
dari kapal ini bisa langsung dimasak di tempat, karena di pantai ini banyak
berjejer warung yang menyediakan jasa pengolahan ikan.
a. Permasalahan yang timbul jika ditinjau dari sudut pandang ekonomi
Pantai
Depok memiliki suatu daya tarik tersendiri di bandingkan pantai lainnya. Pantai
ini memiliki tempat pelelangan ikan tersendiri, sehingga wisatawan dapat
merasakan atau menikmati ikan segar yang baru di tangkap oleh nelayan. Kegiatan
perekonomian di pantai ini pun perlahan mulai bangkit seiring perkembangan
pariwisata di pntai ini. Masyarakat sekitar pantai ini bisa membuka lapak
berupa makanan seperti seafood, atau makanan pelepas dahaga setelah bermain di
pantai.
b. Masalah yang timbul dalam bidang
Sosiologi dan Antropologi
Dalam
kajian ilmu sosiologi, masalah yang timbul di pantai depok ini berupa adanya
kesan kumuh ketika memasuki wilayah pantai yang satu ini. Kesan kumuh ini
memang biasa timbul jika kita berada di wilayah nelayan. Selain itu, pantai
yang berbatasan langsung dengan laut selatan ini masyarakatnya masih memegang
teguh adat, tradisi dan mitos yang beredar di wilayah tersebut. Seperti masih
adanya tradisi “nadran” atau sedekah laut.
c. Masalah yang timbul dalam bidang kajian
ilmu Geografi
Pantai
depok merupakan salah satu pantai yang memiliki dataran landai sedikit curam,
pantai pasir dengan angin yang cukup kuat dan ombak yang cukup tinggi. Terutama
jika musim penghujan tiba. Hal ini membuat para nelayan tidak dapat melaut
sehingga pendapatan mereka tidak menentu.
BAB
III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Indonesia merupakan sebuah
negara dengan berbagai macam budaya dan kesenian yang sangat mempesona mata
dunia. Salah satu kota tujuan pariwisata di Indonesia adalah kota Yogyakarta.
Kota yang di identikkan dengan kota yang penuh kenangan akan sejarah dan budaya
ini senantiasa mengundang wisatawan tiap tahunnya. Baik dari wisatawan lokal
maupun wisatawan asing.
Objek wisata yang di tawarkan oleh kota Yogyakarta ini banyak
mendapat perhatian dan minat dari para pengunjung yang juga menimbulkan geliat
dan gairah kehidupan masyarakat sekitarnya.Adanya para wisatawan dan minat
usaha yang besar dari para pedagang akan mempengaruhi perilaku social ekonomi
yang tampak dari cara-cara dan aktivitasaktivitas pedagang dalam kegiatan ekonomi
mereka sebagai pedagang. Sehingga, permasalahan yang muncul pun tidak dapat di
pungkiri pasti akan terjadi, terutama jika kita tinjau dari sudut pandang
ilmu-ilmu sosial.
Daftar Pustaka
·
Heryanto, mas fredy. 2009. Mengenal Kerton
Ngayogyakarta Hadiningrat. Yogyakarta:warna mediasindo
·
http://eprints.undip.ac.id/26802/
di akses tanggal 18 desember 2011
·
http://eprints.ums.ac.id/1234/1/4-FG-23-1-2009-baiquni.pdf
di akses tanggal 18 desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)






