Elin Karlina
Elin karlina. Ya,
itulah nama saya. Saya seorang putri dari ayah terbijaksana dan ibu terhebat di
dunia. Saya dilahirkan di kota udang, Cirebon 8 desember 20 tahun silam. Ayah
saya yang hebat itu merupakan seorang pekerja keras yang tidak pernah berhenti
bekerja untuk kami, anak2anaknya tercinta. Ayah saya bekerja sebagai seorang
tukang Tambal ban yang didirikannya sendiri sepulang dari perantauannya 22
tahun silam. Beliau lebih memilih membuka usaha sendiri dengan alasan “supaya
liburnya tidak ditentukan” katanya. Sedangkan wanita yang beruntung menjadi
istrinyajuga dengan segala kehebatannya adalah ibu saya, almarhumah ibu saya
tepatnya. Ibu saya yang hebat ini telah dipanggil oleh pemiliknya ketika saya
kelas 1 SMA atau sekitar 4 tahun silam. Kini saya sedang menimba ilmu di
Universitas tercinta saya Universitas Pendidikan Indonesia, Program Studi
Pendidikan IPS 2011 dengan IPK 3,9.
Pekerjaan ayah saya
sebagai seorang tukang tambal ban yang tidak bisa deprediksikan penghasilannya
menuntut Kakak saya tercinta untuk tidak meneruskan sekolahnya di jenjang
perguruan tinggi dan menggantinya dengan bekerja. sebelum ibu saya meninggal,
beliau sempat dirawat di rumah sakit selama kurang lebih 3 bulan di beberapa
rumah sakit yang berbeda. Pengobatan ibu saya ini cukup mengeluarkan banyak
biaya, bahkan kakak saya pun harus di operasi karena ditemukan tumor dalam
tubuhnya. Setelah cobaan yang bertubi-tubi ini, ayah saya dihadapkan pada
kepergian ibu saya yang sangat sulit untuk dilepaskan. Musibah yang datang ini
justru membuat saya lebih tegar, saya ingin memperlihatkan pada ayah saya
tercinta bahwa saya masih kuat dan tegar. Hal itu saya buktikan dengan lulusnya
saya sebagai lulusan terbaik SMP, masuk ke salah satu SMA terfavorit di kota
Cirebon, mengikuti perlombaan olimpiade Ekonomi Akuntansi dan juara 3 tingkat
kota Cirebon dan mewakilinya ke tingkat provinsi. Dengan beasiswa yang
diberikan oleh kota Cirebon, saya pun diberikan kebebasan dalam masalah
pembayaran selama 2 tahun terakhir saya sekolah di SMA. Saya tempatkan ayah
saya di kursi terdepan, kursi penghormatan sebagai orang tua dari lulusan
terbaik SMA Negeri 2 Cirebon.
Kelulusan saya di SMA
menambah dilema baru bagi ayah saya, beliau bingung akan memutuskan saya untuk
meneruskan ke jenjang perkuliahan atau langsung bekerja walaupun saat itu saya
sudah secara resmi diterima di UPI. saat itu saya tidak bisa menolak keinginan
ayah saya yang ingin saya langsung bekerja saja selain memang terkendala
masalah biaya, tetapi keinginan ayah saya ini ditentang oleh kakak saya yang
ingin menyekolahkan saya setinggi-setingginya (saat itu belum ada pengumuman
siapa yang diterima Bidik Misi). Dan ternyata Allah membukakan pintu Rezeki-Nya
pada saya, saya masuk dan terdaftar sebagai penerima Bidik Misi, dengan ini
saya tidak memberatkan orang tua saya, ayah dan kakak yang teramat sangat saya
cintai. Program Bidik Misi ini membuka semangat baru bagi saya, sejak awal saya
tahu saya diterima Bidik Misi, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri bahwa
“Saya tidak akan menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja, tidak akan saya
sia-siakan kesempatan emas ini.”
Alhamdulillah saya nama
saya masuk sebagai salah satu peserta Forbiminas yang dilaksanakan di Jakarta,
5-8 Desember 2012 lalu. Forbiminas ini benar-benar kegiatan yang teramat sangat
bermanfaat bagi saya. Di sini saya bisa mendapatkan berbagai macam pengalaman, bertemu
dan berdialog dengan Ayah kami, para pembelajar, Bapak M. Nuh sebagai
Mendikbud, mendapatkan pengetahuan dan pengalaman orang-orang sukses di
Indonesia, bahkan berwisata bersama teman-teman seperjuangan, sesama penerima
Bidik Misi. Setelah ini, Insya Allah saya akan tetap mengobarkan semangat
pendidikan minimal untuk orang-orang terdekat saya, dan umumnya untuk
masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Terimakasih Rakyat Indonesia,
terimakasih Bidik Misi, terimakasih Forbiminas.
Tulisan ini merupakan sebuah catatan profil diri pribadi untuk dikirimkan dalam rangka mengisi buku profil mahasiswa peserta kegiatan Forum Bidik Misi Nasional 5-8 Desember 2012 di Jakarta kemarin
Bandung, 9 Desember 2012
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar