Jumat, 12 Juli 2013

Manusia itu terkadang sulit sekali untuk bersyukur


Pepatah mengatakan bahwa untuk urusan dunia tetaplah tundukkan kepalamu dan memandang ke bawah, sementara untuk urusan akhirat tataplah keatas. Hal ini bukanlah tidak ada artinya atau sekedar penghias ucapan dan pemanis percakapan saja. Melainkan memiliki arti dalam yang sangat patut dan bahkan wajib untuk kita ikuti dan terapkan dalam kehidupan.
Menundukan kepala atau melihat ke bawah untuk urusan dunia dimaksudkan kita harus senantiasa melihat kebawah, ke arah orang-orang yang memiliki kehidupan dunia yang lebih kurang beruntung dibandingkan kita. Jika kita tidak memiliki uang untuk berbelanja, lihatlah mereka yang tidak memiliki uang bahkan untuk makan. Jika kita kehilangan ibu kita, lihatlah mereka yang sudah yatim piatu. Jika kita merasa kita adalah orang yang paling sial, tidak beruntung, miskin, bodoh dan lain sebagainya, cobalah untuk melihat ke bawah dan segerakan ubah pikiran tersebut. Bukankah kita merupakan apa yang kita pikirkan? Bukankah ucapan adalah do’a?
Senantiasa melihat ke atas dalam hal akhirat adalah dimaksudkan kita harus senantiasa melihat kekurangan dari diri kita dalam beribadah. Jika kawan kita saja bisa berpuasa sunnah Senin-Kamis lalu kenapa kita tidak bisa? Jika kawan kita bisa senantiasa bangun malam untuk shalat malam, kenapa kita tidak? Jangan terlalu jauh membandingkan diri kita dengan para alim Ulama, tetapi coba tengoklah dulu kawan sekitar kita. Bukankah kita diperintahkan berlomba-lomba dalam kebajikan dan saling menasihati dalam kesabaran? Pepatah lain mengatakan, jika belum bisa menyaingi para alim ulama dalam beribdaha dan berdzikir menyebut Asma-Nya, maka saingilah para pendosa dengan perbanyak menyebut Istighfar dan memohon ampunan-Nya.
Bukankah kita hidup membutuhkan perjuangan? Bukankah kita dilahirkan dari perjuangan seorang dalam melahirkan dan kedua orang tua kita serta sanak ssaudara dalam menjaga kita dalam kandungan? Bukankah sejak awal kita merupakan benih yang menang dalam berjuang mencapai sel telur dalam rahim ibu kita? Lalu setelah kita terlahir, bukankah juga merupakan sebuah perjuangan untuk hidup, berjalan, berbicara, membaca, berlari dan bahkan berfikir? Setelah perjuangan-perjuangan dan pengorbanan yang telah kita lalui, kini dengan mudahnya kita menyerah pada takdir? Pada keadaan? Lalu apa jadinya manusia ketika merasa sedang terpuruk dan diberikan musibah? Bukankah hidup ini adalah titipan? Bahkan menyalahkan Tuhan? Naudubillah.
Setiap udara yang kita hirup, setiap nafas yang kita hembuskan, setiap kedipan mata, setiap denyut jantung, setiap aliran darah, setiap pergerakan sendi, apakah itu jika tidak bisa disebut sebagai Karunia-Nya? Lalu apakah kita yang bahkan tidak bisa menyadarinya? Akankah kita menjadi manusia yang Kufur Nikmat? Naudzubillah.
Berbagai macam cara pun dapat dilakukan untuk mengekspresikan rasa syukur kita, dengan mengucapkan Hamdallah, dengan menjaga dan memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang telah dititipkan oleh Allah, bersedekah, dan lain sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar