Tentang Hidup, Kehidupan, Pikiran, Hati, Emosi, Senja, Dandellion, Ilalang dan... Langit ^^
Minggu, 13 Oktober 2013
Jumat, 11 Oktober 2013
Mempercayakan atau terpaksa percaya"
Percaya, mempercayakan atau terpercayakan?
rasa percaya atau kepercayaan memang sulit sekali ditumbuhkan dan dimiliki khususnya kepada para pemimpin bangsa ini. jangankan sekelas bangsa, krisis kepercayaan terhadap pemimpin ternyata dirasakan pula oleh ruang lingkup yag lebih kecil. seperti organisasi mahasiswa, organisasi kelas bahkan pada diri kita sendiri. sekarang, cobalah bertanya pada diri anda sendiri, percayakah anda bahwa anda akan tetap pada pendirian anda ketika sedang menghadapi masalah dan intervensi dari berbagai pihak? rasa percaya memang kecil tetapi bermakna besar. rasa yang sulit dijabarkan namun jika dipegang dengan teguh maka memiliki makna yang besar baik dari segi kehidupan terkecil hingga bermasyarakat, bernegara dan dunia.
krisis kepercayaan seringkali berbanding lurus dan berkaitan erat dengan adanya krisis kepemimpinan. ketika dalam suatu organisasi mengalami krisis kepemimpinan dan hanya memiliki 1 atau 2 calon pemimpin. mau tidak mau dia atau salah satu dari merekalah yang akan menjadi pemimpinnya. terpilih atau tidak terpilih, memilih maupun tidak memilih maka hanya ada satu dari pilihan tersebut yang akan memimpin. terlebih lagi, Indonesia dengan sistem "Demokrasi voting" nya mengarahkan masyarakat untuk berfikir dan bertindak kolektif, hak-hak dan suara minoritas terpinggirkan sebaliknya suara mayoritas didengungkan bahkan terkesan dibesar-besarkan. lalu, sebelah mana Demokrasinya? mana keadilannya?
sudahlah lupakan masalah demokrasi yang jika dibahas akan jauh lebih panjang lagi dibandingkan maksud awal tujuan penulisan ini sendiri.
setelah terpilih salah seorang pemimpin, maka mu tidak mau, suka tidak suka rakyat atau bawahan harus percaya atau "terpaksa" mempercayakan tampuk kepemimpinan kepadanya. lalu, bagaimana jika celakanya orang yang terpilih (sengaja atau tidak sengaja) ini ternyata tidak berkompeten dan tidak profesional? Miris. sistem yang digadang-gadang sebagai sistem teragung nan sempurna di mata manusia ternyata tidak mampu menyempurnakan dirinya sendiri dalam penerapannya. jadi, kemanakah kepercayaan tersebut harus dibawa? haruskah kita tutup saja rasa percaya dan pengabdian tulus ini dan simpan rapat-rapat kedalam sebuah peti mati, simpan rapi dan berikan pita diatasnya? atau haruskah kita bermuka dua dengan menampilkan cantik dan eloknya diri kita yang dihiasi dengan kata-kata manis sementara perasaan kita sendiri sudah terkubur dalam sebuah lorong gelap yang disebut kematian? atau siapkah kita bersikap bijak dengan menerima keputusan forum dengan besar hati, mengabdi sepenuh hati. walaupun tidak dengan kontribusi fisik maupun materi, bukankah manusia dipersenjatai dengan senjata tercanggih di dunia yang bahkan mengalahkan sistem komputer paling canggih sekalipun? gunakan akal dan pikiran kita untuk senantiasa bersikap waspada, mengawasi, mengamati dan berikan saran serta kritik yangs ekiranya membangun untuk perbaikan di tahap berikutnya..
tentang manusia dan lingkungan
Manusia sebagai makhluk
yang hidup dan berkembang dalam lingkungannya tentunya harus memperhatikan pula
kelestarian lingkungan, bukan hanya sekedar mengeksploitasi keberadaannya dan
sumber daya alam di dalamnya. Beberapa pendapat bahkan mengatakan bahwa sumber
dari permasalahan lingkungan yang paling utama adalah manusia itu sendiri.
Lingkungan yang dihuni
manusia sendiri pada umumnya ada dua macam, yakni lingkungan alam yang bersifat
fisik dan lingkungan sosial yang merupakan tempat dimana manusia dengan hiruk
pikuknya melakukan segala aktivitasnya.
Lingkungan alam sendiri
memiliki berbagai macam bentukan dan terbagi lagi menjadi beberapa bagian
seperti daratan dan lautan, ekosistem dengan segala kompleksitas makhluknya.
Bumi sendiri disebut juga sebagai ekosistem besar yang terdiri dari berbagai
komunitas, populasi dan interaksi antar biotik dan abiotiknya dengan berbagai
permasalahan dan kompleksitas keseluruhan makhluknya
Alam diciptakan dengan
segala keseimbangannya, berproses dan berdinamika mengikuti aliran waktu.
Sistem dan hukum alam ini sedikit banyaknya terganggu dengan adanya manusia dan
segala aktivitasnya. Ketimpangan keseimbangan ini memang bukan hanya disebabkan
oleh manusia sebagai salah satu unsur pokoknya, tetapi juga bisa disebabkan
oleh alam. Tetapi, pada kenyataannya manusialah yang berperan dominan sebagai
salah satu perusak keseimbangan alam.
Pola iklim global yang
mulai berubah, perubahan bentuk muka bumi, pergeseran penggunaan lahan,
eksploitasi lahan yang tidak berkelanjutan yang pada akhirnya disadari ataupun
tidak berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem ini sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)