Kutipan-kutipan
dibawah ini merupakan rangkaian kalimat inspiratif pembuka pikiran, membuka
pemahaman cakrawala, sebuah guncangan dan penyadaran akan kondisi kehidupan dan
bagaimana realita yang sebenarnya dialami oleh Bumi Pertiwi berdasarkan
pandangan seorang pemuda, seorang revolusioner dalam pemikirannya, seorang
pemuda yang menggolongkan dirinya terlepas dari sikap apatis dan ikut arus,
melainkan menyebut dirinya sebagai “Manusia Bebas”. Sebuah cuplikan kata-kata
penuh makna dari sebuah buku semi-Biografi tentang Soe Hok Gie yang diterbitkan
berdasarkan catatan-catatan hariannya di masa pergolakan. Semoga apa yang
beliau alami hanya terjadi pada masa beliau, semoga seluruh keruwetan pemikiran
dan kegalauan perasaannya hanya berlaku ketika masanya, semoga kerusuhan dan
demoralisasi yang beliau ceritakan tidak kembali terulang dan bukan cerminan
dari kondisi bangsa saat. Ini. Yah, semoga.
Nasib terbaik adalah tidak
dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati
muda, dan
Yang tersial adalah umur tua.
Rasa-rasanya memang begitu.
Bahagialah mereka yang mati muda.
Soe Hok Gie
Kutipan di atas merupakan salah satu
kutipan yang cukup terkenal, utamanya dikalangan para mahasiswa. Dari kutipan
diatas, terlihat bagaimana keputusasaan dan frustasi yang dialami oleh beliau
melihat kelam da kelabunya kehidupan yang didominasi oleh golongan kaum elit
politik yang melupakan amanah dan tanggung jawab mereka sebenarnya. Walaupun
kutipan tersebut merupakan sebuah ungkapan keputusasaan, tetapi kekeputusasaan
yang dirasakan bukanlah menjadi alasannya untuk diam tak bergerak, mengambil
sikap apatis dan hanya diam menunggu waktu kehancuran yang ia khawatirkan
datang, melainkan sebuah keputusasaan yang membangkitkan semangat
pergerakannya, menumbuhkan jiwa kedinamisannya, sebuah keprihatinan yang
menggelitik hatinya untuk melakukan sesuatu. Sejatinya, kutipan tersebut
merupakan Sebuah kutipan yang merupakan plesetan dari seorang filsuf Yunani,
Friedrich Nietzsche dari adegan ketika Midas bertanya kepada Silenus tentang
nasib mana yang terbaik bagi manusia; maka Silenus menjawab: “Hai Bangsa
malang, anak-anak bencana dan duka, mengapa aku mengucapkan sesuatu yang
sebaiknya dipendam tak dikatakan? Yang terbaik berada diluar jangkauan –tidak
dilahirkan, menjadi tiada. Nomor dua adalah mati muda”.
Dalam
pendahuluan yang ditulis oleh Daniel Dhakidae, beliau mencoba membandingkan
antara pemikiran seorang Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib yang keduanya bertitik
tolak pada dasar pemikiran yang berbeda, seorang yang berjiwa sekuler dan
religius namun dipertemukan pada satu titik temu tentang kemanusiaan dan
berbicara tentang moralitas bangsa yang ketika saat itu dirasa memprihatinkan.
Aku bukan Nasionalis,
bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan
westernis. Aku bukan komunis, aku bukan humanis. Aku adalah semuanya.
Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin bahwa orang memandang dan
menilaiku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan
dari kelompok ana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Ahmad
Wahib.
Aku bukan Hatta, bukan
Soekarno, bukan Sjahrir, bukan Natsir, bukan Marx dan bukan pula yang
lain-lain. Bahkan... aku bukan Wahib.
Aku bukan Wahib, Aku
adalah me-Wahib. Aku mencari dan terus menerus mencari, menuju dan menjadi
Wahib. Ya, aku bukan aku. Aku adalah meng-aku, yang terus menerus berproses
menjadi aku. Ahmad Wahib.
Dari
tulisan-tulisan Ahmad Wahib diatas, terlihat bahwa hidupnya bukanlah hidup
untuk menjalani hidup menjadi dirinya yang saat itu. Melainkan hidup untuk
menjalani hidup dalam proses mencari arti kehidupannya. Beliau tidak puas untuk
hidup hanya menjadi dirinya ketika itu. Melainkan menginginkan kondisi yang
lebih, lebih baik dari sebelumnya. Dari tulisan-tulisannya, terlihat bagaimana
pemikiran mendalamnya tentang kehidupan yang memang pada hakikatnya merupakan
sebuah proses pembelajaran.
Kemudian
kita beranjak pada reaksi Soe Hok Gie tentang pendapat bahwa hidup berasal dari
harapan-harapan:
Tapi sekarang aku
berpikir sampai dimana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak
mendapatkan apa-apa. Seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah ide-ide,
agama, politik atau pacarnya. Tapi datkah dia berkorban buat tidak apa-apa? Aku
sekarang tengah terlibat dalam pemikiran ini. Sangat pesimis, dan hope for
nothing. Aku tidak percaya akan suatu kejujuran dari ide-ide yang berkuasa, aku
tak percaya Tuhan... tetapi aku sekarang masih mau hidup. Aku tak tahu motif
apa yang ada dalam unconscious mind-ku sendiri.
Pandanganku yang agak
murung bahkan skeptis ini pernah dinamakan sebagai destruktif,... tetapi
bagaimana bila memang hidup adalah keruntuhan demi keruntuhan? Apakah kita
harus berpaling dari fakta-fakta ini? Aku kira tidak, ... makin aku belajara
sejarah, makin pesimis aku, makin lama maikn kritis dan skeptis terhadap apa
pun. Tetapi tentu ada suatu motif mengapa aku begini. Memang life for nothing
agaknya sudah aku terima sebagai kenyataan.
Lalu,
lihatlah bagaimana pandanganya tentang generasi tua ketika ia menemukan
fenomena yang memprihatinkan dimana seorang (bukan pengemis) yang tengah
memakan kulit mangga hanya pada jarak dua kilometer dari istana negara:
Kita, generasi kita,
ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau. Generasi kita yang
menjadi hakim atas mereka yang dituduh koruptor-koruptor tua, seperti (nama
pejabat-pejabat tinggi,red). Kitalah yang dijadikan generasi yang akan
memakmurkan Indonesia.
Indonesia sekarang
turun, dan selama tantangan sejarah belum dapat dijawabnya, ia akan hancur.
“Tanahku yang malang”. Harga barang membubung, semua makin payah. Gerombolan
menteror. Tentara menteror. Semua menjadi teror.
Siapakah yang
bertanggung jawab atas hal ini? Mereka generasi tua: Soekarno, Ali Iskak, Lie
Kat Teng, Ong Eng Die, semuanya pemimpin-pemimpin yang harus ditembak di
Lapangan Banteng. Cuma pada kebenaran masih kita harapkan. Dan radio masih
berteriak-teriak menyebarkan kebohongan. Kebenaran Cuma ada di langit dan dunia
hanyalah palsu, palsu. (Kamis, 10 Desember 1959)
Betapa
sebuah pemikiran yang radikal dan mendalam atas keprihatinannya pada kondisi
dan keadaan bangsa saat ini. Suatu ironi yang terjadi akibat adanya ketimpangan
yang begitu besar dan jurang perbedaan yang begitu dalam. Sebuah tembok pemisah
yang begitu lebar, tebal dan sulit untuk ditembus.
Di
catatan lain, Gie menulis pemikirannya tentang pembukaan jurusan publisistik
yang dihadiri oleh presiden sekaligus sambutannya. Reaksi dari kecenderungan
dan keberpihakan pers terhadap pemerintah yang tidak menjalankan tugas dan
ketidaksesuaian fungsinya yang seharusnya berfifat netral dan mengabarkan
hal-hal yang bersifat obyektif:
Kita dininabobokan
bahwa produksi padi naik, produksi kain maju, gerombolan dikalahkan dan
seterusnya dan seterusnya. Tetapi rakyat akan bertanya: mengapa beras mahal,
ini mahal dan lain-lain. Buat apa kita menggambarkan bla gambaran tadi tidak
sesuai dengan kenyataan? Apakah tugas pers seperti Domei yang mengabarkan yang
muluk-muluk? Lihat, Jepang kalah juga oleh berita-berita yang salah.
Seseorang yang berani
menyerang koruptor-koruptor lalu ditahan tanpa sebab. Mochtar Lubis ditahan
tanpa alasan. Haria Rakyat diberangus karena berani memuat tulisan yang tida
menguntungkan pemerintah. Saya buka seorang Komunis, tapi pembengarusan Harian
Rakyat adalah pelanggaran terhadap Demokrasi. Dan kita, rakyat sedang dibawa ke
kediktatoran. Kita merayakan hak-hak azasi tetapi kita merobek-robek hak-hak
tadi. Kita memuji demokrasi tetapi memotong lidah seseorang kalau berani
menyetakan pendapat yang merugikan pemerintah. (Sabtu, 12 Desember 1959)
Di
hari lain, adapula rekasi yang Gie berikan mengenai berita tentang hukuman mati
atas diri Sa’adon, Tasrif dan Jusuf Ismail yang sejujurnya untuk saya sendiri
pun tak mengenal dan asing akan nama-nama ini:
Delapan puluh juta
rakyat Indonesia mengacungkan tangan menanti harapan atas revolusi ’45. Dan
mereka sia-sia menanti. Mereka hidup melarat dan pemimpin-pemimpin seperti
Soekarno hidup mewah. Dan rakyat yang telah berjuang itu telah dikhianati oleh
pemimpin-pemimpinnya. Kaum intelek takut terhadap kenyataan. Dan ketiga
“pahlawan bagi dirinya sendiri” telah berani dan melakukan penggranatan.
Merekalah abdi rakyat, dan mereka diperlukan oleh Lubis cs. Merekalah yang
menguasai amanat “penderitaan rakyat” dan terdorong oleh rasa tanggung jawab
terhadap 80 juta, melakukan perbuatan itu.
Tiga orang berjalan
Maut makin mendekat
Dan sebuah jalan buntu dimuka
Maut makin mendekat
Ia mengemis, meminta hidup
Tapi “beliau” menolaknya.
Masyarakat
Borjuis
Buat
L.B.S.
Ada suatu yang patut ditangisi
Aku kira kaupun tahu
Masyarakatmu, masyarakat brjuis
Tiada kebenaran disana
Dan kalian selalu menghindarinya
Aku selalu serukan (dalam hati
tentu)
“wahai, kaum proletar sedunia”
Berdoalah untuk masyarakat borjuis.
Ada golongan yang tercampak dari
kebenaran
Dan berdiri di atas nilai kepalsuan
Aku kira, tiada bahagia disana
Sebab tiada kasih, kebenaran dan
keindahan
Dalam kepalsuan
Aku akan selalu berdoa baginya
(aku sendiri tak percaya pada doa,
maaf)
Aku kira anda tiada kenal kasih
(nafsu tentu ada)
Apakah bernilai dengan uang
Dan padamu, kawan
Semua adalah uang, perhitungan
saldo
Tiada yang indah dalam kepalsuan
(engkau tentu yakin?)
Di sinilah a moral ditutup oleh a
moral
Disinilah tabir-tabir yang terlihat
Dan seringkali aku bersepeda
sore-sore
Bertemu dengan gadismu (borjuis
pula)
Aku begitu sedih dan kasih
Aku begitu sedih dan kasih
Ya, Tuhan (aku tek percaya Tuhan)
Berilah mereka kebenaran
Aku tabu
Gadis cantik di mobil, bergaun
abu-abu
Tapi bagiku tiada apa. (Minggu, 12
Juni 1960)
Dalam catatannya pada Sabtu, 18 Juni
1960, bahkan seorang pastor pun tak luput dari kritikan pedasnya, berikut ini
catatannya:
Dahulu aku kira pastor-pastor
adalah kelas rakyat, dia adalah satu dengan rakyat. Tetapi setelah aku masuk
(sekolah) Kanisius, kesanku berubah. Pastor-pastor itu adalah kelas baru. Kelas
yang berkuasa dalam agama. Ia adalah yang memonopoli kebenaran. Lihat saja cara
hidupnya: mewah dan menjilat-jilat kepada golongan yang berkuasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar