Minggu, 11 Agustus 2013

Romantisme Sepucuk Surat


Penulisan ini bukanlah untuk menyambut hari pos sedunia yang jatuh pada tanggal 9 Oktober, melainkan Ide penulisan ini berawal dari saya yang sedang membongkar dan membereskan barang-barang lama, tanpa sengaja saya menemukan sebuah kardus coklat yang ternyata berisi surat. Bukan punyaku tentu saja, melainkan milik Ayah dan ibuku ketika mereka masih remaja dan masih menjalin hubungan jarak jauh dulu.
Surat sendiri sebagai alat penyampai pesan konon sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Tetapi disini saya tidak akan membahas mengenai sejarah tersebut melainkan sisi sentimentil dan klasik yang dimiliki sepucuk surat, untuk lebih lengkap mengenai sejarah surat silahkan baca saja sejarah persuratan di Mesir, Persia, India, atau China. Surat merupakan sarana penyampai pesan secara tertulis dengan menggunakan jasa pengiriman, mulai dari yang paling kuno yakni menyampaikan surat atau pesan dengan penunggang kuda, merpati pos, maupun dengan pos modern seperti sekarang.
Unik memikirkan bagaimana sepucuk surat dapat menyampaikan berbagai hal tanpa dibatasi karakter layaknya pesan singkat atau SMS, murah jika dibandingkan layanan email, terkesan klasik dan memiliki sentuhan sentimentil di dalamnya. Jika dilihat dari sudut pandang zaman sekarang, tentunya surat sudah bukan lagi alat penyampai informasi atau berkirim pesan yang utama, bahkan sebagian orang berpendapat bahwa hal ini sudah ketinggalan zaman dan kuno.
Surat memiliki dua jenis, yakni:
1.       Surat resmi
2.      Surat pribadi (tidak resmi)
Selain itu, surat juga memiliki berbagai fungsi, seperti diantaranya:
1.       Penyampai informasi
2.      menyampaikan permintaan tertentu
3.     ungkapan ide dan gagasan
4.     Alat bukti tertulis
5.      pedoman kerja, dan lainnya.

Menurut saya pribadi, surat dalam hal ini surat pribadi juga merupakan media historis dan pengingat kenangan yang tak lekang oleh waktu. Buktinya, ketika saya menemukan surat ayah dan ibu dulu walaupun kini ibu sudah pergi, ayah tetap bisa mengingat bagaimana ketika beliau menulis surat tersebut, bagaimana beliau harap-harap cemas menantikan balasan suratnya, bagaimana mereka saling menunggu kabar satu sama lain, bagaimana dengan cemasnya mereka berfikir “apakah suratnya sampai?”, ini merupakan potongan-potongan kenangan kecil yang sebenarnya tak kasat mata tetapi jika diingat benar ternyata memiliki nilai sentimentil dan sisi romantismenya sendiri.
Selain itu, tentunya semua orang menyadari bukan bahwa bahasa tulisan memiliki nilai artistik tersendiri jika dibandingkan dengan bahasa lisan? Dengan menulis surat, kita bisa melatih kemampuan berbahasa kita, tidak seperti SMS yang memiliki prinsip “lebih singkat lebih baik”, surat tidak terbatas pada karakter penulisan, dan tentunya menyenangkan jika berada dalam penantian datangnya sepucuk surat khususnya dari orang terkasih.
Jadi, mari menulis surat untuk orang-orang terkasih  J

Cirebon, 11 Agustus 2013

Rabu, 07 Agustus 2013

Catatan Akhir Ramadhan


Bismillahirrahmanirrahiim
Seperti yang kita tahu (untuk umat muslim)
Dalam satu hari ada waktu istimewa, yakni di sepertiga malam terakihr
Dalam satu minggu ada satu hari istimewa, yakni pada hari jum’ah
Dan dalam satu tahun ada satu bulan istimewa, yakni bulan Ramadhan
 
Alhamdulillahirabbil ‘Alamiin, puji syukur tak pernah putus saya panjatkan ke hadirat Allah SWT yang masih memberikan kami kesempatan beribadah dan mengabdi pada-Nya dan mempertemukan kami dengan bulan suci nan berkah ini, bulan Ramadhan.
Tulisan ini ditulis pada malam terakhir di bulan Ramdhan 1434 Hijriyah, malam terakhir di bulan dengan penuh keberkahan dan limpahan maghfirah serta nikmat yang diberikan secara spesial dari-Nya. Bualn dengan satu malam khusus yang lebih baik dibandingkan seribu bulan, malam Lailatul Qadar. Malam ini kedatangannya disembunyikan secara khusus oleh Allah dan hanya dengan kode “satu malam di malam-malam ganjil terakhir di bulan Ramadhan” saja sebagai pemecah kuncinya serta beberapa pendapat ulama mengenai ciri-ciri fisik kedatangannya. Satu malam hadiah penuh limpahan Rahmat dari-Nya.
Ramadhan tahun ini terasa berlalu dengan begitu cepat, esok (atau pagi ini) adalah hari terakhir kami menjalani ibadah Shaum Ramadhan di tahun ini.
Sementara itu, apa yang telah saya dapat?
Apa yang telah saya lakukan?
bagaimana kualitas ibadah kita di Ramadhan tahun ini?
apakah lebih baik dari tahun kemarin?
Goresan tinta emas kah yang kita tuliskan kali ini?
Atau malah tinta hitam yang mencoreng kesucian bulan ini?
Shaum kita mungkin full, tapi bagaimana dengan pahala puasanya?
semoga kita tidak termasuk golongan yang hanya mendapat haus, lapar dan dahaga saja. Amiiin..
Rasanya masih banyak sekali kekhilafan yang saya lakukan bahkan di bulan Ramadhan tahun ini. Rasanya belum puas jika Ramadhan tahun ini akan berakhir begitu saja, masih ada satu hari tersisa. Target memang sudah tercapai, hanya saja rasanya masih tetap ada yang kurang dan tidak sempurna. Bahkan mungkin saya merasa saya merugi tahun ini karena Ramadhan tahun lalu terasa lebih baik dibandingkan tahun ini. Tak akan saya biarkan satu hari terakhir ini berjalan dengan sia-sia.
Semoga saya dipertemukan dengan Ramadhan-ramadhan di tahun tahun berikutnya untuk menebus kekurangan saya di ramadhan tahun ini, Amiiin..

Taqoballahu minna wa minkum, Minal aidin wal Faidzin, mohon maaf lahir Bathin.

Selamat tinggal bulan penuh berkah, sampai jumpa jika diberi umur dan kesempatan di tahun depan.

Dan selamat datang hari nan fitri, hari kemenangan, hari kebebasan..
Alhamdulillahirabbil ‘Alamiin..

Cirebon, 07-8 2013. 0:10 WIB

Sabtu, 03 Agustus 2013

Tentang hobi #1


Salah satu hobi saya yang tak pernah bisa saya lepaskan sejak kecil adalah dalam dua hal, yakni dalam hal musik dan buku. Dua hal ini lah yang bisa melupakan dan mengalihkan perhatian saya dari hal lainnya, mereka layaknya sahabat yang selalu ada untuk saya. Dari ketertarikan saya terhadap membaca buku, muncullah ketertarikan saya yang lain, yakni menulis.
Sejak kecil, budaya membaca memang sangat dekat dengan kehidupan saya, ketika kawan-kawan seusia saya menghabiskan waktunya dengan bermain atau menonton tv saya justru menghabiskan waktu saya dengan buku. Itulah salah satu alasan mengapa saya menjadi tertutup. Di keluarga saya senantiasa diajarkan untuk membaca kembali pelajaran yang di dapat di sekolah dan membaca bahan ajar untuk hari berikutnya. Kemudian semakin berkembang dengan ketertarikan saya membaca komik, cerpen, majalah, cerbung, novel, hingga buku-buku sejarah.
Topik-topik yang sangat saya gemari dalam hal membaca adalah topik sejarah, petualangan serta mysteri. Mungkin ketiga topik ini tidak begitu lazim dibaca oleh wanita seumuran saya yang pasti lebih tertarik pada hal-hal berbau romance. Padahal, dipikiran saya cerita-cerita romantis seperti itu sangat membodohi pembacanya, menjual angan-angan semu nan indah kepada pembaca, dimana pertemuan senantiasa diawali dengan ketidaksengajaan, teman masa kecil ataupun orang yang awalnya bermusuhan. Lalu akhirnya, bisa ditebak bukan? Yah, happy ending. Sementara dikehidupan nyata perjalanan hidup tidak semudah itu. Kenapa saya tahu alur dan cerita yang lazimnya ada dalam buku-buku bernuansa romantis? Tentu saja karena saya pun pernah punya ketertarikan pada hal tersebut, cukup bagus juga untuk meningkatkan mood yang mungkin sedang turun drastis. Tetapi saya lebih memilih buku-buku motivasi atau religi untuk meningkatkan mood tersebut.
Buku sejarah sebagai salah satu ketertarikan saya didasari atas peristiwa sejarah yang bersifat sangat subyektif, dimana seseorang yang menjadi pahlawan dalam satu pandangan bisa saja menjadi penjahat pada sudut pandang yang lain. Selain itu, sejarah merupakan sebuah misteri, dimana peristiwa yang ada belum tentu sama persis dengan apa yang kita baca. Hal ini tentu saja menarik perhatian saya karena dengan itu pembaca seharusnya bijak untuk tidak menelan bulat-bulat informasi yang didapat dari satu sumber buku saja melainkan harus memperbanyak dan memperkaya khasanah bacaan, melihat dari segala sudut pandang, menarik kesimpulan dan mungkin bisa saja membuat suatu hipotesa baru bukan?
Sejarah Indonesia yang walaupun berusia masih muda jika dibandingkan sejarah China atau Amerika ternyata memiliki suatu medan magnet tertentu yang menarik perhatian pembaca dan penikmat sejarah, bagaimana awal mula terbentuknya “Indonesia” dari berbagai kerajaan-kerajaan di Indonesia, peran tangan-tangan kolonial, intrik kekuasaan, perjalanan negara ini setelah kemerdekaan, perkembangan Indonesia dalam berbagai hal dan asspek kehidupan sangat menarik perhatian pembaca dan pecinta sejarah. Hal ini dikarenakan penulisan sejarah sangat dipengaruhi oleh siapa penulis sejarahnya dan sejarah hanya ditulis oleh para pemenang dan pemenang adalah siapa yang bertahta dalam politik dan kekuasaan di negeri tersebut. Seringkali saya temukan versi sejarah yang berubah mengikuti perubahan orde yang berkuasa.
Sebenarnya saya tidak perlu memberikan analisis mendalam darimana spekulasi saya ini berasal, karena hal ini tentunya sudah menjadi rahasia umum yang semua orang mungkin saja tahu dan alasan lain karena saya tidak ingin dicap sebagai salah satu orang yang beraliran satu atau beraliran dua, saya hanya ingin meberikan informasi yang saya tahu dan yang sesuai denga kapasitas saya sebagai mahasiswa. Tetapi jika dapat saya berikan gambaran atau contohnya, kita ambil saja buku berjudul Api Sejarah karya Bapak Ahmad Mansur Suryanegara yang memberikan pandangannya tentang peran para ahli ulama dalam kemerdekaan Indonesia, dimana beliau merasa penulisan sejarah “resmi” tidak mencakup menyeluruh karena tidak menuliskan peran dari orang-orang yang turut berperan dibalik usaha pencapaian kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan Indonesia (Dalam hal ini beliau menonjolkan peran ulama). Kesubjektivitasan sejarah pun bisa dilihat dari buku yang berjudul Saling Silang Indonesia Eropa:dari diktator, musik hingga bahasa karya Bapak Joss Wibisono yang menuliskan mengenai pengaruh Indonesia terhadap budaya Eropa maupun pengaruh Eropa terhadap budaya Indonesia dari beberapa segi (politik, musik dan bahasa). Hanya saja, dari buku ini terlihat bahwa penulis cenderung mengambil sudut pandang Eropa (Belanda), hal ini tentu saja dapat dimaklumi karena penulis memang sempat tinggal di benua tersebut sejak tahun 1987.
Pembenaran sejarah yang terlalu dipaksakan. Puing-puing serta serpihan kesamaan dari berbagai segi yang dipaksa untuk terangkai, dipaksa untuk tersusun menjadi satu kesimpulan. Gambaran puzzle kebenaran yang kurang tepat dan tidak pada tempatnya.
Bukti-bukti sejarah yang ada belum tentu benar, karena bukti dan fakta pun bisa saja menipu. Justru hal yang luput dari pandangan mata seringkali menjadi kebenaran yang sesungguhnya. Dapat diambil kesimpulan dari beberapa buku yang saya baca adalah kebenaran yang ada dan tertulis belum tentu benar tetapi kebenaran sudah pati ada.
Cirebon, 3 Agustus 2013 10:11