Pepatah mengatakan
bahwa untuk urusan dunia tetaplah tundukkan kepalamu dan memandang ke bawah,
sementara untuk urusan akhirat tataplah keatas. Hal ini bukanlah tidak ada
artinya atau sekedar penghias ucapan dan pemanis percakapan saja. Melainkan memiliki
arti dalam yang sangat patut dan bahkan wajib untuk kita ikuti dan terapkan
dalam kehidupan.
Menundukan kepala atau
melihat ke bawah untuk urusan dunia dimaksudkan kita harus senantiasa melihat
kebawah, ke arah orang-orang yang memiliki kehidupan dunia yang lebih kurang
beruntung dibandingkan kita. Jika kita tidak memiliki uang untuk berbelanja,
lihatlah mereka yang tidak memiliki uang bahkan untuk makan. Jika kita
kehilangan ibu kita, lihatlah mereka yang sudah yatim piatu. Jika kita merasa
kita adalah orang yang paling sial, tidak beruntung, miskin, bodoh dan lain
sebagainya, cobalah untuk melihat ke bawah dan segerakan ubah pikiran tersebut.
Bukankah kita merupakan apa yang kita pikirkan? Bukankah ucapan adalah do’a?
Senantiasa melihat ke
atas dalam hal akhirat adalah dimaksudkan kita harus senantiasa melihat
kekurangan dari diri kita dalam beribadah. Jika kawan kita saja bisa berpuasa
sunnah Senin-Kamis lalu kenapa kita tidak bisa? Jika kawan kita bisa senantiasa
bangun malam untuk shalat malam, kenapa kita tidak? Jangan terlalu jauh
membandingkan diri kita dengan para alim Ulama, tetapi coba tengoklah dulu
kawan sekitar kita. Bukankah kita diperintahkan berlomba-lomba dalam kebajikan
dan saling menasihati dalam kesabaran? Pepatah lain mengatakan, jika belum bisa
menyaingi para alim ulama dalam beribdaha dan berdzikir menyebut Asma-Nya, maka
saingilah para pendosa dengan perbanyak menyebut Istighfar dan memohon
ampunan-Nya.
Bukankah kita hidup
membutuhkan perjuangan? Bukankah kita dilahirkan dari perjuangan seorang dalam
melahirkan dan kedua orang tua kita serta sanak ssaudara dalam menjaga kita
dalam kandungan? Bukankah sejak awal kita merupakan benih yang menang dalam
berjuang mencapai sel telur dalam rahim ibu kita? Lalu setelah kita terlahir,
bukankah juga merupakan sebuah perjuangan untuk hidup, berjalan, berbicara,
membaca, berlari dan bahkan berfikir? Setelah perjuangan-perjuangan dan
pengorbanan yang telah kita lalui, kini dengan mudahnya kita menyerah pada
takdir? Pada keadaan? Lalu apa jadinya manusia ketika merasa sedang terpuruk
dan diberikan musibah? Bukankah hidup ini adalah titipan? Bahkan menyalahkan
Tuhan? Naudubillah.
Setiap udara yang kita
hirup, setiap nafas yang kita hembuskan, setiap kedipan mata, setiap denyut
jantung, setiap aliran darah, setiap pergerakan sendi, apakah itu jika tidak
bisa disebut sebagai Karunia-Nya? Lalu apakah kita yang bahkan tidak bisa
menyadarinya? Akankah kita menjadi manusia yang Kufur Nikmat? Naudzubillah.
Berbagai macam cara pun
dapat dilakukan untuk mengekspresikan rasa syukur kita, dengan mengucapkan
Hamdallah, dengan menjaga dan memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang telah
dititipkan oleh Allah, bersedekah, dan lain sebagainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar