Kamis, 30 Januari 2014

Lingkungan, Harga yang Dibayar Mahal untuk Kesejahteraan Manusia



Asia sebagai salah satu Benua dan wilayah dengan berbagai negara dan latar belakang serta kekayaannya menjadikan Asia sebagai salah satu potensi besar dunia. Jika ditelisik lebih jauh, hal apalagikah yang kurang atau tidak ada dalam kawasan Asia ini? Potensi sumberdaya alam baik hayati maupun non hayatinya, potensi sumber daya manusia, teknologi yang tidak dapat dipandang sebelah mata jika dibandingkan dengan Negara-negara Eropa, budaya, sejarah, dan lain sebagainya.
Komunitas One Asia Foundation merupakan komunitas yang tergabung didalamnya pelajar dan mahasiswa yang notabene sebagai generasi penerus dan unsur dalam kaum elit pendidikan yang berasal dari berabagai negara dengan tujuan menjadikan Asia Satu dengan presiden saat ini yaitu MR. Sato Yoji.
Terbentuknya Asia satu bukan berarti mengesampingkan keberagaman dan pluralitas dari perbedaan-perbedaan seperti asal negara, ras, suku bangsa, agama, budaya, latar belakang politik maupun latar belakang sejarah peserta yang tergabung dalam komunitas yang terdapat dan tersebar diseluruh wilayah Asia, melainkan sejenak mencoba melupakan perbedaan tersebut dengan tujuan menjadikan Asia Satu guna didalamnya juga menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam wilayah Asia ini.
Penulis sendiri merupakan salah seorang mahasiswa yang menjadi perwakilan dari jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia dalam komunitas One Asia Foundation. Dari sekian banyak aspek yang dapat dilihat dari Asia, penulis pribadi teramat sangat tertarik pada bidang lingkungan yang memang terpengaruhi oleh salah satu mata kuliah pilihan dalam jurusan, yakni Pendidikan Lingkungan Hidup.
Lingkungan hidup begitu menjadi banyak diperbincangkan setelah munculnya dugaan-dugaan terjadinya degradasi kualitas lingkungan hidup yang begitu pesat semenjak terjadinya Revolusi indutri di Inggris pada kisaran abad 17-18. Eksplorasi terhadap alam secara besar-besaran kemudian dilakukan oleh masyarakat d seluruh dunia. Munculnya fenomena seperti melelehnya gunung es dan meningginya permukaan air laut serta bumi yang terasa semakin panas menjadi indikasi atas terjadinya degradasi kualitas lingkungan hidup secara drastis.
Masalah lingkungan hidup ini juga terkadang menjadi masalah yang bukan lagi bersakala lokal ataupun nasional, melainkan internasional dan mempengaruhi hubungan antarnegara. Mungkin masih jelas di ingatan kita bagaimana kebakaran hutan di wilayah Indonesia yang asapnya begitu meresahkan dan mengganggu negara tetangga seperti Malaysia, Singapura sehingga “panasnya kebakaran hutan mengakibatkan panasnya hubungan antarnegara”.
Bisa dibayangkan apa jadinya hubungan antar negara jika terjadinya kerusakan dan menurunnya kualitas lingkungan. Permasalahan ini bukan hanya milik satu negara saja, Indonesia misalnya yang dikenal sebagai paru-paru dunia tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya pihak yang disalahkan dalam penggundulan dan kerusakan paru-paru dunia tersebut. Melainkan juga seluruh pihak yang terlibat didalamnya, dan penanggulangannya pun bukan hanya dibebankan dan dilimpahkan kepada pihak Indonesia saja, melainkan kepada seluruh pihak. Bukankah efeknya akan mendunia? Bukankah hutan Indonesia merupakan “Paru-paru Dunia” bukan “Paru-paru Indonesia”? bukankah bumi itu satu? Bukankah keseimbangan ekosistem harus senantiasa dijaga? Bukankah jika salah satu sistem didalamnya rusak atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya maka akan terjadi pula ketidaksesuaian dan ketidakseimbangan pada ekosistem keseluruhannya? Terlalu sulitkah Asia bersatu untuk menuju pemeliharaan dan penyesuaian kembali fungsi dari lingkungan?
Lain hutan, lain pula lautan. Laut atau perairan menempati hingga 71% dari keseluruhan permukaan bumi. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya ekosistem bumi jika terjadi kerusakan di laut atau perairan. Tumpahan minyak, eksplorasi bahan bakar yang terdapat di lautan, penggunaan bahan kimia, hingga penggunaan bom atau alat peledak dalam mencari ikan menjadi masalah-masalah yang harus diselesaikan bersama bukan hanya oleh satu negara melainkan oleh seluruh negara.
Hutan, laut, daratan, hingga udara sudah mengalami perubahan yang ke arah degradasi atau penuruan kualitas. Eksploitasi bahan tambang yang tidak bertanggungjawab, pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan, penanggulangan sampah dan limbah, pemanasan global, mutasi genetik, rekayasa genetika, pengembangan teknologi yang mengacu pada terjadinya kerusakan lingkungan, dan lain sebagainya.
Disadari atau tidak, perubahan yang terjadi pada lingkungan ini sedikit banyaknya akan dan telah mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri. Relakah manusia menggadaikan alam dan lingkungan yang notabene “Pinjaman” dari anak cucu kita dengan “kesejahteraan fana nan sesaat”? satukan Asia, wujudkan kehidupan yang selaras,serasi dan harmonis dengan alam. Lingkungan Hidup adalah hidupku, Hidupku untuk Lingkungan.
Ditulis Oleh: Elin Karlina
Mahasiswa S1 Pendidikan IPS Universitas Pendidikan Indonesia
Januari, 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar