Senin, 30 Desember 2013

Demokrasi oh Demokrasi #1


Pemilihan Kepala Daerah sejatinya menjadi ajang pesta demokrasi masyakarat daerah tersebut, masyarakat diberi hak bebas dan secara langsung memilih kepala daerah yang kelak akan memimpinnya selama 1 periode pemerintahan. Suatu konsep yang merupakan adopsi dari Demokrasi yang diterapkan Yunani, dimana juga didalamnya terselip suatu makna intrinsik agar masyarakat mengenal secara langsung calon yang akan dipilih, mempelajari, mengamati serta menganalisis calon pemimpinnya kelak. Tapi pertanyaannya adalah: sudah siapkah masyarakat kita dengan sistem sesempurna itu?


Penulis mengambil contoh dari 2 pemilihan yang berlangsung di daerah penulis yang diadakan secara langsung, yakni pemilihan ketua Desa serta pemilihan Bupati. Dari kedua sampel pemilihan tersebut, masih ditemukannya kecurangan-kecurangan dan keanehan yang mewarnainya. Dalam pemilihan kepala desa misalnya, 1 hari sebelum pemilihan tim sukses dari salah satu calon tak segan-segan berkunjung ke rumah warga (bukan hanya sekedar untuk memohon doa restu) dari warga, melainkan juga memberikan sejumlah uang yang bagi saya pribadi sebagai warga desa tersebut terbilang cukup besar. 50 ribu rupiah! Dan dihitung bukan perkepala keluarga, melainkan per kepala pemilih.


Lain pemilihan kepala desa, lain pula pemilihan bupati. Sore hari sebelum pemilihan, segelintir orang membagikan beberapa bungkus mi instan kepada kepala keluarga. Ketika saya coba tanyakan kepada pihak terkait, mereka menjawab bahwa mi tersebut merupakan jatah warga dari calon nomor sekian yang pembagiannya secara merata kepada seluruh warga. Hanya saja ternyata beberapa kepala keluarga tidak turut terbagikan mi tersebut (keluarga saya contohnya) hanya karena keluarga kami dianggap pro kepada calon yang lain. Begitupun dengan beberapa keluarga di blok tempat tinggal kami, semoga ini bukan dianggap salah satu bentuk protes karena tidak mendapatkan mi instan tersebut.


Lalu, apa yang dilakukan oleh kaum elit terpelajar di desa saya? Saya pribadi termasuk golongan mahasiswa merasa malu karena tidak dapat berbuat apa-apa. Payah sekali. Hanya bisa menyaksikan kebusukan yang begitu jelas dan nyatanya diwajah saya, dihadapan mata saya sendiri. Lebih parah lagi, beberapa orang yang juga termasuk ke dalam golongan kaum terpelajar ini pun turut serta menyukseskan kegiatan pembagian gelap tak jelas darimana asal dananya tersebut.


Jadi apakah suara murni masyarakat yang seharusnya tersampaikan berubah menjadi suara kebusukan karena diiming-imingi uang 50 ribu rupiah dan bahkan 4-5 bungkus mi instan? Lalu bagaimana dengan independensi mahasiswa yang begitu digadang-gadang dan dipercaya sebagai controller? Apakah juga dengan mudahnya tergadaikan jika dihadapkan pada hal-hal berbau materi dan politik praktis? Jika mahasiswanya saja tidak cerdas, lalu bagaimana dengan masyarakat awam?


Sejatinya, sebelum menghadapi Pemilu 2014 yang merupakan pesta demokrasi bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, cerdaskanlah masyarakat agar tidak terjebak pada fenomena politik praktis yang begitu biasa dan dianggap normal dijalankan. Suatu sifat permissif yang sangat tidak patut jika dibiarkan berlarut-larut. Semoga Jaya Selalu, Indonesiaku.








Hanya ada dua pilihan jika seseorang dihadapkan pada situasi seperti ini


Menjadi apatis atau mengikuti arus


Bersyukurlah karena masih ada pilihan yang lain


Menjadi manusia bebas.


-Soe Hok Gie.





Cirebon, 30 Desember 2013



Rabu, 18 Desember 2013

Kutipan catatan seorang demonstran #1



Kutipan-kutipan dibawah ini merupakan rangkaian kalimat inspiratif pembuka pikiran, membuka pemahaman cakrawala, sebuah guncangan dan penyadaran akan kondisi kehidupan dan bagaimana realita yang sebenarnya dialami oleh Bumi Pertiwi berdasarkan pandangan seorang pemuda, seorang revolusioner dalam pemikirannya, seorang pemuda yang menggolongkan dirinya terlepas dari sikap apatis dan ikut arus, melainkan menyebut dirinya sebagai “Manusia Bebas”. Sebuah cuplikan kata-kata penuh makna dari sebuah buku semi-Biografi tentang Soe Hok Gie yang diterbitkan berdasarkan catatan-catatan hariannya di masa pergolakan. Semoga apa yang beliau alami hanya terjadi pada masa beliau, semoga seluruh keruwetan pemikiran dan kegalauan perasaannya hanya berlaku ketika masanya, semoga kerusuhan dan demoralisasi yang beliau ceritakan tidak kembali terulang dan bukan cerminan dari kondisi bangsa saat. Ini. Yah, semoga.
Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan
Yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu.
Bahagialah mereka yang mati muda.
Soe Hok Gie
Kutipan di atas merupakan salah satu kutipan yang cukup terkenal, utamanya dikalangan para mahasiswa. Dari kutipan diatas, terlihat bagaimana keputusasaan dan frustasi yang dialami oleh beliau melihat kelam da kelabunya kehidupan yang didominasi oleh golongan kaum elit politik yang melupakan amanah dan tanggung jawab mereka sebenarnya. Walaupun kutipan tersebut merupakan sebuah ungkapan keputusasaan, tetapi kekeputusasaan yang dirasakan bukanlah menjadi alasannya untuk diam tak bergerak, mengambil sikap apatis dan hanya diam menunggu waktu kehancuran yang ia khawatirkan datang, melainkan sebuah keputusasaan yang membangkitkan semangat pergerakannya, menumbuhkan jiwa kedinamisannya, sebuah keprihatinan yang menggelitik hatinya untuk melakukan sesuatu. Sejatinya, kutipan tersebut merupakan Sebuah kutipan yang merupakan plesetan dari seorang filsuf Yunani, Friedrich Nietzsche dari adegan ketika Midas bertanya kepada Silenus tentang nasib mana yang terbaik bagi manusia; maka Silenus menjawab: “Hai Bangsa malang, anak-anak bencana dan duka, mengapa aku mengucapkan sesuatu yang sebaiknya dipendam tak dikatakan? Yang terbaik berada diluar jangkauan –tidak dilahirkan, menjadi tiada. Nomor dua adalah mati muda”.
Dalam pendahuluan yang ditulis oleh Daniel Dhakidae, beliau mencoba membandingkan antara pemikiran seorang Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib yang keduanya bertitik tolak pada dasar pemikiran yang berbeda, seorang yang berjiwa sekuler dan religius namun dipertemukan pada satu titik temu tentang kemanusiaan dan berbicara tentang moralitas bangsa yang ketika saat itu dirasa memprihatinkan.
Aku bukan Nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis, aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin bahwa orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok ana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Ahmad Wahib.
Aku bukan Hatta, bukan Soekarno, bukan Sjahrir, bukan Natsir, bukan Marx dan bukan pula yang lain-lain. Bahkan... aku bukan Wahib.
Aku bukan Wahib, Aku adalah me-Wahib. Aku mencari dan terus menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus menerus berproses menjadi aku. Ahmad Wahib.
Dari tulisan-tulisan Ahmad Wahib diatas, terlihat bahwa hidupnya bukanlah hidup untuk menjalani hidup menjadi dirinya yang saat itu. Melainkan hidup untuk menjalani hidup dalam proses mencari arti kehidupannya. Beliau tidak puas untuk hidup hanya menjadi dirinya ketika itu. Melainkan menginginkan kondisi yang lebih, lebih baik dari sebelumnya. Dari tulisan-tulisannya, terlihat bagaimana pemikiran mendalamnya tentang kehidupan yang memang pada hakikatnya merupakan sebuah proses pembelajaran.
Kemudian kita beranjak pada reaksi Soe Hok Gie tentang pendapat bahwa hidup berasal dari harapan-harapan:
Tapi sekarang aku berpikir sampai dimana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi datkah dia berkorban buat tidak apa-apa? Aku sekarang tengah terlibat dalam pemikiran ini. Sangat pesimis, dan hope for nothing. Aku tidak percaya akan suatu kejujuran dari ide-ide yang berkuasa, aku tak percaya Tuhan... tetapi aku sekarang masih mau hidup. Aku tak tahu motif apa yang ada dalam unconscious mind-ku sendiri.
Pandanganku yang agak murung bahkan skeptis ini pernah dinamakan sebagai destruktif,... tetapi bagaimana bila memang hidup adalah keruntuhan demi keruntuhan? Apakah kita harus berpaling dari fakta-fakta ini? Aku kira tidak, ... makin aku belajara sejarah, makin pesimis aku, makin lama maikn kritis dan skeptis terhadap apa pun. Tetapi tentu ada suatu motif mengapa aku begini. Memang life for nothing agaknya sudah aku terima sebagai kenyataan.
Lalu, lihatlah bagaimana pandanganya tentang generasi tua ketika ia menemukan fenomena yang memprihatinkan dimana seorang (bukan pengemis) yang tengah memakan kulit mangga hanya pada jarak dua kilometer dari istana negara:
Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua, seperti (nama pejabat-pejabat tinggi,red). Kitalah yang dijadikan generasi yang akan memakmurkan Indonesia.
Indonesia sekarang turun, dan selama tantangan sejarah belum dapat dijawabnya, ia akan hancur. “Tanahku yang malang”. Harga barang membubung, semua makin payah. Gerombolan menteror. Tentara menteror. Semua menjadi teror.
Siapakah yang bertanggung jawab atas hal ini? Mereka generasi tua: Soekarno, Ali Iskak, Lie Kat Teng, Ong Eng Die, semuanya pemimpin-pemimpin yang harus ditembak di Lapangan Banteng. Cuma pada kebenaran masih kita harapkan. Dan radio masih berteriak-teriak menyebarkan kebohongan. Kebenaran Cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu. (Kamis, 10 Desember 1959)
Betapa sebuah pemikiran yang radikal dan mendalam atas keprihatinannya pada kondisi dan keadaan bangsa saat ini. Suatu ironi yang terjadi akibat adanya ketimpangan yang begitu besar dan jurang perbedaan yang begitu dalam. Sebuah tembok pemisah yang begitu lebar, tebal dan sulit untuk ditembus.
Di catatan lain, Gie menulis pemikirannya tentang pembukaan jurusan publisistik yang dihadiri oleh presiden sekaligus sambutannya. Reaksi dari kecenderungan dan keberpihakan pers terhadap pemerintah yang tidak menjalankan tugas dan ketidaksesuaian fungsinya yang seharusnya berfifat netral dan mengabarkan hal-hal yang bersifat obyektif:
Kita dininabobokan bahwa produksi padi naik, produksi kain maju, gerombolan dikalahkan dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi rakyat akan bertanya: mengapa beras mahal, ini mahal dan lain-lain. Buat apa kita menggambarkan bla gambaran tadi tidak sesuai dengan kenyataan? Apakah tugas pers seperti Domei yang mengabarkan yang muluk-muluk? Lihat, Jepang kalah juga oleh berita-berita yang salah.
Seseorang yang berani menyerang koruptor-koruptor lalu ditahan tanpa sebab. Mochtar Lubis ditahan tanpa alasan. Haria Rakyat diberangus karena berani memuat tulisan yang tida menguntungkan pemerintah. Saya buka seorang Komunis, tapi pembengarusan Harian Rakyat adalah pelanggaran terhadap Demokrasi. Dan kita, rakyat sedang dibawa ke kediktatoran. Kita merayakan hak-hak azasi tetapi kita merobek-robek hak-hak tadi. Kita memuji demokrasi tetapi memotong lidah seseorang kalau berani menyetakan pendapat yang merugikan pemerintah. (Sabtu, 12 Desember 1959)
Di hari lain, adapula rekasi yang Gie berikan mengenai berita tentang hukuman mati atas diri Sa’adon, Tasrif dan Jusuf Ismail yang sejujurnya untuk saya sendiri pun tak mengenal dan asing akan nama-nama ini:
Delapan puluh juta rakyat Indonesia mengacungkan tangan menanti harapan atas revolusi ’45. Dan mereka sia-sia menanti. Mereka hidup melarat dan pemimpin-pemimpin seperti Soekarno hidup mewah. Dan rakyat yang telah berjuang itu telah dikhianati oleh pemimpin-pemimpinnya. Kaum intelek takut terhadap kenyataan. Dan ketiga “pahlawan bagi dirinya sendiri” telah berani dan melakukan penggranatan. Merekalah abdi rakyat, dan mereka diperlukan oleh Lubis cs. Merekalah yang menguasai amanat “penderitaan rakyat” dan terdorong oleh rasa tanggung jawab terhadap 80 juta, melakukan perbuatan itu.
Tiga orang berjalan
Maut makin mendekat
Dan sebuah jalan buntu dimuka
Maut makin mendekat
Ia mengemis, meminta hidup
Tapi “beliau” menolaknya.

Masyarakat Borjuis
Buat L.B.S.
Ada suatu yang patut ditangisi
Aku kira kaupun tahu
Masyarakatmu, masyarakat brjuis
Tiada kebenaran disana
Dan kalian selalu menghindarinya

Aku selalu serukan (dalam hati tentu)
“wahai, kaum proletar sedunia”
Berdoalah untuk masyarakat borjuis.

Ada golongan yang tercampak dari kebenaran
Dan berdiri di atas nilai kepalsuan
Aku kira, tiada bahagia disana
Sebab tiada kasih, kebenaran dan keindahan
Dalam kepalsuan
Aku akan selalu berdoa baginya
(aku sendiri tak percaya pada doa, maaf)
Aku kira anda tiada kenal kasih
(nafsu tentu ada)
Apakah bernilai dengan uang
Dan padamu, kawan
Semua adalah uang, perhitungan saldo
Tiada yang indah dalam kepalsuan
(engkau tentu yakin?)
Di sinilah a moral ditutup oleh a moral
Disinilah tabir-tabir yang terlihat
Dan seringkali aku bersepeda sore-sore
Bertemu dengan gadismu (borjuis pula)
Aku begitu sedih dan kasih
Aku begitu sedih dan kasih
Ya, Tuhan (aku tek percaya Tuhan)
Berilah mereka kebenaran
Aku tabu
Gadis cantik di mobil, bergaun abu-abu
Tapi bagiku tiada apa. (Minggu, 12 Juni 1960)

Dalam catatannya pada Sabtu, 18 Juni 1960, bahkan seorang pastor pun tak luput dari kritikan pedasnya, berikut ini catatannya:
Dahulu aku kira pastor-pastor adalah kelas rakyat, dia adalah satu dengan rakyat. Tetapi setelah aku masuk (sekolah) Kanisius, kesanku berubah. Pastor-pastor itu adalah kelas baru. Kelas yang berkuasa dalam agama. Ia adalah yang memonopoli kebenaran. Lihat saja cara hidupnya: mewah dan menjilat-jilat kepada golongan yang berkuasa.