Penulisan ini bukanlah untuk menyambut
hari pos sedunia yang jatuh pada tanggal 9 Oktober, melainkan Ide penulisan ini
berawal dari saya yang sedang membongkar dan membereskan barang-barang lama, tanpa
sengaja saya menemukan sebuah kardus coklat yang ternyata berisi surat. Bukan punyaku
tentu saja, melainkan milik Ayah dan ibuku ketika mereka masih remaja dan masih
menjalin hubungan jarak jauh dulu.
Surat sendiri sebagai alat penyampai
pesan konon sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu. Tetapi disini saya
tidak akan membahas mengenai sejarah tersebut melainkan sisi sentimentil dan
klasik yang dimiliki sepucuk surat, untuk lebih lengkap mengenai sejarah surat
silahkan baca saja sejarah persuratan di Mesir, Persia, India, atau China. Surat
merupakan sarana penyampai pesan secara tertulis dengan menggunakan jasa
pengiriman, mulai dari yang paling kuno yakni menyampaikan surat atau pesan
dengan penunggang kuda, merpati pos, maupun dengan pos modern seperti sekarang.
Unik memikirkan bagaimana sepucuk
surat dapat menyampaikan berbagai hal tanpa dibatasi karakter layaknya pesan
singkat atau SMS, murah jika dibandingkan layanan email, terkesan klasik dan
memiliki sentuhan sentimentil di dalamnya. Jika dilihat dari sudut pandang
zaman sekarang, tentunya surat sudah bukan lagi alat penyampai informasi atau
berkirim pesan yang utama, bahkan sebagian orang berpendapat bahwa hal ini
sudah ketinggalan zaman dan kuno.
Surat memiliki dua jenis, yakni:
1. Surat resmi
2. Surat pribadi
(tidak resmi)
Selain itu, surat juga memiliki berbagai fungsi,
seperti diantaranya:
1. Penyampai
informasi
2. menyampaikan
permintaan tertentu
3. ungkapan ide
dan gagasan
4. Alat bukti
tertulis
5. pedoman kerja,
dan lainnya.
Menurut saya pribadi, surat dalam hal
ini surat pribadi juga merupakan media historis dan pengingat kenangan yang tak
lekang oleh waktu. Buktinya, ketika saya menemukan surat ayah dan ibu dulu walaupun
kini ibu sudah pergi, ayah tetap bisa mengingat bagaimana ketika beliau menulis
surat tersebut, bagaimana beliau harap-harap cemas menantikan balasan suratnya,
bagaimana mereka saling menunggu kabar satu sama lain, bagaimana dengan
cemasnya mereka berfikir “apakah suratnya sampai?”, ini merupakan potongan-potongan
kenangan kecil yang sebenarnya tak kasat mata tetapi jika diingat benar
ternyata memiliki nilai sentimentil dan sisi romantismenya sendiri.
Selain itu, tentunya semua orang
menyadari bukan bahwa bahasa tulisan memiliki nilai artistik tersendiri jika
dibandingkan dengan bahasa lisan? Dengan menulis surat, kita bisa melatih kemampuan
berbahasa kita, tidak seperti SMS yang memiliki prinsip “lebih singkat lebih
baik”, surat tidak terbatas pada karakter penulisan, dan tentunya menyenangkan
jika berada dalam penantian datangnya sepucuk surat khususnya dari orang
terkasih.
Jadi, mari menulis surat untuk
orang-orang terkasih J
Cirebon, 11 Agustus 2013