Jumat, 11 Oktober 2013

Mempercayakan atau terpaksa percaya"

Percaya, mempercayakan atau terpercayakan?

rasa percaya atau kepercayaan memang sulit sekali ditumbuhkan dan dimiliki khususnya kepada para pemimpin bangsa ini. jangankan sekelas bangsa, krisis kepercayaan terhadap pemimpin ternyata dirasakan pula oleh ruang lingkup yag lebih kecil. seperti organisasi mahasiswa, organisasi kelas bahkan pada diri kita sendiri. sekarang, cobalah bertanya pada diri anda sendiri, percayakah anda bahwa anda akan tetap pada pendirian anda ketika sedang menghadapi masalah dan intervensi dari berbagai pihak? rasa percaya memang kecil tetapi bermakna besar. rasa yang sulit dijabarkan namun jika dipegang dengan teguh maka memiliki makna yang besar baik dari segi kehidupan terkecil hingga bermasyarakat, bernegara dan dunia.

krisis kepercayaan seringkali berbanding lurus dan berkaitan erat dengan adanya krisis kepemimpinan. ketika dalam suatu organisasi mengalami krisis kepemimpinan dan hanya memiliki 1 atau 2 calon pemimpin. mau tidak mau dia atau salah satu dari merekalah yang akan menjadi pemimpinnya. terpilih atau tidak terpilih, memilih maupun tidak memilih maka hanya ada satu dari pilihan tersebut yang akan memimpin. terlebih lagi, Indonesia dengan sistem "Demokrasi voting" nya mengarahkan masyarakat untuk berfikir dan bertindak kolektif, hak-hak dan suara minoritas terpinggirkan sebaliknya suara mayoritas didengungkan bahkan terkesan dibesar-besarkan. lalu, sebelah mana Demokrasinya? mana keadilannya?

sudahlah lupakan masalah demokrasi yang jika dibahas akan jauh lebih panjang lagi dibandingkan maksud awal tujuan penulisan ini sendiri.

setelah terpilih salah seorang pemimpin, maka mu tidak mau, suka tidak suka rakyat atau bawahan harus percaya atau "terpaksa" mempercayakan tampuk kepemimpinan kepadanya. lalu, bagaimana jika celakanya orang yang terpilih (sengaja atau tidak sengaja) ini ternyata tidak berkompeten dan tidak profesional? Miris. sistem yang digadang-gadang sebagai sistem teragung nan sempurna di mata manusia ternyata tidak mampu menyempurnakan dirinya sendiri dalam penerapannya. jadi, kemanakah kepercayaan tersebut harus dibawa? haruskah kita tutup saja rasa percaya dan pengabdian tulus ini dan simpan rapat-rapat kedalam sebuah peti mati, simpan rapi dan berikan pita diatasnya? atau haruskah kita bermuka dua dengan menampilkan cantik dan eloknya diri kita yang dihiasi dengan kata-kata manis sementara perasaan kita sendiri sudah terkubur dalam sebuah lorong gelap yang disebut kematian? atau siapkah kita bersikap bijak dengan menerima keputusan forum dengan besar hati, mengabdi sepenuh hati. walaupun tidak dengan kontribusi fisik maupun materi, bukankah manusia dipersenjatai dengan senjata tercanggih di dunia yang bahkan mengalahkan sistem komputer paling canggih sekalipun? gunakan akal dan pikiran kita untuk senantiasa bersikap waspada, mengawasi, mengamati dan berikan saran serta kritik yangs ekiranya membangun untuk perbaikan di tahap berikutnya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar