Rabu, 24 Juli 2013

Bandung, di Kota ini Saya Jatuh Cinta


 
Bandung pusat fashion, Bandung tempat jajanan kuliner, Bandung kota kembang, Bandung kota Parahyangan, begitu banyak julukan yang menempel pada ibukota provinsi yang satu ini. Kota yang menyajikan berbagai keindahan dan daya tarik di dalamnya.
Bandung, ibukota provinsi Jawa Barat ini merupakan salah satu kota yang membuat saya langsung jatuh cinta ketika pertama kali mengunjunginya. Tak seperti kawan-kawan yang lain yang mungkin sudah mengunjungi Kota parahyangan ini sejak Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama. Saya baru mengunjungi kota ini ketika kelas 2 SMA, itu pun untuk megikuti sebuah perlombaan dan saya langsung jatuh cinta pada kota ini.
Pertama kali berkunjung ke Bandung, saya berkesempatan mengunjungi Tangkuban Parahu, tempat wisata yang hidup dan tumbuh di tengah legenda yang menyelimutinya. Legenda Sangkuriang. Kawah yang luar biasa indah dengan segala pesonanya, layaknya gadis yang tumbuh dengan pipi yang merona tersipu malu. Cantik dan penuh misteri. Tak heran jika kota ini dan sekitarnya dijuluki sebagai kota Parahyangan (kota para Dewa).
Lain tangkuban parahu, lain pula wisata yang terletak lebih ke tengah kota, berbagai Factory Outlet dan pusat-pusat perbelanjaan tersebar di hampir seluruh wilayah kota Bandung, karena Bandung merupakan Paris Van Java, julukan yang berkembang ketika masa kolonial Belanda. Hal ini merujuk pada kondisi fisik dan iklim kota Bandung yang mirip dengan kota Paris. Selain itu, julukan ini juga menjadikan kota Bandung sebagai salah satu kota pusat fashion di Indonesia layaknya Paris yang menjadi pusat fashion dunia. Entahlah, saya pribadi pun tidak begitu mengerti akan dunia fashion. Jangan lupa pula dengan Braga, gedung sate, jalan Asia Afrika, dan tempat-tempat lain yang bernuansakan sejarah dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah kota Bandung pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.
Awalnya, saya kira Bandung sama halnya dengan kota-kota besar seperti Jakarta pada umumnya yang panas, sesak, keras, dan tidak ramah. Tetapi di kota ini justru saya menemukan keluarga baru, menemukan suasana yang nyaman layaknya di rumah. Bandung kota yang ramah, tradisi tegur sapa masih jelas terlihat disini (khususnya di wilayah Selatan Bandung). Lokasinya yang terletak di dataran tinggi menjadikan wilayah Bandung Selatan bersuhu rendah dan sejuk.
Setelah tinggal dan hidup di kota ini selama kurang lebih 3 tahun dan masih berjalan hingga saat ini, tak ada yang berubah dalam hati saya layaknya jatuh cinta pada pandangan pertama dan jatuh cinta pada hal yang sama berkali-kali. Menyenangkan. Saya tinggal di daerah Bandung Selatan, jadi cukup jauh dengan hiruk pikuk kota besar Bandung, disini justru begitu tenang, sejuk, rindang serta memiliki pemandangan yang Indah.
Taman kampus yang sejuk dan rindang menjadi tempat terfavorit saya di kota ini, suasana tenangnya, anginnya yang sejuk, rindangnya pepohonan, bunga teratai yang tumbuh di kolamnya, daun-daun yang menguning dan gugur di musim tertentu, hiruk pikuk aktivitas mahasiswa, inilah tempat dengan berjuta kenangan manis di dalamnya. Taman Partere Universitas Pendidikan Indonesia.
Di kota ini pulalah saya jatuh cinta pada seseorang. Seakan-akan kota ini benar-benar menyuguhkan cerita cinta dan daya tarik yang membuat saya bertemu dengannya. Di kota ini saya jatuh cinta.

Bandung, 24 Juli 2013

Rabu, 17 Juli 2013

Tentang 17 Juli, Tentang Kasih Sayang tulus, Tentangmu Ibunda


17 Juli 2008 merupakan salah satu hari bersejarah sekaligus hari terkelam sepanjang hidup saya. Pasalnya di hari dan tanggal inilah saya merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang paling saya cintai, sosok tempat dimana surga saya ada di telapak kakinya, sosok yang paling banyak berkorban selama hidupnya untuk kebahagiaan kami, sosok yang tak pernah lelah mencurahkan kasih sayangnya, seorang wanita tangguh penopang keluarga kami, seorang ibu, pendidik, akuntan, koki, perawat, serta pembangkit semangat kami. Ibu.
Hari terkelam ini pun merupakan salah satu hari bersejarah khususnya bagi saya pribadi, dimana hari ini merupakan hari terakhir pelaksanaan MOS SMA yang sedikit banyaknya menguras waktu saya sehingga saya kurang memiliki momen-momen terakhir dengan ibunda tercinta.
Tak akan pernah saya lupakan sosoknya, senyum manisnya, kata lembutnya, kasih sayangnya, usapannya, dekapannya, bahkan aroma tubuhnya pun masih bisa saya ingat dengan jelas dan tersimpan dalam memori dan dalam sanubari hati saya yang terdalam. Setelah 5 tahun berlalu tanpa kehadiran sosok lembutnya, Bukan lagi isak tangis kesedihan yang saya rasakan saat mengingatnya, melainkan senyum kebahagiaan penuh kerinduan, bukan lagi ratap duka yang saya lakukan ketika merindukannya, melainkan lantunan doa yang tiada henti dipanjatkan untuknya, semoga engkau tenang disana Ibunda.
Maafkan jika putrimu ini seringkali lalai dalam menjalankan amanahnya, maafkan jika putrimu ini seringkali khilaf dalam menjalani roda kehidupannya, maafkan jika putrimu ini seringkali masih goyah dalam mempertahankan pendiriannya. Maafkan saya ibunda, maafkan. Tak pernah ada keinginan bahkan niat secuilpun untuk menggantikan posisimu di hati dan hidup saya,
Jangan bersedih ibunda, akan tetap saya tempuh jalan ini, jalan yang dirintis dengan tertatih-tatih, jalan untuk menggapai cita-cita dan mimpimu sebagai pengajar sekaligus pendidik generasi muda yang tak pernah terwujud, lihat dan amati saja ibunda, kali ini saya yang akan mewujudkannya. Cita-cita mulia yang senantiasa engkau idamkan, engkau tanamkan dalam snubari dan hati kecil saya bahkan ketika saya belum mengerti arti sebuah cita-cita dan pengabdian.
Saya menyayangimu ibunda, terimakasih atas kasih sayang yang senantiasa engkau berikan bahkan setelah engkau pergi, terimakasih atas setiap arti kehidupan yang telah engkau ajarkan, terimakasih Tuhan telah menakdirkan saya sebagai putrinya, terimakasih atas hidup yang telah Engkau berikan pada ku melalui rahimnya, kasih sayangnya, darahnya, peluh keringatnya, setiap kelelahannya, entah bagaimana lagi saya membalas mu ibunda. Hanya seuntai doa tulus yang tak pernah henti kupanjatkan untukmu. Saya menyayangimu ibunda, saya teramat sangat sangat sangat bangga menjadi putrimu, menjadi bagian dari keluarga ini, terimakasih pulat telah Engkau tempatkan saya ke dalam keluarga sederhana nan bahagia ini ya Allah, Terimakaasih banyak..

Cirebon, 17 Juli 2013 

Jumat, 12 Juli 2013

Manusia itu terkadang sulit sekali untuk bersyukur


Pepatah mengatakan bahwa untuk urusan dunia tetaplah tundukkan kepalamu dan memandang ke bawah, sementara untuk urusan akhirat tataplah keatas. Hal ini bukanlah tidak ada artinya atau sekedar penghias ucapan dan pemanis percakapan saja. Melainkan memiliki arti dalam yang sangat patut dan bahkan wajib untuk kita ikuti dan terapkan dalam kehidupan.
Menundukan kepala atau melihat ke bawah untuk urusan dunia dimaksudkan kita harus senantiasa melihat kebawah, ke arah orang-orang yang memiliki kehidupan dunia yang lebih kurang beruntung dibandingkan kita. Jika kita tidak memiliki uang untuk berbelanja, lihatlah mereka yang tidak memiliki uang bahkan untuk makan. Jika kita kehilangan ibu kita, lihatlah mereka yang sudah yatim piatu. Jika kita merasa kita adalah orang yang paling sial, tidak beruntung, miskin, bodoh dan lain sebagainya, cobalah untuk melihat ke bawah dan segerakan ubah pikiran tersebut. Bukankah kita merupakan apa yang kita pikirkan? Bukankah ucapan adalah do’a?
Senantiasa melihat ke atas dalam hal akhirat adalah dimaksudkan kita harus senantiasa melihat kekurangan dari diri kita dalam beribadah. Jika kawan kita saja bisa berpuasa sunnah Senin-Kamis lalu kenapa kita tidak bisa? Jika kawan kita bisa senantiasa bangun malam untuk shalat malam, kenapa kita tidak? Jangan terlalu jauh membandingkan diri kita dengan para alim Ulama, tetapi coba tengoklah dulu kawan sekitar kita. Bukankah kita diperintahkan berlomba-lomba dalam kebajikan dan saling menasihati dalam kesabaran? Pepatah lain mengatakan, jika belum bisa menyaingi para alim ulama dalam beribdaha dan berdzikir menyebut Asma-Nya, maka saingilah para pendosa dengan perbanyak menyebut Istighfar dan memohon ampunan-Nya.
Bukankah kita hidup membutuhkan perjuangan? Bukankah kita dilahirkan dari perjuangan seorang dalam melahirkan dan kedua orang tua kita serta sanak ssaudara dalam menjaga kita dalam kandungan? Bukankah sejak awal kita merupakan benih yang menang dalam berjuang mencapai sel telur dalam rahim ibu kita? Lalu setelah kita terlahir, bukankah juga merupakan sebuah perjuangan untuk hidup, berjalan, berbicara, membaca, berlari dan bahkan berfikir? Setelah perjuangan-perjuangan dan pengorbanan yang telah kita lalui, kini dengan mudahnya kita menyerah pada takdir? Pada keadaan? Lalu apa jadinya manusia ketika merasa sedang terpuruk dan diberikan musibah? Bukankah hidup ini adalah titipan? Bahkan menyalahkan Tuhan? Naudubillah.
Setiap udara yang kita hirup, setiap nafas yang kita hembuskan, setiap kedipan mata, setiap denyut jantung, setiap aliran darah, setiap pergerakan sendi, apakah itu jika tidak bisa disebut sebagai Karunia-Nya? Lalu apakah kita yang bahkan tidak bisa menyadarinya? Akankah kita menjadi manusia yang Kufur Nikmat? Naudzubillah.
Berbagai macam cara pun dapat dilakukan untuk mengekspresikan rasa syukur kita, dengan mengucapkan Hamdallah, dengan menjaga dan memanfaatkan sebaik-baiknya apa yang telah dititipkan oleh Allah, bersedekah, dan lain sebagainya.

Rabu, 03 Juli 2013

Diskusi Buku Mingguan



Selasa, 19 Februari 2013
Mahasiswa sebagai agen perubahan dan menjadi salah satu tombak dalam pergerakan bangsa menjadikan mahasiswa memiliki beban dan tanggung jawab yang harus dipikulnya. Salah satu bentuk perjuangan serta pergerakan mahasiswa adalah dengan menulis dan membaca. Membaca sejatinya merupakan sebuah proses menemukan informasi dari sebuah buku atau sumber bacaan lainnya sedangkan berdiskusi dapat dikatakan sebagai salah satu cara unuk menyampaikan informasi dan saling bertukar pikiran akan informasi tersebut, dari diskusi juga dapat mengembangkan pola pikir dan berlatih untuk melihat dari berbagai sudut pandang baik secara objektif maupun secara objektif dari orang perorang. Kegiatan diskusi buku ini tidak lain berfungsi sebagai salah satu media untuk penyampaian informasi serta berbagi ilmu dari buku yang dibaca dan mengungkapkan berbagai pandangan serta bertukar pikiran mengenai isi dari buku tersebut.

a. Dunia Semar karya Ardian Kresna
Diskusi buku minggu ini dimulai dengan pembukaan dari Saudari Rohaeni sebagai moderator dan penyampaian isi buku dari saudara Muhamad Yunus yang mengulas buku berjudul Dunia Semar karangan Ardian Kresna, salah satu penulis terkenal dalam spesialisasi pewayangan. Buku ini secara garis besar menceritakan mengenai salah seorang tokoh dalam dunia pewayangan yang muncul bersama tokoh punakawan lainnya yakni Petruk, Gareng dan Bagong. Keempat tokoh ini dapat dikatakan sebagai tokoh yang hanya muncul dalam dunia pewayangan di tanah air karena tokoh ini tidak muncul dalam cerita pewayangan di negara lain, bahkan di tanah Hindustan sebagai negara asalnya.
Semar digambarkan sebagai sosok yang bijaksana dan menjadi pembawa “hidden curriculum” –memakai istilah dalam dunia pendidikan yang dikutip oleh kang Yunus- yang pada awalnya dimunculkan untuk memberikan warna baru yang bernuansa humor agar pementasan pewayangan tidak monoton tetapi tetap sesuai dengan jalan ceritanya. Pementasan wayang sendiri pada awalnya hanya dipentaskan pada acara-acara sakral tertentu namun pada perkembangannya wayang jugalah yang menjadi salah satu media dakwah dalam penyebaran agama islam seperti yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dari tanah Jawa.
Semar sebagai salah satu cerminan dari sifat manusia, secara filosofis digambarkan dengan bibir tersenyum dan mata menangis sebagai cerminan dari dua sifat dasar emosional manusia yang tak pernah terlepas dari kebahagiaan dan kesedihan yang saling mengisi satu sama lain dan tidak dapat terpisahkan layaknya dua sisi mata uang yang kehadirannya akan datang silih berganti dalam kehidupan manusia. Semar digambarkan dengan memiliki raut wajah berkeriput tetapi rambut berkucir yang merupakan cerminan dari keadaan manusia yang senantiasa memiliki sisi anak kecil dalam dirinya. Semar juga digambarkan sebagai sosok yang memiliki perut besar sebagai gambaran dari ketidakterbatasan hawa nafsu yang dimiliki oleh manusia, dada besar sebagai gambaran dari sisi feminim yang dimiliki bahkan olel pria serta berbadan bulat sebagai bentuk kesederhanaan dan kebijaksanaan yang dimiliki manusia.
Dalam satu versi mengenai asal dari tokoh semar ini menyebutkan bahwa semar berasal dari telur yang diminta oleh Sanghyang Manunggal kepada Antaboga yang akhirnya pecah menjadi 3 bagian yakni kuning telur yang akhirnya menjadi Batara Guru, Cangkang telur yang pada akhirnya menjadi Bagong serta Putih Telur yang menjadi Semar atau Batara Ismaya.

b. Ethic at Work
Setelah penyampaian dan penjelasan mengenai Semar sebagai salah satu tokoh pewayangan yang sering menjadi ikon dalam dunia pewayangan di Indonesia pada khususnya, diskusi buku dilanjutkan dengan penyampaian serta penjelasan isi buku yang berjudul Ethic at Work oleh Saudari Lisna Rachmayanti. Buku ini ditulis oleh salah seorang direktur pada lembaga kursus kepribadian di Amerika yang membuka cabangnya di Indonesia. Buku ini berisi mengenai bagaimana etika dalam bekerja serta mencintai pekerjaan yang digeluti. Selain etika dalam bekerja, buku ini juga mengajarkan bagaimana etika dalam berperilaku dan memposisikan diri dalam berbagai keadaan dan kondisi. Seperti bagaimana memposisikan diri ketika berbicara dengan lawan bicara yang berasal dari kalangan high class tentunya akan berbeda dengan cara kita berbicara dengan lawan bicara yang berasal dari kalangan low class atau middle class. Buku ini juga menjelaskan mengenai bagaimana tata aturan dan attitude dalam menjenguk orang sakit dan berinteraksi dengan rekan bisnis.
Ethic at Work pun menjelaskan kepada pembacanya bagaimana cara membaca ekspresi, tingkah laku serta tindakan seseorang yang menyiratkan apa yang dia pikirkan atau apa yang dia rasakan. Buku ini bisa kita sebut sebagai buku kursus kepribadian dan buku psikologis yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi kita baik dalam kehidupan sehari-hari, dalam pekerjaan dan bisnis maupun dalam kaitannya dengan interaksi antar individu ataupun dalam masyarakat pada umumnya.


