Rabu, 03 Juli 2013

Sebuah Catatan Metamorfosa Pendidikan Indonesia



Jika Pendidikan di ibaratkan sebagai makhluk hidup, atau manusia misalnya maka Pendidikan di Indonesia adalah seorang Remaja yang mengalami keterlambatan pertumbuhan –jika tidak di katakan berketerbelakangan- hal ini di latarbelakangi oleh keadaan Pendidikan di Indonesia saat ini. Pendidikan di Indonesia sudah muncul sejak beratus tahun yang lalu, bahkan sebelum masuknya pengaruh asing di Indonesia seperti masuknya pengaruh Hindu-Buddha, islam atau pengaruh kedatangan bangsa Eropa di Indonesia.
Pendidikan merupakan suatu usaha atau upaya sadar untuk menyiapkan peserta didik. Pendidikan di Indonesia memang tidak di ketahui kapan muncul untuk pertama kalinya, pada awalnya pendidikan di anggap bukanlah cara untuk mengangkat derajat seseorang seperti status ekonomi atau keturunan. Seperti yang kita ketahui, pengangkatan raja pada zaman kerajaan-kerajaan di Indonesia awalnya dipilih berdasarkan siapa yang memiliki kehebatan lebih tinggi dari yang lain, setelah masuknya pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia pengangkatan Raja di dasarkan atas keturunan. Dapat terlihat pada masa itu pendidikan hanya dirasakan oleh anggota kerajaan, ilmu yang di ajarkan pun tentunya berbeda dengan apa yang kita pelajari saat ini dan tentu saja harus sesuai dengan perkembangan zaman saat itu. Pada masa kerajaan, pendidikan merupakan barang yang mahal harganya bagi rakyat jelata.
Setelah masuknya pengaruh islam di Indonesia, pendidikan yang awalnya dirasa mahal bagi rakyat biasa menjadi sesuatu yang tidak lagi di anggap hal yang mewah. Dengan sistem pondok pesantren yang diadopsi dari sistem asrama yang digunakan dalam mendidik para murid yang belajar agama Buddha. Setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan yang di sebabkan karena beberapa faktor baik faktor intern maupun faktor ekstern, pengaruh Eropa semakin menguat dalam kehidupan bangsa Indonesia.
Masuknya pengaruh Eropa ini akhirnya menjadikan penjajahan atau masa kolonial yang menempatkan Indonesia sebagai negara di bawah jajahan Belanda selama 350 tahun. Di tempatkan sebagai negara jajahan, tentunya rakyat pribumi tidak mendapatkan kesempatan bersekolah atau mengenyam pendidikan dengan leluasa seperti pendidikan yang diperoleh oleh anak-anak Eropa masa itu kecuali anak-anak yang memang beruntung di lahirkan dalam kalangan keluarga yang berada yang memiliki kesempatan bersekolah. Kesempatan bersekolah atau mengenyam pendidikan yang di dapatkan oleh pribumi yang berstatus sosial tinggi ini juga tidak memperbolehkan wanita merasakan nikmatnya menuntut ilmu. Hal inilah yang mendasari terjadinya gerakan Emansipasi wanita yang dipelopori oleh R.A. Kartini.
Setelah berakhirnya masa penjajahan Belanda, Indonesia juga sempat merasakan pahitnya di jajah oleh Jepang yang mengatasnamakan dirinya sebagai saudara tua Indonesia selama kurang lebih 3,5 tahun. Lalu, apakah setelah berakhirnya masa penjajahan itu Indonesia memiliki kemajuan yang signifikan dalam hal pendidikan?
Kemerdekaan Indonesia merupakan sebuah awal baru bagi babak kehidupan rakyat Indonesia. Dalam hal politik, hal ini tentu saja merupakan sebuah prestasi yang sangat membahagiakan tanpa adanya lagi penjajahan dan pengaruh asing dalam pemerintahan Indonesia yang merdeka, bulat dan utuh. Kesempatan mendapatkan pendidikan pun di dapatkan oleh semua orang tanpa adanya diskriminasi yang tertuang dalam UUD 1945 Pasal 31 ayat 1 yang mengatur hak warga negara untuk mendapatkan Pendidikan. Tetapi, bagaimana relitasnya dalam kehidupan?
Jika dilihat dari materi atau pelajaran yang diajarkan, pendidikan di Indonesia tentunya sudah berkembang cukup pesat terutama jika dilihat dari segi peralatan dan teknologi yang di gunakan, dan bahasan atau materi yang memang harus menyesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Babak demi babak telah di lalui oleh bangsa Indonesia, mulai dari masa kerajaan, masa penjajahan hingga kemerdekaan, rezim Orde lama, rezim orde baru hingga kini masa era reformasi. Tetapi, permasalahan klasik yang tetap terjadi dalam wajah pendidikan di Indonesia adalah ketidakmerataan kesempatan untuk mengenyam pendidikan atau masih terjadinya diskriminasi dalam hak menuntut pendidikan yang seharusnya dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang bulu. Permasalahan yang sama disini bukan berarti tidak di legalkannya pendidikan bagi semua kalangan, tetapi lebih kepada terjadinya kesenjangan fasilitas dan mahalnya biaya pendidikan yang harus ditelan oleh masyarakat, bagi masyarakat yang memiliki status ekonomi menengah ke atas mungkin hal ini tidaklah terlalu menjadi masalah, tetapi tidak sama halnya dengan masyarakat yang menempati status ekonomi menengah ke bawah.
Biaya ekonomi yang semakin melambung ini semakin menyulitkan kehidupan masyrakat Indonesia menengah ke bawah. Dalam hal ini, pemerintah memang sudah membebaskan biaya pendidikan dari jenjang SD hingga SMP. Tetapi, apakah ini cukup? Dari tahun ke tahun angka lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya tetaplah tinggi. Alasan klasik yang biasanya digunakan untuk golongan ini adalah lebih baik bekerja daripada melanjutkan sekolah, karena bukankah akhirnya lulusan Universitas sekalipun haruslah mencari pekerjaan juga? Sehingga perlunya mengubah paradigma masyarakat dari “pekerja” menjadi “pencipta pekerjaan” atau dari yang semula berfikir menjadi seorang pegawai menjadi seorang wirausahawan. Untuk masalah kekuatan tekad ini, kita bolehlah mencontoh usaha negara Jepang yang memiliki dedikasi dan pengabdian tinggi untuk hal pendidikan, di dalam sekolah yang merupakan sarana urgen pendidikan ini menjadikan sekolah sebagai media penerapan pendidikan karakter bagi muridnya, sehingga tidak akan ada murid yang menganggap bahwa berekolah itu “sia-sia”.
Di sisi lain, ada anak-anak yang begitu gigihnya untuk bersekolah haruslah berjuang keras untuk mencapai sekolahnya. Lihat saja kasus anak yang harus menyeberangi titian jembatan atau berjalan kaki hingga berpuluh kilometer jauhnya dan menyeberang aliran sungai deras yang tentu saja sangat beresiko untuk melewatinya. Masalah fasilitas ini pulalah yang menjadi tugas besar yang senantiasa menanti untuk dipecahkan bukan hanya oleh pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat pada umumnya. Bagaimana pentingnya kerjasama dan akomodasi dari kedua belah pihak untuk menjadikan Pendidikan Indonesia lebih baik lagi ke depannya.
Hari Pendidikan Nasional yang selalu diperingati setiap tanggal 2 Mei seharusnya tidak hanya diperingati dengan upacara saja, tetapi juga dengan bukti konkrit dan usaha nyata yang dilakukan untuk memajukan pendidikan Indonesia. Di sini sekali lagi perlu ditekankan kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah. Bagaimana pemerintah melalui kebijakan-kebijakannya berusaha untuk memecahkan masalah pendidikan seperti pendidikan gratis yang merata bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa pandang bulu dan pemerintah daerah yang kemudian menyalurkan serta merealisasikan kebijakan-kebijakan tersebut dengan penuh tanggung jawab tanpa adanya “tikus-tikus” yang berusaha mencari keuntungan dari kebijakan tersebut seperti pembangunan fasilitas sekolah, pembangunan akses transportasi yang memadai untuk daerah-daerah terpencil agar aksesibiltas antar desa menjadi lebih mudah dan pemerataan biaya pendidikan, untuk tingkat SMA dan perguruan tinggi, perbanyak jalur masuk yang menggunakan jalur beasiswa sehingga memungkinkan anak dari masyarakat umum yang berada pada golongan menengah ke bawahpun memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Peran aktif Masyarakat dan peserta didik sendiri pun tentunya diperlukan untuk menunjang berkembangnya pendidikan di Indonesia. Di harapkan adanya perubahan paradigma atau cara dan pola berfikir masyarakat yang lebih modern dan lebih dinamis dalam menghadapi masalah pendidikan, seperti merubah paradigma masyarakat menjadikan masyarakat memahami bahwa pendidikan merupakan hal yang penting yang juga memiliki andil dan peran untuk menentukan status dan kedudukan masyarakat dalam ekonomi, selain itu bahwa pendidikan juga merupakan salah satu cara yang paling ampuh untuk memajukan kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga dapat kita lihat bahwa untuk dapat membangkitkan pendidikan Indonesia diperlukan peran aktif oleh berbagai pihak yang terlibat dalam proses pendidikan baik secara langsung maupun secara tidak langsung dengan peran dan tanggung jawab masing-masing yang harus bersinergi dengan baik untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam mensukseskan pendidikan di Indonesia.


Bandung, 15 Mei 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar