Pemilihan Kepala Daerah sejatinya
menjadi ajang pesta demokrasi masyakarat daerah tersebut, masyarakat diberi hak
bebas dan secara langsung memilih kepala daerah yang kelak akan memimpinnya
selama 1 periode pemerintahan. Suatu konsep yang merupakan adopsi dari
Demokrasi yang diterapkan Yunani, dimana juga didalamnya terselip suatu makna
intrinsik agar masyarakat mengenal secara langsung calon yang akan dipilih,
mempelajari, mengamati serta menganalisis calon pemimpinnya kelak. Tapi pertanyaannya
adalah: sudah siapkah masyarakat kita dengan sistem sesempurna itu?
Penulis mengambil contoh dari 2
pemilihan yang berlangsung di daerah penulis yang diadakan secara langsung,
yakni pemilihan ketua Desa serta pemilihan Bupati. Dari kedua sampel pemilihan
tersebut, masih ditemukannya kecurangan-kecurangan dan keanehan yang mewarnainya.
Dalam pemilihan kepala desa misalnya, 1 hari sebelum pemilihan tim sukses dari
salah satu calon tak segan-segan berkunjung ke rumah warga (bukan hanya sekedar
untuk memohon doa restu) dari warga, melainkan juga memberikan sejumlah uang
yang bagi saya pribadi sebagai warga desa tersebut terbilang cukup besar. 50
ribu rupiah! Dan dihitung bukan perkepala keluarga, melainkan per kepala
pemilih.
Lain pemilihan kepala desa, lain pula
pemilihan bupati. Sore hari sebelum pemilihan, segelintir orang membagikan
beberapa bungkus mi instan kepada kepala keluarga. Ketika saya coba tanyakan
kepada pihak terkait, mereka menjawab bahwa mi tersebut merupakan jatah warga
dari calon nomor sekian yang pembagiannya secara merata kepada seluruh warga. Hanya
saja ternyata beberapa kepala keluarga tidak turut terbagikan mi tersebut
(keluarga saya contohnya) hanya karena keluarga kami dianggap pro kepada calon
yang lain. Begitupun dengan beberapa keluarga di blok tempat tinggal kami, semoga
ini bukan dianggap salah satu bentuk protes karena tidak mendapatkan mi instan
tersebut.
Lalu, apa yang dilakukan oleh kaum elit
terpelajar di desa saya? Saya pribadi termasuk golongan mahasiswa merasa malu
karena tidak dapat berbuat apa-apa. Payah sekali. Hanya bisa menyaksikan
kebusukan yang begitu jelas dan nyatanya diwajah saya, dihadapan mata saya
sendiri. Lebih parah lagi, beberapa orang yang juga termasuk ke dalam golongan
kaum terpelajar ini pun turut serta menyukseskan kegiatan pembagian gelap tak
jelas darimana asal dananya tersebut.
Jadi apakah suara murni masyarakat yang
seharusnya tersampaikan berubah menjadi suara kebusukan karena diiming-imingi
uang 50 ribu rupiah dan bahkan 4-5 bungkus mi instan? Lalu bagaimana dengan independensi
mahasiswa yang begitu digadang-gadang dan dipercaya sebagai controller? Apakah juga
dengan mudahnya tergadaikan jika dihadapkan pada hal-hal berbau materi dan
politik praktis? Jika mahasiswanya saja tidak cerdas, lalu bagaimana dengan
masyarakat awam?
Sejatinya, sebelum menghadapi Pemilu
2014 yang merupakan pesta demokrasi bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia,
cerdaskanlah masyarakat agar tidak terjebak pada fenomena politik praktis yang
begitu biasa dan dianggap normal dijalankan. Suatu sifat permissif yang sangat
tidak patut jika dibiarkan berlarut-larut. Semoga Jaya Selalu, Indonesiaku.
Hanya ada dua pilihan jika seseorang
dihadapkan pada situasi seperti ini
Menjadi apatis atau mengikuti arus
Bersyukurlah karena masih ada pilihan
yang lain
Menjadi manusia bebas.
-Soe Hok Gie.
Cirebon, 30 Desember 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar