Kamis, 30 Januari 2014

Tentang Hoby #2



Pernahkah kalian menulis buku harian?
Pernahkah kalian membuka kembali buku harian yang pernah kalian tulis misalkan 3 tahun yang lalu atau 5 tahun yang lalu?
Lalu bagaimana tanggapan kalian?
Mungkin kalian akan refleks berfikir dan berkata “saya dulu alay sekali’, atau “tulisan saya dulu jelek sekali. Ya, pada hakikatnya, menulis merupakan menyalurkan pikiran kita dan melatih perbendaharaan bahasa yang kita miliki. Di awal kita menulis mungkin masa SMA, SMP atau bahkan SD di buku harian misalnya, hal-hal kecil pun kita tulis dengan bahasa yang “apa adanya” dan menunjukkan identitas diri kita pribadi. Dari tulisan pun dapat terlihat bahwa manusia mengalami perkembangan khususnya dalam hal pemikiran, daya imajinasi serta kekayaan perbendaharaan kata yang dimiliki.
Sedikit demi sedikit, seiring berjalannya waktu, bertambahnya pengalaman serta berkembangnya pemikiran kita, tulisan kita pun mengalami perkembangan sedikit demi sedikit. Mulai dari yang terkesan “apa adanya” menjadi “ada apanya” atau menggunakan bahasa kiasan yang memiliki makna, mulai dari yang terkesan “kekanak-kanakan” menjadi “lebih dewasa”. Mulai dari hal-hal yang bersifat konkrit yang ditemui menjadi abstrak, dari hal yang bersifat imajinatif menjadi realistis. Sungguh suatu perkembangan yang sebenarnya tidak boleh dipandang sebelah mata.
Penulis sendiri sudah mulai menulis sejak tingkat Sekolah Dasar yang ditungkan dalam buku harian. Tentunya hal itu masih berkaitan dengan hal-hal kecil yang terjadi di sekitar diri penulis, seperti jadwal harian, pengalaman ketika belajar dikelas, bermain dengan kawan dan hal-hal kecil lainnya. Kebiasaan menulis ini sempat berhenti  dan memang tidak teratur setiap harinya, SD, SMP, SMA, Penulis melihat begitu banyak perubahan khususnya dalam hal gaya bahasa dan gaya tulisan yang memang masih ditulis dengan tangan. Memasuki masa Sekolah menengag atas (SMA), Penulis mulai mengembangkan tulisannya bukan hanya dari catatan harian, melainkan juga dengan Cerpen, dan artikel.
Hobi membaca saya yang sudah akut sejak Sekolah Dasar menambah perbendaharaan kata menjadi lebih kaya. Hal ini pulalah yang mungkin senantiasa memancing keinginan saya untuk menulis. Bukan hanya membaca karya orang lain, tetapi juga membaca dan menikmati karya yang saya tulis sendiri walaupun masih berupa artikel atau tulisan-tulisan pendek dan bukan berupa buku.
Salah satu impian saya adalah membuat suatu buku berkaitan dengan biografi diri pribadi dan tentu saja untuk menjadikan buku biografi ini menjadi bermakna penulis harus memberikan kontribusi atau manfaat bagi sekelilingnya atau daerahnya, sehingga hal ini pulalah yang mendasari penulis untuk melakukan hal terbaik yang bisa dilakukan. Salah satu ketertarikan penulis akhir-akhir ini adalah dalam hal lingkungan, jadi mungkin buku yang pertama saya keluarkan adalah tentang lingkungan. Semoga. ^^
Bandung, 30 Januari 2014

KPU Goes to Campus, 17 Desember 2013




Dalam rangka menyambut pesta demokrasi Indonesia Pemilu tahun 2014, KPU menyelenggarakan KPU Goes to Campus guna mensosialisasikan acara tersebut dan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk terselenggaranya kegiatan tersebut, seperti yang dilakukan oleh KPU pada Selasa, 17 Desember 2013 yang diadakan di kampus Universitas Pendidikan Indonesia Bumi Siliwangi dengan Tema “Meningkatkan Partisipasi Pemilih dalam Pemilu 2014”.
Kegiatan ini dikemas dalam bentu diskusi panel dengan pemateri yakni Bapak Fery Kurnia R (Komisioner KPU RI), Bapak Dr. Cecep Darmawan (Dosen Pasca sarjana UPI), dan Bapak Dr. Syahidin (Diretur Direktorat Kemahasiswaan UPI). Kegiatan tersebut diawali dengan sambutan-sambutan dari pihak kampus dan Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan UPI menganjurkan seluruh civitas akademika khususnya mahasiswa untuk menggunakan hak suaranya dan tidak golput dalam pemilu tanggal 9 April 2014 kelak. Bahkan begitu istimewanya hari tersebut, pemerintah menetapkan tanggal 9 April 2014 sebagai hari libur Nasional.
Materi yang pertama disampaikan oleh Bpk Fery Kurnia Rizkiyansyah, S.Ip, M. Si sebagai Komisioner KPU Pusat yang menyampaikan materi mengenai Strategi Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Pemilu. Beliau menyampaikan bahwa setidaknya terdapat tiga modal dasar yang dimiliki oleh mahasiswa, yakni Kritisisme, Idealisme dan intelektualisme ditambah dengan Peran mahasiswa yang menjadikannya sebagai satu komponen yang teramat penting dalam pembentukan kelembagaan politik karena sejatinya, sebuah negara tidak akan berhasil salah satunya karena bangunan desan dari lembaga politik yang dimilikinya. Seperti sebuah pondasi politik yang ideal yang ingin dimiliki Indonesia berupa Persaingan sehat dan partisipasi masyarakat yang diwujudkan dalam mekanisme pemilu. KPU sendiri merupakan lembaga independen yang diatur dalam UU No. 15 tahun 2011 tentang penyelenggara Pemilu. Pemilu tahun 2014 akan diikuti oleh 15 partai dimana didalamnya terdiri dari 12 partai Nasional dan 3 partai lokal. Untuk mengetahui para calon dan data pemilih selengkapnya, KPU menyediakan portal informasi di www.kpu.go.id yang bisa diakses sebagai jembatan informasi.
Materi kedua disampaikan oleh Bpk Dr. Cecep Darmawan, S. Pd, S. Sp, M. Si seorang dosen Pascasarjana UPI yang menyampaikan materi mengenai Menjadi Pemilih Cerdas: Kajian Teori Sosiologi, Politik dan Psikologi Politik. Partisipasi politik merupkana setiap aktivitas yang berkaitan dengan hal ikhwal politik dalam lingkup sistem politik, termasuk didalamnya berpartisipasi memberikan suara dalam pemilu merupakan hal terkecil yang bisa dilakukan seseorang sebagai bentuk partisipasi politik bagi negaranya. Menurut Thomas M. Magstadt, partisipasi politik ditandai oleh 4 hal, yakni adanya opini publik; Polling; Pemilu; dan demokrasi langsung. Menurut pendekatan psikologi, pemilih cenderung memilih berdasarkan persepsi dan penilaian pribadi terhadap kandidat, persepsi dan penilaian pribadi terhadap tema-tema yang diberikan, serta identifikasi terhadap partai. Sedangkan, berdasarkan tingkat kesadaran politik, terdapat 5 jenis pemilih, yakni Apolitis, Apatis, Skeptis, Sosionomous dan Otonom (Rasinal-kritis). Di sisi lain, terdapat beberapa preferensi perilaku pemilih, yakni Partai, Figur, Program, Ideologi, Kesamaan Identitas dan Pragmatis. Beliau pun memberikan beberapa tips guna menjadi pemilih cerdas, yakni:
1.      Objektif dan pahami track record calon
2.      Lihat dan pahami visi, misi dan program kerja yang dipaparkan
3.      Keberpihakan calon pada kepentingan publik
4.      Jangan terjebak pada politik praktis
5.      Hindari dan waspadai money politik dan serangan fajar
6.      Jangan mudah terpengaruh oleh opini publik dan isu negatif
7.      Berdo’a sebelum memilih
Materi terakhir disampaikan oleh Bpk Dr Syahidin, Direktur Direktorat Kemahasiswaan UPI yang menyampaikan materi mengenai Peran Mahasiswa dalam Pemilu dipandang dari persepktif Agama. Kurangnya partisipasi mahasiswa dalam pemilu disebabkan oleh beberapa alasan, yakni:
1.      Kurangnya pemahaman terhadap hak dan kewajiban dalam hal kepemimpinan, dalam agama islam memilih seorang pemimpin merupakan hal yang diwajibkan. Sebuah pepatah mengatakan lebih baik dipimpin seribu tahun oleh pemimpin yang tidak berkompeten dibandingkan tidak memiliki pemimpin dalam 1 hari. Walaupun tentu saja pepatah ini tidak menganjurkan untuk memilih pemimpin yang asal dan sekenanya. Melainkan pemilih harus bisa menganalisis dan memilih pemimpin yang terbaik dari yang terbaik.
2.      Dikotomis pemahaman antara agama dan politik, adanya pandangan bahwa politi hanya untuk urusan dunia dan sama sekali tidak berhubungan dengan akhirat. Padahal memilih seorang pemimpin merupakan salah satu kewajiban kita dalam hal sosial (Hablum minannaas). Serta adanya pandangan bahwa jika kita salah emmilih pemimpin dan pada akhirnya pemimpin tersebut melakukan korupsi atau kesalahan maka si pemilih pun akan mendapatkan dosa. Hal ini keliru, karena kewajiban kita sadalah memilih dan mencoba memilih dengan benar sedangkan jika calon yang dipilih melakukan kesalahan, maka itu adalah kesalahannya dan dosa terlimpahkan padanya yang tidak benar dalam emmegang amanah yang telah diberikan oleh masyarakat.
3.      Terbentuknya sikap apolitis dan apatis karena adanya money politic
Sebagai mahasiswa yang emmiliki peran salah satu diantaranya adalah Agen of Change, tentunya disini mahasiswa berperan untuk melakukan perubahan dan penyalur informasi kepada masyarakat awam untuk memberikan pemahaman politik yang benar. Jadi, ayo berikan suaramu pada tanggal 9 April 2014!

Lingkungan, Harga yang Dibayar Mahal untuk Kesejahteraan Manusia



Asia sebagai salah satu Benua dan wilayah dengan berbagai negara dan latar belakang serta kekayaannya menjadikan Asia sebagai salah satu potensi besar dunia. Jika ditelisik lebih jauh, hal apalagikah yang kurang atau tidak ada dalam kawasan Asia ini? Potensi sumberdaya alam baik hayati maupun non hayatinya, potensi sumber daya manusia, teknologi yang tidak dapat dipandang sebelah mata jika dibandingkan dengan Negara-negara Eropa, budaya, sejarah, dan lain sebagainya.
Komunitas One Asia Foundation merupakan komunitas yang tergabung didalamnya pelajar dan mahasiswa yang notabene sebagai generasi penerus dan unsur dalam kaum elit pendidikan yang berasal dari berabagai negara dengan tujuan menjadikan Asia Satu dengan presiden saat ini yaitu MR. Sato Yoji.
Terbentuknya Asia satu bukan berarti mengesampingkan keberagaman dan pluralitas dari perbedaan-perbedaan seperti asal negara, ras, suku bangsa, agama, budaya, latar belakang politik maupun latar belakang sejarah peserta yang tergabung dalam komunitas yang terdapat dan tersebar diseluruh wilayah Asia, melainkan sejenak mencoba melupakan perbedaan tersebut dengan tujuan menjadikan Asia Satu guna didalamnya juga menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam wilayah Asia ini.
Penulis sendiri merupakan salah seorang mahasiswa yang menjadi perwakilan dari jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia dalam komunitas One Asia Foundation. Dari sekian banyak aspek yang dapat dilihat dari Asia, penulis pribadi teramat sangat tertarik pada bidang lingkungan yang memang terpengaruhi oleh salah satu mata kuliah pilihan dalam jurusan, yakni Pendidikan Lingkungan Hidup.
Lingkungan hidup begitu menjadi banyak diperbincangkan setelah munculnya dugaan-dugaan terjadinya degradasi kualitas lingkungan hidup yang begitu pesat semenjak terjadinya Revolusi indutri di Inggris pada kisaran abad 17-18. Eksplorasi terhadap alam secara besar-besaran kemudian dilakukan oleh masyarakat d seluruh dunia. Munculnya fenomena seperti melelehnya gunung es dan meningginya permukaan air laut serta bumi yang terasa semakin panas menjadi indikasi atas terjadinya degradasi kualitas lingkungan hidup secara drastis.
Masalah lingkungan hidup ini juga terkadang menjadi masalah yang bukan lagi bersakala lokal ataupun nasional, melainkan internasional dan mempengaruhi hubungan antarnegara. Mungkin masih jelas di ingatan kita bagaimana kebakaran hutan di wilayah Indonesia yang asapnya begitu meresahkan dan mengganggu negara tetangga seperti Malaysia, Singapura sehingga “panasnya kebakaran hutan mengakibatkan panasnya hubungan antarnegara”.
Bisa dibayangkan apa jadinya hubungan antar negara jika terjadinya kerusakan dan menurunnya kualitas lingkungan. Permasalahan ini bukan hanya milik satu negara saja, Indonesia misalnya yang dikenal sebagai paru-paru dunia tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya pihak yang disalahkan dalam penggundulan dan kerusakan paru-paru dunia tersebut. Melainkan juga seluruh pihak yang terlibat didalamnya, dan penanggulangannya pun bukan hanya dibebankan dan dilimpahkan kepada pihak Indonesia saja, melainkan kepada seluruh pihak. Bukankah efeknya akan mendunia? Bukankah hutan Indonesia merupakan “Paru-paru Dunia” bukan “Paru-paru Indonesia”? bukankah bumi itu satu? Bukankah keseimbangan ekosistem harus senantiasa dijaga? Bukankah jika salah satu sistem didalamnya rusak atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya maka akan terjadi pula ketidaksesuaian dan ketidakseimbangan pada ekosistem keseluruhannya? Terlalu sulitkah Asia bersatu untuk menuju pemeliharaan dan penyesuaian kembali fungsi dari lingkungan?
Lain hutan, lain pula lautan. Laut atau perairan menempati hingga 71% dari keseluruhan permukaan bumi. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya ekosistem bumi jika terjadi kerusakan di laut atau perairan. Tumpahan minyak, eksplorasi bahan bakar yang terdapat di lautan, penggunaan bahan kimia, hingga penggunaan bom atau alat peledak dalam mencari ikan menjadi masalah-masalah yang harus diselesaikan bersama bukan hanya oleh satu negara melainkan oleh seluruh negara.
Hutan, laut, daratan, hingga udara sudah mengalami perubahan yang ke arah degradasi atau penuruan kualitas. Eksploitasi bahan tambang yang tidak bertanggungjawab, pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan, penanggulangan sampah dan limbah, pemanasan global, mutasi genetik, rekayasa genetika, pengembangan teknologi yang mengacu pada terjadinya kerusakan lingkungan, dan lain sebagainya.
Disadari atau tidak, perubahan yang terjadi pada lingkungan ini sedikit banyaknya akan dan telah mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri. Relakah manusia menggadaikan alam dan lingkungan yang notabene “Pinjaman” dari anak cucu kita dengan “kesejahteraan fana nan sesaat”? satukan Asia, wujudkan kehidupan yang selaras,serasi dan harmonis dengan alam. Lingkungan Hidup adalah hidupku, Hidupku untuk Lingkungan.
Ditulis Oleh: Elin Karlina
Mahasiswa S1 Pendidikan IPS Universitas Pendidikan Indonesia
Januari, 2014