Senin, 30 Desember 2013

Demokrasi oh Demokrasi #1


Pemilihan Kepala Daerah sejatinya menjadi ajang pesta demokrasi masyakarat daerah tersebut, masyarakat diberi hak bebas dan secara langsung memilih kepala daerah yang kelak akan memimpinnya selama 1 periode pemerintahan. Suatu konsep yang merupakan adopsi dari Demokrasi yang diterapkan Yunani, dimana juga didalamnya terselip suatu makna intrinsik agar masyarakat mengenal secara langsung calon yang akan dipilih, mempelajari, mengamati serta menganalisis calon pemimpinnya kelak. Tapi pertanyaannya adalah: sudah siapkah masyarakat kita dengan sistem sesempurna itu?


Penulis mengambil contoh dari 2 pemilihan yang berlangsung di daerah penulis yang diadakan secara langsung, yakni pemilihan ketua Desa serta pemilihan Bupati. Dari kedua sampel pemilihan tersebut, masih ditemukannya kecurangan-kecurangan dan keanehan yang mewarnainya. Dalam pemilihan kepala desa misalnya, 1 hari sebelum pemilihan tim sukses dari salah satu calon tak segan-segan berkunjung ke rumah warga (bukan hanya sekedar untuk memohon doa restu) dari warga, melainkan juga memberikan sejumlah uang yang bagi saya pribadi sebagai warga desa tersebut terbilang cukup besar. 50 ribu rupiah! Dan dihitung bukan perkepala keluarga, melainkan per kepala pemilih.


Lain pemilihan kepala desa, lain pula pemilihan bupati. Sore hari sebelum pemilihan, segelintir orang membagikan beberapa bungkus mi instan kepada kepala keluarga. Ketika saya coba tanyakan kepada pihak terkait, mereka menjawab bahwa mi tersebut merupakan jatah warga dari calon nomor sekian yang pembagiannya secara merata kepada seluruh warga. Hanya saja ternyata beberapa kepala keluarga tidak turut terbagikan mi tersebut (keluarga saya contohnya) hanya karena keluarga kami dianggap pro kepada calon yang lain. Begitupun dengan beberapa keluarga di blok tempat tinggal kami, semoga ini bukan dianggap salah satu bentuk protes karena tidak mendapatkan mi instan tersebut.


Lalu, apa yang dilakukan oleh kaum elit terpelajar di desa saya? Saya pribadi termasuk golongan mahasiswa merasa malu karena tidak dapat berbuat apa-apa. Payah sekali. Hanya bisa menyaksikan kebusukan yang begitu jelas dan nyatanya diwajah saya, dihadapan mata saya sendiri. Lebih parah lagi, beberapa orang yang juga termasuk ke dalam golongan kaum terpelajar ini pun turut serta menyukseskan kegiatan pembagian gelap tak jelas darimana asal dananya tersebut.


Jadi apakah suara murni masyarakat yang seharusnya tersampaikan berubah menjadi suara kebusukan karena diiming-imingi uang 50 ribu rupiah dan bahkan 4-5 bungkus mi instan? Lalu bagaimana dengan independensi mahasiswa yang begitu digadang-gadang dan dipercaya sebagai controller? Apakah juga dengan mudahnya tergadaikan jika dihadapkan pada hal-hal berbau materi dan politik praktis? Jika mahasiswanya saja tidak cerdas, lalu bagaimana dengan masyarakat awam?


Sejatinya, sebelum menghadapi Pemilu 2014 yang merupakan pesta demokrasi bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, cerdaskanlah masyarakat agar tidak terjebak pada fenomena politik praktis yang begitu biasa dan dianggap normal dijalankan. Suatu sifat permissif yang sangat tidak patut jika dibiarkan berlarut-larut. Semoga Jaya Selalu, Indonesiaku.








Hanya ada dua pilihan jika seseorang dihadapkan pada situasi seperti ini


Menjadi apatis atau mengikuti arus


Bersyukurlah karena masih ada pilihan yang lain


Menjadi manusia bebas.


-Soe Hok Gie.





Cirebon, 30 Desember 2013



Rabu, 18 Desember 2013

Kutipan catatan seorang demonstran #1



Kutipan-kutipan dibawah ini merupakan rangkaian kalimat inspiratif pembuka pikiran, membuka pemahaman cakrawala, sebuah guncangan dan penyadaran akan kondisi kehidupan dan bagaimana realita yang sebenarnya dialami oleh Bumi Pertiwi berdasarkan pandangan seorang pemuda, seorang revolusioner dalam pemikirannya, seorang pemuda yang menggolongkan dirinya terlepas dari sikap apatis dan ikut arus, melainkan menyebut dirinya sebagai “Manusia Bebas”. Sebuah cuplikan kata-kata penuh makna dari sebuah buku semi-Biografi tentang Soe Hok Gie yang diterbitkan berdasarkan catatan-catatan hariannya di masa pergolakan. Semoga apa yang beliau alami hanya terjadi pada masa beliau, semoga seluruh keruwetan pemikiran dan kegalauan perasaannya hanya berlaku ketika masanya, semoga kerusuhan dan demoralisasi yang beliau ceritakan tidak kembali terulang dan bukan cerminan dari kondisi bangsa saat. Ini. Yah, semoga.
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan
Yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu.
Bahagialah mereka yang mati muda.
Soe Hok Gie
Kutipan di atas merupakan salah satu kutipan yang cukup terkenal, utamanya dikalangan para mahasiswa. Dari kutipan diatas, terlihat bagaimana keputusasaan dan frustasi yang dialami oleh beliau melihat kelam da kelabunya kehidupan yang didominasi oleh golongan kaum elit politik yang melupakan amanah dan tanggung jawab mereka sebenarnya. Walaupun kutipan tersebut merupakan sebuah ungkapan keputusasaan, tetapi kekeputusasaan yang dirasakan bukanlah menjadi alasannya untuk diam tak bergerak, mengambil sikap apatis dan hanya diam menunggu waktu kehancuran yang ia khawatirkan datang, melainkan sebuah keputusasaan yang membangkitkan semangat pergerakannya, menumbuhkan jiwa kedinamisannya, sebuah keprihatinan yang menggelitik hatinya untuk melakukan sesuatu. Sejatinya, kutipan tersebut merupakan Sebuah kutipan yang merupakan plesetan dari seorang filsuf Yunani, Friedrich Nietzsche dari adegan ketika Midas bertanya kepada Silenus tentang nasib mana yang terbaik bagi manusia; maka Silenus menjawab: “Hai Bangsa malang, anak-anak bencana dan duka, mengapa aku mengucapkan sesuatu yang sebaiknya dipendam tak dikatakan? Yang terbaik berada diluar jangkauan –tidak dilahirkan, menjadi tiada. Nomor dua adalah mati muda”.
Dalam pendahuluan yang ditulis oleh Daniel Dhakidae, beliau mencoba membandingkan antara pemikiran seorang Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib yang keduanya bertitik tolak pada dasar pemikiran yang berbeda, seorang yang berjiwa sekuler dan religius namun dipertemukan pada satu titik temu tentang kemanusiaan dan berbicara tentang moralitas bangsa yang ketika saat itu dirasa memprihatinkan.
Aku bukan Nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis, aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin bahwa orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok ana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Ahmad Wahib.
Aku bukan Hatta, bukan Soekarno, bukan Sjahrir, bukan Natsir, bukan Marx dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan... aku bukan Wahib.
Aku bukan Wahib, Aku adalah me-Wahib. Aku mencari dan terus menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus menerus berproses menjadi aku. Ahmad Wahib.
Dari tulisan-tulisan Ahmad Wahib diatas, terlihat bahwa hidupnya bukanlah hidup untuk menjalani hidup menjadi dirinya yang saat itu. Melainkan hidup untuk menjalani hidup dalam proses mencari arti kehidupannya. Beliau tidak puas untuk hidup hanya menjadi dirinya ketika itu. Melainkan menginginkan kondisi yang lebih, lebih baik dari sebelumnya. Dari tulisan-tulisannya, terlihat bagaimana pemikiran mendalamnya tentang kehidupan yang memang pada hakikatnya merupakan sebuah proses pembelajaran.
Kemudian kita beranjak pada reaksi Soe Hok Gie tentang pendapat bahwa hidup berasal dari harapan-harapan:
Tapi sekarang aku berpikir sampai dimana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi datkah dia berkorban buat tidak apa-apa? Aku sekarang tengah terlibat dalam pemikiran ini. Sangat pesimis, dan hope for nothing. Aku tidak percaya akan suatu kejujuran dari ide-ide yang berkuasa, aku tak percaya Tuhan... tetapi aku sekarang masih mau hidup. Aku tak tahu motif apa yang ada dalam unconscious mind-ku sendiri.
Pandanganku yang agak murung bahkan skeptis ini pernah dinamakan sebagai destruktif,... tetapi bagaimana bila memang hidup adalah keruntuhan demi keruntuhan? Apakah kita harus berpaling dari fakta-fakta ini? Aku kira tidak, ... makin aku belajara sejarah, makin pesimis aku, makin lama maikn kritis dan skeptis terhadap apa pun. Tetapi tentu ada suatu motif mengapa aku begini. Memang life for nothing agaknya sudah aku terima sebagai kenyataan.
Lalu, lihatlah bagaimana pandanganya tentang generasi tua ketika ia menemukan fenomena yang memprihatinkan dimana seorang (bukan pengemis) yang tengah memakan kulit mangga hanya pada jarak dua kilometer dari istana negara:
Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua, seperti (nama pejabat-pejabat tinggi,red). Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia.
Indonesia sekarang turun, dan selama tantangan sejarah belum dapat dijawabnya, ia akan hancur. “Tanahku yang malang”. Harga barang membubung, semua makin payah. Gerombolan menteror. Tentara menteror. Semua menjadi teror.
Siapakah yang bertanggung jawab atas hal ini? Mereka generasi tua: Soekarno, Ali Iskak, Lie Kat Teng, Ong Eng Die, semuanya pemimpin-pemimpin yang harus ditembak di Lapangan Banteng. Cuma pada kebenaran masih kita harapkan. Dan radio masih berteriak-teriak menyebarkan kebohongan. Kebenaran Cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu. (Kamis, 10 Desember 1959)
Betapa sebuah pemikiran yang radikal dan mendalam atas keprihatinannya pada kondisi dan keadaan bangsa saat ini. Suatu ironi yang terjadi akibat adanya ketimpangan yang begitu besar dan jurang perbedaan yang begitu dalam. Sebuah tembok pemisah yang begitu lebar, tebal dan sulit untuk ditembus.
Di catatan lain, Gie menulis pemikirannya tentang pembukaan jurusan publisistik yang dihadiri oleh presiden sekaligus sambutannya. Reaksi dari kecenderungan dan keberpihakan pers terhadap pemerintah yang tidak menjalankan tugas dan ketidaksesuaian fungsinya yang seharusnya berfifat netral dan mengabarkan hal-hal yang bersifat obyektif:
Kita dininabobokan bahwa produksi padi naik, produksi kain maju, gerombolan dikalahkan dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi rakyat akan bertanya: mengapa beras mahal, ini mahal dan lain-lain. Buat apa kita menggambarkan bla gambaran tadi tidak sesuai dengan kenyataan? Apakah tugas pers seperti Domei yang mengabarkan yang muluk-muluk? Lihat, Jepang kalah juga oleh berita-berita yang salah.
Seseorang yang berani menyerang koruptor-koruptor lalu ditahan tanpa sebab. Mochtar Lubis ditahan tanpa alasan. Haria Rakyat diberangus karena berani memuat tulisan yang tida menguntungkan pemerintah. Saya buka seorang Komunis, tapi pembengarusan Harian Rakyat adalah pelanggaran terhadap Demokrasi. Dan kita, rakyat sedang dibawa ke kediktatoran. Kita merayakan hak-hak azasi tetapi kita merobek-robek hak-hak tadi. Kita memuji demokrasi tetapi memotong lidah seseorang kalau berani menyetakan pendapat yang merugikan pemerintah. (Sabtu, 12 Desember 1959)
Di hari lain, adapula rekasi yang Gie berikan mengenai berita tentang hukuman mati atas diri Sa’adon, Tasrif dan Jusuf Ismail yang sejujurnya untuk saya sendiri pun tak mengenal dan asing akan nama-nama ini:
Delapan puluh juta rakyat Indonesia mengacungkan tangan menanti harapan atas revolusi ’45. Dan mereka sia-sia menanti. Mereka hidup melarat dan pemimpin-pemimpin seperti Soekarno hidup mewah. Dan rakyat yang telah berjuang itu telah dikhianati oleh pemimpin-pemimpinnya. Kaum intelek takut terhadap kenyataan. Dan ketiga “pahlawan bagi dirinya sendiri” telah berani dan melakukan penggranatan. Merekalah abdi rakyat, dan mereka diperlukan oleh Lubis cs. Merekalah yang menguasai amanat “penderitaan rakyat” dan terdorong oleh rasa tanggung jawab terhadap 80 juta, melakukan perbuatan itu.
Tiga orang berjalan
Maut makin mendekat
Dan sebuah jalan buntu dimuka
Maut makin mendekat
Ia mengemis, meminta hidup
Tapi “beliau” menolaknya.

Masyarakat Borjuis
Buat L.B.S.
Ada suatu yang patut ditangisi
Aku kira kaupun tahu
Masyarakatmu, masyarakat brjuis
Tiada kebenaran disana
Dan kalian selalu menghindarinya

Aku selalu serukan (dalam hati tentu)
“wahai, kaum proletar sedunia”
Berdoalah untuk masyarakat borjuis.

Ada golongan yang tercampak dari kebenaran
Dan berdiri di atas nilai kepalsuan
Aku kira, tiada bahagia disana
Sebab tiada kasih, kebenaran dan keindahan
Dalam kepalsuan
Aku akan selalu berdoa baginya
(aku sendiri tak percaya pada doa, maaf)
Aku kira anda tiada kenal kasih
(nafsu tentu ada)
Apakah bernilai dengan uang
Dan padamu, kawan
Semua adalah uang, perhitungan saldo
Tiada yang indah dalam kepalsuan
(engkau tentu yakin?)
Di sinilah a moral ditutup oleh a moral
Disinilah tabir-tabir yang terlihat
Dan seringkali aku bersepeda sore-sore
Bertemu dengan gadismu (borjuis pula)
Aku begitu sedih dan kasih
Aku begitu sedih dan kasih
Ya, Tuhan (aku tek percaya Tuhan)
Berilah mereka kebenaran
Aku tabu
Gadis cantik di mobil, bergaun abu-abu
Tapi bagiku tiada apa. (Minggu, 12 Juni 1960)

Dalam catatannya pada Sabtu, 18 Juni 1960, bahkan seorang pastor pun tak luput dari kritikan pedasnya, berikut ini catatannya:
Dahulu aku kira pastor-pastor adalah kelas rakyat, dia adalah satu dengan rakyat. Tetapi setelah aku masuk (sekolah) Kanisius, kesanku berubah. Pastor-pastor itu adalah kelas baru. Kelas yang berkuasa dalam agama. Ia adalah yang memonopoli kebenaran. Lihat saja cara hidupnya: mewah dan menjilat-jilat kepada golongan yang berkuasa.

Kamis, 28 November 2013

Laporan kegiatan Harmoni nusantara



Harmoni Nusantara merupakan salah satu kegiatan pentas seni dan budaya yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia yang dilalksanakan tepatnya pada tanggal 22 November 2013 pukul 19.30-22.00 WIB.
Harmoni Nusantara sebagai salah satu rangkaian agenda dalam kegiatan yang dilaksanakan atas kerjasama UPI dengan kementerian Perekonomian ini menampilkan berbagai seni tradisional dari daerah-daerah yang merupakan representasi dari Indonesia sebagai suatu negara kepulauan yang memiliki kekayaan tradisi dan budaya tiada duanya dengan berbagai macam ras, suku bangsa serta etnis didalamnya.
Acara ini dimulai pukul 19.30 dengan menampilkan suatu kabaret yang mencoba untuk menunjukkan masalah-masalah atau problema kehidupan dan dikemas dengan menarik dalam adat budaya Sunda. Berikutnya, penampilan dari Paduan suara yang membawakan berbagai macam lagu daerah mulai dari Jawa Barat, Kalimantan Barat, Papua, Ambon, Padang, dan Aceh. Lalu penampilan monolog yang menanpilkan dan menggambarkan perjuangan merebut serta kritik sosial dalam mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Seorang pria masuk dan mencoba menampilkan lagu Satu Nusa Satu Bangsa menggunakan Biola, tetapi senantiasa salah hingga akhirnya ia frustasi dan membanting biola tersebut. Dilanjutkan dengan seorang pria yang masuk membawa bendera Merah Putih dan berperan layaknya seorang prajurit di tengah rentetan suara pistol dan membacakan Proklamasi Indonesia, kemudian ia menyalakan lilin di atas panggung sembari menyanyikan lagu Satu Nusa Satu Bangsa tetapi kemudian ia pula mematikannya dengan tangannya sendiri, sambil menggumamkan masalah-masalah yang masih ada selama 68 tahun umur Indonesia merdeka. Sebuah penampilan yang sederhana namun memiliki kesan dan pesan filosofis yang mendalam, menjadi suatu cerminan dalam kita merenungkan sejauh manakah kemerdekaan Indonesia ini kita rasakan.
Penampilan berikutnya menampilkan tarian daerah dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta dibawa dan Diajak berkeliling nusantara dalam balutan harmonisasi seni budaya tari,musik dan lagu tradisional. Mulai dari ujung Timur papua, sulawesi, Kalimantan, Bali, Jawa, Sunda, Padang hingga Ujung barat Aceh. Suatu penampilan tari yang benar-benar merepresentasekan kekayaan budaya Indonesia dengan segala nilai-nilai kearifan dan keeksotisan budayanya. Sebuah kebanggan tersendiri ketika melihat suatu suguhan budaya yang khas dan unik yang merupakan hasil atau karya otentik budaya Indonesia dalam suatu miniatur kegiatan dan acara.
Penampilan demi penampilan muncul satu persatu, Pupuh, lagu tradisional, tari tradisonal, hingga ada satu momen yang mengajak seluruh peserta mengekspresikan apa yang ia rasakan dengan diiringi hentakan musik dalam sentuhan tradisional yang harmonis dan konstan, membuat seluruh peserta terlihat menggerak-gerakkan badannya bahkan maju ke depan panggung dalam mengekspresikan emosinya diiringi alunan musik yang membius. Acara pun ditutup dengan menyanyikan suatu lagu daerah Jawa Barat, yakni Bubuy Bulan dengan sentuhan peralatan modern. Suatu acara yang menginspirasi dan mengaspirasi, membuka mata, pikiran dan hati kita bahwa Indonesia bukanlah hanya pulau Jawa, Indonesia bukan hanya Jawa Barat, disini merupakan tantangan kita bagaimana dalam menjaga kelestariannya seni dan budaya tradisional ini sendiri.

Bandung, 23 November 2013

Selasa, 05 November 2013

Sederhana namun bahagia

Judul diatas mungkin terkesan "klasik" sekali.
betapa tidak, banyak sekali yang sudah mengatakan dan menyetujui slogan tersebut.
disini saya ingin menyeritakan cerita "sederhana nan bahagia" milik saya sendiri.
Tentunya tak ada yang menyangkal bahwa kebahagiaan itu kita sendiri yang menciptakan, bukan?
Dan bagi saya, bahagia itu sederhana.
Memanfaatkan waktu libur bersamanya, Sebuah Quality time di sela kepadatan jadwal dan ritme padat diantara kami.
Tak muluk, hanya sekedar makan bersama, mencari hobi atau berdiskusi bersama.
Seperti yang kami lakukan hari ini, libur kali ini kami manfaatkan dengan membeli ikan hias di Tegallega, hunting buku di Kalapa dan makan bakso bersama serta Online di kampus berdua. sebatas itu.
Bersamanya merupakan salah satu momen yang indah dalam hidup saya.
Membuat saya merasa beban saya berkurang, ditanggung bersama.
Dan kini saya siap menghadapi hari esok, dengan langkah kaki yang ringan tentunya.

Walaupun akhir-akhir ini saya merasa kamimulai berlebihan, tetapi tak henti-hentinya kami mencoba menyederhanakannya kembali.
Jadi, bagaimana Sederhana Namun Bahagia Versi kamu? ^^
Terimakasih banyak. M.Y.

Bandung, 5 November 2013

Minggu, 13 Oktober 2013

Tentang Aku, Tentang Kamu, Tentang Kita

Aku, seorang wanita biasa yang tidak punya ketertarikan dalam hal apapun. menjalani hidup dengan "seadanya" dan hanya hidup untuk diri saya sendiri. senantiasa mencoba menjadi lebih baik, melangkah dari masa lalu. Menutup hati dan diri untuk siapapun, hidup untuk diri saya sendiri.

Kehidupan yang biasa. sungguh biasa. Orientasi hanya pada pendidikan. Aku, wanita biasa. bukan siapa-siapa.


Kamu, seorang laki-laki kharismatik yang juga mencoba melangkah di jalur yang sama, melangkah dari masa lalu. Pecinta organisasi, berpikiran luas dan berjiwa idealis. serius, pemikir dan memiliki visi. seorang yang saya anggap sebagai kakak yang senantiasa bisa diandalkan untuk sharing dan pemecahan masalah.


Lalu, kita bertemu pada satu titik yang sama, frekuensi yang sama, jalur yang sama. mencoba meleburkan kata aku dan kamu menjadi sebuah kata baru: KITA.

Kita pun mencoba melangkah bersama, saling membantu dan megulurkan tangan, saling tersenyum untuk menguatkan, saling menghapus trauma dan kebencian akan menjalin sebuah hubungan, saling berbagi cerita, saling berbagi kesedihan, saling berbagi semangat. menjadi penguat dan pengait untuk satu sama lain.

berjalan, melangkah, berlari bahkan tertatih bersama. tetaplah berada pada satu jalur yang sama, tetaplah menjadi pengemudinya.

Kita, mengibaratkan hidup ini sebagaimana perjalanan dengan mobil. Kamu, pengemudi yang telah menjelajah tahun-tahun dihidupmu menemukan dan memilih saya sebagai navigatormu, Jalanan ini sebagai waktu, jalan dibelakang adalah masa lalu, dan mobil ini sebagai kehidupan. tetaplah menembus jalan didepan yang masih begitu tebal dengan kabut, bersama saya. 


-M.Y.-

Cirebon, 13 Oktober 2013.

Jumat, 11 Oktober 2013

Mempercayakan atau terpaksa percaya"

Percaya, mempercayakan atau terpercayakan?

rasa percaya atau kepercayaan memang sulit sekali ditumbuhkan dan dimiliki khususnya kepada para pemimpin bangsa ini. jangankan sekelas bangsa, krisis kepercayaan terhadap pemimpin ternyata dirasakan pula oleh ruang lingkup yag lebih kecil. seperti organisasi mahasiswa, organisasi kelas bahkan pada diri kita sendiri. sekarang, cobalah bertanya pada diri anda sendiri, percayakah anda bahwa anda akan tetap pada pendirian anda ketika sedang menghadapi masalah dan intervensi dari berbagai pihak? rasa percaya memang kecil tetapi bermakna besar. rasa yang sulit dijabarkan namun jika dipegang dengan teguh maka memiliki makna yang besar baik dari segi kehidupan terkecil hingga bermasyarakat, bernegara dan dunia.

krisis kepercayaan seringkali berbanding lurus dan berkaitan erat dengan adanya krisis kepemimpinan. ketika dalam suatu organisasi mengalami krisis kepemimpinan dan hanya memiliki 1 atau 2 calon pemimpin. mau tidak mau dia atau salah satu dari merekalah yang akan menjadi pemimpinnya. terpilih atau tidak terpilih, memilih maupun tidak memilih maka hanya ada satu dari pilihan tersebut yang akan memimpin. terlebih lagi, Indonesia dengan sistem "Demokrasi voting" nya mengarahkan masyarakat untuk berfikir dan bertindak kolektif, hak-hak dan suara minoritas terpinggirkan sebaliknya suara mayoritas didengungkan bahkan terkesan dibesar-besarkan. lalu, sebelah mana Demokrasinya? mana keadilannya?

sudahlah lupakan masalah demokrasi yang jika dibahas akan jauh lebih panjang lagi dibandingkan maksud awal tujuan penulisan ini sendiri.

setelah terpilih salah seorang pemimpin, maka mu tidak mau, suka tidak suka rakyat atau bawahan harus percaya atau "terpaksa" mempercayakan tampuk kepemimpinan kepadanya. lalu, bagaimana jika celakanya orang yang terpilih (sengaja atau tidak sengaja) ini ternyata tidak berkompeten dan tidak profesional? Miris. sistem yang digadang-gadang sebagai sistem teragung nan sempurna di mata manusia ternyata tidak mampu menyempurnakan dirinya sendiri dalam penerapannya. jadi, kemanakah kepercayaan tersebut harus dibawa? haruskah kita tutup saja rasa percaya dan pengabdian tulus ini dan simpan rapat-rapat kedalam sebuah peti mati, simpan rapi dan berikan pita diatasnya? atau haruskah kita bermuka dua dengan menampilkan cantik dan eloknya diri kita yang dihiasi dengan kata-kata manis sementara perasaan kita sendiri sudah terkubur dalam sebuah lorong gelap yang disebut kematian? atau siapkah kita bersikap bijak dengan menerima keputusan forum dengan besar hati, mengabdi sepenuh hati. walaupun tidak dengan kontribusi fisik maupun materi, bukankah manusia dipersenjatai dengan senjata tercanggih di dunia yang bahkan mengalahkan sistem komputer paling canggih sekalipun? gunakan akal dan pikiran kita untuk senantiasa bersikap waspada, mengawasi, mengamati dan berikan saran serta kritik yangs ekiranya membangun untuk perbaikan di tahap berikutnya..

tentang manusia dan lingkungan


Manusia sebagai makhluk yang hidup dan berkembang dalam lingkungannya tentunya harus memperhatikan pula kelestarian lingkungan, bukan hanya sekedar mengeksploitasi keberadaannya dan sumber daya alam di dalamnya. Beberapa pendapat bahkan mengatakan bahwa sumber dari permasalahan lingkungan yang paling utama adalah manusia itu sendiri.
Lingkungan yang dihuni manusia sendiri pada umumnya ada dua macam, yakni lingkungan alam yang bersifat fisik dan lingkungan sosial yang merupakan tempat dimana manusia dengan hiruk pikuknya melakukan segala aktivitasnya.
Lingkungan alam sendiri memiliki berbagai macam bentukan dan terbagi lagi menjadi beberapa bagian seperti daratan dan lautan, ekosistem dengan segala kompleksitas makhluknya. Bumi sendiri disebut juga sebagai ekosistem besar yang terdiri dari berbagai komunitas, populasi dan interaksi antar biotik dan abiotiknya dengan berbagai permasalahan dan kompleksitas keseluruhan makhluknya
Alam diciptakan dengan segala keseimbangannya, berproses dan berdinamika mengikuti aliran waktu. Sistem dan hukum alam ini sedikit banyaknya terganggu dengan adanya manusia dan segala aktivitasnya. Ketimpangan keseimbangan ini memang bukan hanya disebabkan oleh manusia sebagai salah satu unsur pokoknya, tetapi juga bisa disebabkan oleh alam. Tetapi, pada kenyataannya manusialah yang berperan dominan sebagai salah satu perusak keseimbangan alam.
Pola iklim global yang mulai berubah, perubahan bentuk muka bumi, pergeseran penggunaan lahan, eksploitasi lahan yang tidak berkelanjutan yang pada akhirnya disadari ataupun tidak berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem ini sendiri.