c. Surat dari Sang Maha Pencipta
Surat dari Sang Maha Pencipta merupakan kumpulan cerita dari seluruh dunia yang pada intinya menceritakan penggalan-penggalan kisah mengenai kehidupan manusia dengan berbagai permasalahan dan kendalanya dalam proses menemukan arti kehidupan dan memaknai kehidupannya. Buku ini ditulis oleh Fani Krismawati atau memiliki nama pena Vanny Chrisma W dan berisikan total 96 buah cerita pendek yang menggugah emosi dan perasaan pembacanya yang disampaikan dan dipaparkan oleh Saudari Elin Karlina.
Dalam salah satu cerita dari buku Surat dari Sang Maha Pencipta ini berjudul Cerita Si Tukang Cukur yang menceritakan mengenai interaksi antara tukang cukur dan orang yang dicukurnya. Orang yang dicukur ini menanyakan mengenai eksistensi Tuhan, dia beralasan bahwa jika Tuhan ada maka tidak akan ada di dunia ini orang yang berduka, bersedih dan mengalami kesulitan. Ketika si tukang cukur kesulitan untuk menjawabnya, maka si penanya tersebut merasa menang. Tetapi, sebelum keluar dari tempat si tukang cukur tadi, mereka melihat seorang laki-laki yang memiliki rambut gondrong dan panjang. Lalu tukang cukurpun berkata “saya yakin tidak ada tukang cukur di dunia ini”. Tentu saja hal ini membuat orang yang dicukur berkata dengan sedikit kesal “bagaimana mungkn kau mengatakan bahwa tukang cukur itu tidak ada? Sementara saya baru saja selesai bercukur disini?” lalu si tukang cukur itu pun menjawab “karena jika ada tukang cukur, maka tidak akan ada orang yang berambut panjang dan gondrong”. Orang yang dicukur itu pun diam. Hal ini menjelaskan bahwa bagaimana kita menganggap Tuhan itu ada bukanlah berada dalam tataran logika manusia, melainkan berada dalam hati dan sanubari setiap manusia dengan bagaimana usahanya mencapai tujuan dari hiduonya sendiri.
Dalam judul lain buku ini yang berjudul Surat dari Sang Maha Pencipta, penulis menguraikan sebuah tulisan yang memposisikan dirinya sebagai Tuhan yang dengan sabarnya menunggu Syukur dari hambanya yang bahkan tidak pernah mengingatnya namun tetap dengan sifatnya yang Maha Pengasih dan Penyayang tetap memberikan Rezekinya kepada setiap hambaNya. Hanya saja, sisi negatif dan celah yang menjadi kritikan dari buku ini adalah kesan penulis yang memunculkan sifat Tuhan layaknya manusia yang layaknya ingin mendapatkan pujian dan menunggu syukur dari hambaNya, padahal Kuasa Tuhan tidak berbatas.




d. Kemampuan Otak Bayi
Saudari Anita Sukmayanti menyajikan sebuah paparan dari sumber bacaan yang ia dapatkan dari artikel yang memuat mengenai kemampuan otak bayi dengan segala kelebihan dan keutamaannya. Secara perkembangan sistem kognitifnya, manusia memang mengalami perkembangan yang sangat pesat pada usia antara 0-3 tahun dibandingkan usia lainnya. Artikel ini mengupas mengenai kemampuan bayi meraba dan mengartikan emosi dari orang-orang di sekelilingnya, bagaimana ia merasakan kenyamanan dan kehangatan dalam dekapan sang Ibu, merespons setiap tindakan dan stimulus yang diberikan oleh orang-orang di sekelilingnya. Selain itu, bayi juga memiliki kemampuan dalam meniru dan menilai karakter-karakter orang yang ada di sekeliling mereka.

e. Bukan Guru Umar Bakri karya Zaina Umuri
buku Bukan Guru Umar Bakri ini menjadi penutup pembahasan pertemuan kami mengenai diskusi buku kali ini. Buku ini menceritakan bagaimana seorang guru sebagai pendidik juga bisa melakukan bisnis atau usaha-usaha lain yang dapat menunjang kondisi perekonomian dan meningkatkan pendapatan disertai dengan kiat-kiat dan tips-tips dalam pengelolaan usaha tersebut.
Sebagai seorang pendidik, guru memiliki tugas, fungsi serta peranan menjadi seorang pendidik dan pembimbing bagi peserta didiknya. Selain kedua tugas mulia tersebut, seorang guru pun dituntut untuk memiliki kecakapan menjadi seorang tauladan, trainer pendidikan, pendongeng dan tuntutan-tuntutan lain yang berkaitan erat dengan profesi keguruannya.
Guru selain menjadi tenaga pengajar dan pendidik di sekolah juga mampu dan boleh mengembangkan sayapnya di bidang usaha dan bisnis lain dengan penguasaan kunci yang berupa mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki oleh guru untuk mengembangkan usaha barunya. Selain itu juga dengan trik penguasaan dalam bidang yang digelutinya dan melakukan pekerjaan yang digelutinya dengan cinta serta senantiasa untuk mencoba berfikir realistis.