Pernahkah kalian menulis buku harian?Pernahkah kalian membuka kembali buku harian yang pernah kalian tulis misalkan 3 tahun yang lalu atau 5 tahun yang lalu?Lalu bagaimana tanggapan kalian?Mungkin kalian akan refleks berfikir dan berkata “saya dulu alay sekali’, atau “tulisan saya dulu jelek sekali. Ya, pada hakikatnya, menulis merupakan menyalurkan pikiran kita dan melatih perbendaharaan bahasa yang kita miliki. Di awal kita menulis mungkin masa SMA, SMP atau bahkan SD di buku harian misalnya, hal-hal kecil pun kita tulis dengan bahasa yang “apa adanya” dan menunjukkan identitas diri kita pribadi. Dari tulisan pun dapat terlihat bahwa manusia mengalami perkembangan khususnya dalam hal pemikiran, daya imajinasi serta kekayaan perbendaharaan kata yang dimiliki.Sedikit demi sedikit, seiring berjalannya waktu, bertambahnya pengalaman serta berkembangnya pemikiran kita, tulisan kita pun mengalami perkembangan sedikit demi sedikit. Mulai dari yang terkesan “apa adanya” menjadi “ada apanya” atau menggunakan bahasa kiasan yang memiliki makna, mulai dari yang terkesan “kekanak-kanakan” menjadi “lebih dewasa”. Mulai dari hal-hal yang bersifat konkrit yang ditemui menjadi abstrak, dari hal yang bersifat imajinatif menjadi realistis. Sungguh suatu perkembangan yang sebenarnya tidak boleh dipandang sebelah mata.Penulis sendiri sudah mulai menulis sejak tingkat Sekolah Dasar yang ditungkan dalam buku harian. Tentunya hal itu masih berkaitan dengan hal-hal kecil yang terjadi di sekitar diri penulis, seperti jadwal harian, pengalaman ketika belajar dikelas, bermain dengan kawan dan hal-hal kecil lainnya. Kebiasaan menulis ini sempat berhenti dan memang tidak teratur setiap harinya, SD, SMP, SMA, Penulis melihat begitu banyak perubahan khususnya dalam hal gaya bahasa dan gaya tulisan yang memang masih ditulis dengan tangan. Memasuki masa Sekolah menengag atas (SMA), Penulis mulai mengembangkan tulisannya bukan hanya dari catatan harian, melainkan juga dengan Cerpen, dan artikel.Hobi membaca saya yang sudah akut sejak Sekolah Dasar menambah perbendaharaan kata menjadi lebih kaya. Hal ini pulalah yang mungkin senantiasa memancing keinginan saya untuk menulis. Bukan hanya membaca karya orang lain, tetapi juga membaca dan menikmati karya yang saya tulis sendiri walaupun masih berupa artikel atau tulisan-tulisan pendek dan bukan berupa buku.Salah satu impian saya adalah membuat suatu buku berkaitan dengan biografi diri pribadi dan tentu saja untuk menjadikan buku biografi ini menjadi bermakna penulis harus memberikan kontribusi atau manfaat bagi sekelilingnya atau daerahnya, sehingga hal ini pulalah yang mendasari penulis untuk melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan. Salah satu ketertarikan penulis akhir-akhir ini adalah dalam hal lingkungan, jadi mungkin buku yang pertama saya keluarkan adalah tentang lingkungan. Semoga. ^^Bandung, 30 Januari 2014
Tentang Hidup, Kehidupan, Pikiran, Hati, Emosi, Senja, Dandellion, Ilalang dan... Langit ^^
Kamis, 30 Januari 2014
Tentang Hoby #2
KPU Goes to Campus, 17 Desember 2013
Kegiatan
ini dikemas dalam bentu diskusi panel dengan pemateri yakni Bapak Fery Kurnia R
(Komisioner KPU RI), Bapak Dr. Cecep Darmawan (Dosen Pasca sarjana UPI), dan
Bapak Dr. Syahidin (Diretur Direktorat Kemahasiswaan UPI). Kegiatan tersebut
diawali dengan sambutan-sambutan dari pihak kampus dan Pembantu Rektor III
Bidang Kemahasiswaan UPI menganjurkan seluruh civitas akademika khususnya
mahasiswa untuk menggunakan hak suaranya dan tidak golput dalam pemilu tanggal
9 April 2014 kelak. Bahkan begitu istimewanya hari tersebut, pemerintah
menetapkan tanggal 9 April 2014 sebagai hari libur Nasional.
Materi
yang pertama disampaikan oleh Bpk Fery Kurnia Rizkiyansyah, S.Ip, M. Si sebagai
Komisioner KPU Pusat yang menyampaikan materi mengenai Strategi Peningkatan
Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu. Beliau menyampaikan bahwa setidaknya
terdapat tiga modal dasar yang dimiliki oleh mahasiswa, yakni Kritisisme,
Idealisme dan intelektualisme ditambah dengan Peran mahasiswa yang
menjadikannya sebagai satu komponen yang teramat penting dalam pembentukan
kelembagaan politik karena sejatinya, sebuah negara tidak akan berhasil salah
satunya karena bangunan desan dari lembaga politik yang dimilikinya. Seperti sebuah
pondasi politik yang ideal yang ingin dimiliki Indonesia berupa Persaingan
sehat dan partisipasi masyarakat yang diwujudkan dalam mekanisme pemilu. KPU
sendiri merupakan lembaga independen yang diatur dalam UU No. 15 tahun 2011
tentang penyelenggara Pemilu. Pemilu tahun 2014 akan diikuti oleh 15 partai
dimana didalamnya terdiri dari 12 partai Nasional dan 3 partai lokal. Untuk
mengetahui para calon dan data pemilih selengkapnya, KPU menyediakan portal
informasi di www.kpu.go.id
yang bisa diakses sebagai jembatan informasi.
Materi
kedua disampaikan oleh Bpk Dr. Cecep Darmawan, S. Pd, S. Sp, M. Si seorang
dosen Pascasarjana UPI yang menyampaikan materi mengenai Menjadi Pemilih
Cerdas: Kajian Teori Sosiologi, Politik dan Psikologi Politik. Partisipasi
politik merupkana setiap aktivitas yang berkaitan dengan hal ikhwal politik
dalam lingkup sistem politik, termasuk didalamnya berpartisipasi memberikan
suara dalam pemilu merupakan hal terkecil yang bisa dilakukan seseorang sebagai
bentuk partisipasi politik bagi negaranya. Menurut Thomas M. Magstadt,
partisipasi politik ditandai oleh 4 hal, yakni adanya opini publik; Polling;
Pemilu; dan demokrasi langsung. Menurut pendekatan psikologi, pemilih cenderung
memilih berdasarkan persepsi dan penilaian pribadi terhadap kandidat, persepsi
dan penilaian pribadi terhadap tema-tema yang diberikan, serta identifikasi
terhadap partai. Sedangkan, berdasarkan tingkat kesadaran politik, terdapat 5
jenis pemilih, yakni Apolitis, Apatis, Skeptis, Sosionomous dan Otonom
(Rasinal-kritis). Di sisi lain, terdapat beberapa preferensi perilaku pemilih,
yakni Partai, Figur, Program, Ideologi, Kesamaan Identitas dan Pragmatis.
Beliau pun memberikan beberapa tips guna menjadi pemilih cerdas, yakni:
1. Objektif
dan pahami track record calon
2. Lihat
dan pahami visi, misi dan program kerja yang dipaparkan
3. Keberpihakan
calon pada kepentingan publik
4. Jangan
terjebak pada politik praktis
5. Hindari
dan waspadai money politik dan serangan fajar
6. Jangan
mudah terpengaruh oleh opini publik dan isu negatif
7. Berdo’a
sebelum memilih
Materi
terakhir disampaikan oleh Bpk Dr Syahidin, Direktur Direktorat Kemahasiswaan
UPI yang menyampaikan materi mengenai Peran Mahasiswa dalam Pemilu dipandang
dari persepktif Agama. Kurangnya partisipasi mahasiswa dalam pemilu disebabkan
oleh beberapa alasan, yakni:
1. Kurangnya
pemahaman terhadap hak dan kewajiban dalam hal kepemimpinan, dalam agama islam
memilih seorang pemimpin merupakan hal yang diwajibkan. Sebuah pepatah
mengatakan lebih baik dipimpin seribu tahun oleh pemimpin yang tidak
berkompeten dibandingkan tidak memiliki pemimpin dalam 1 hari. Walaupun tentu
saja pepatah ini tidak menganjurkan untuk memilih pemimpin yang asal dan
sekenanya. Melainkan pemilih harus bisa menganalisis dan memilih pemimpin yang
terbaik dari yang terbaik.
2. Dikotomis
pemahaman antara agama dan politik, adanya pandangan bahwa politi hanya untuk
urusan dunia dan sama sekali tidak berhubungan dengan akhirat. Padahal memilih
seorang pemimpin merupakan salah satu kewajiban kita dalam hal sosial (Hablum
minannaas). Serta adanya pandangan bahwa jika kita salah emmilih pemimpin dan
pada akhirnya pemimpin tersebut melakukan korupsi atau kesalahan maka si
pemilih pun akan mendapatkan dosa. Hal ini keliru, karena kewajiban kita
sadalah memilih dan mencoba memilih dengan benar sedangkan jika calon yang
dipilih melakukan kesalahan, maka itu adalah kesalahannya dan dosa terlimpahkan
padanya yang tidak benar dalam emmegang amanah yang telah diberikan oleh
masyarakat.
3. Terbentuknya
sikap apolitis dan apatis karena adanya money politic
Sebagai
mahasiswa yang emmiliki peran salah satu diantaranya adalah Agen of Change,
tentunya disini mahasiswa berperan untuk melakukan perubahan dan penyalur
informasi kepada masyarakat awam untuk memberikan pemahaman politik yang benar.
Jadi, ayo berikan suaramu pada tanggal 9 April 2014!
Lingkungan, Harga yang Dibayar Mahal untuk Kesejahteraan Manusia
Asia sebagai salah satu
Benua dan wilayah dengan berbagai negara dan latar belakang serta kekayaannya
menjadikan Asia sebagai salah satu potensi besar dunia. Jika ditelisik lebih
jauh, hal apalagikah yang kurang atau tidak ada dalam kawasan Asia ini? Potensi
sumberdaya alam baik hayati maupun non hayatinya, potensi sumber daya manusia,
teknologi yang tidak dapat dipandang sebelah mata jika dibandingkan dengan
Negara-negara Eropa, budaya, sejarah, dan lain sebagainya.
Komunitas One Asia
Foundation merupakan komunitas yang tergabung didalamnya pelajar dan mahasiswa
yang notabene sebagai generasi penerus dan unsur dalam kaum elit pendidikan
yang berasal dari berabagai negara dengan tujuan menjadikan Asia Satu dengan
presiden saat ini yaitu MR. Sato Yoji.
Terbentuknya Asia satu
bukan berarti mengesampingkan keberagaman dan pluralitas dari perbedaan-perbedaan
seperti asal negara, ras, suku bangsa, agama, budaya, latar belakang politik
maupun latar belakang sejarah peserta yang tergabung dalam komunitas yang
terdapat dan tersebar diseluruh wilayah Asia, melainkan sejenak mencoba
melupakan perbedaan tersebut dengan tujuan menjadikan Asia Satu guna didalamnya
juga menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam wilayah Asia ini.
Penulis sendiri
merupakan salah seorang mahasiswa yang menjadi perwakilan dari jurusan
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia dalam
komunitas One Asia Foundation. Dari sekian banyak aspek yang dapat dilihat dari
Asia, penulis pribadi teramat sangat tertarik pada bidang lingkungan yang
memang terpengaruhi oleh salah satu mata kuliah pilihan dalam jurusan, yakni
Pendidikan Lingkungan Hidup.
Lingkungan hidup begitu
menjadi banyak diperbincangkan setelah munculnya dugaan-dugaan terjadinya
degradasi kualitas lingkungan hidup yang begitu pesat semenjak terjadinya
Revolusi indutri di Inggris pada kisaran abad 17-18. Eksplorasi terhadap alam
secara besar-besaran kemudian dilakukan oleh masyarakat d seluruh dunia.
Munculnya fenomena seperti melelehnya gunung es dan meningginya permukaan air
laut serta bumi yang terasa semakin panas menjadi indikasi atas terjadinya
degradasi kualitas lingkungan hidup secara drastis.
Masalah lingkungan
hidup ini juga terkadang menjadi masalah yang bukan lagi bersakala lokal
ataupun nasional, melainkan internasional dan mempengaruhi hubungan
antarnegara. Mungkin masih jelas di ingatan kita bagaimana kebakaran hutan di
wilayah Indonesia yang asapnya begitu meresahkan dan mengganggu negara tetangga
seperti Malaysia, Singapura sehingga “panasnya kebakaran hutan mengakibatkan
panasnya hubungan antarnegara”.
Bisa dibayangkan apa
jadinya hubungan antar negara jika terjadinya kerusakan dan menurunnya kualitas
lingkungan. Permasalahan ini bukan hanya milik satu negara saja, Indonesia
misalnya yang dikenal sebagai paru-paru dunia tidak dapat dijadikan sebagai
satu-satunya pihak yang disalahkan dalam penggundulan dan kerusakan paru-paru
dunia tersebut. Melainkan juga seluruh pihak yang terlibat didalamnya, dan
penanggulangannya pun bukan hanya dibebankan dan dilimpahkan kepada pihak
Indonesia saja, melainkan kepada seluruh pihak. Bukankah efeknya akan mendunia?
Bukankah hutan Indonesia merupakan “Paru-paru Dunia” bukan “Paru-paru
Indonesia”? bukankah bumi itu satu? Bukankah keseimbangan ekosistem harus
senantiasa dijaga? Bukankah jika salah satu sistem didalamnya rusak atau tidak
berfungsi sebagaimana mestinya maka akan terjadi pula ketidaksesuaian dan
ketidakseimbangan pada ekosistem keseluruhannya? Terlalu sulitkah Asia bersatu
untuk menuju pemeliharaan dan penyesuaian kembali fungsi dari lingkungan?
Lain hutan, lain pula
lautan. Laut atau perairan menempati hingga 71% dari keseluruhan permukaan
bumi. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya ekosistem bumi jika terjadi kerusakan di
laut atau perairan. Tumpahan minyak, eksplorasi bahan bakar yang terdapat di
lautan, penggunaan bahan kimia, hingga penggunaan bom atau alat peledak dalam
mencari ikan menjadi masalah-masalah yang harus diselesaikan bersama bukan
hanya oleh satu negara melainkan oleh seluruh negara.
Hutan, laut, daratan,
hingga udara sudah mengalami perubahan yang ke arah degradasi atau penuruan
kualitas. Eksploitasi bahan tambang yang tidak bertanggungjawab, pembangunan
yang tidak memperhatikan lingkungan, penanggulangan sampah dan limbah,
pemanasan global, mutasi genetik, rekayasa genetika, pengembangan teknologi
yang mengacu pada terjadinya kerusakan lingkungan, dan lain sebagainya.
Disadari atau tidak,
perubahan yang terjadi pada lingkungan ini sedikit banyaknya akan dan telah
mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri. Relakah manusia menggadaikan alam
dan lingkungan yang notabene “Pinjaman” dari anak cucu kita dengan
“kesejahteraan fana nan sesaat”? satukan Asia, wujudkan kehidupan yang selaras,serasi
dan harmonis dengan alam. Lingkungan Hidup adalah hidupku, Hidupku untuk
Lingkungan.
Ditulis Oleh: Elin
Karlina
Mahasiswa S1 Pendidikan
IPS Universitas Pendidikan Indonesia
Januari, 2014
Langganan:
Postingan (Atom)