Asia sebagai salah satu
Benua dan wilayah dengan berbagai negara dan latar belakang serta kekayaannya
menjadikan Asia sebagai salah satu potensi besar dunia. Jika ditelisik lebih
jauh, hal apalagikah yang kurang atau tidak ada dalam kawasan Asia ini? Potensi
sumberdaya alam baik hayati maupun non hayatinya, potensi sumber daya manusia,
teknologi yang tidak dapat dipandang sebelah mata jika dibandingkan dengan
Negara-negara Eropa, budaya, sejarah, dan lain sebagainya.
Komunitas One Asia
Foundation merupakan komunitas yang tergabung didalamnya pelajar dan mahasiswa
yang notabene sebagai generasi penerus dan unsur dalam kaum elit pendidikan
yang berasal dari berabagai negara dengan tujuan menjadikan Asia Satu dengan
presiden saat ini yaitu MR. Sato Yoji.
Terbentuknya Asia satu
bukan berarti mengesampingkan keberagaman dan pluralitas dari perbedaan-perbedaan
seperti asal negara, ras, suku bangsa, agama, budaya, latar belakang politik
maupun latar belakang sejarah peserta yang tergabung dalam komunitas yang
terdapat dan tersebar diseluruh wilayah Asia, melainkan sejenak mencoba
melupakan perbedaan tersebut dengan tujuan menjadikan Asia Satu guna didalamnya
juga menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam wilayah Asia ini.
Penulis sendiri
merupakan salah seorang mahasiswa yang menjadi perwakilan dari jurusan
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia dalam
komunitas One Asia Foundation. Dari sekian banyak aspek yang dapat dilihat dari
Asia, penulis pribadi teramat sangat tertarik pada bidang lingkungan yang
memang terpengaruhi oleh salah satu mata kuliah pilihan dalam jurusan, yakni
Pendidikan Lingkungan Hidup.
Lingkungan hidup begitu
menjadi banyak diperbincangkan setelah munculnya dugaan-dugaan terjadinya
degradasi kualitas lingkungan hidup yang begitu pesat semenjak terjadinya
Revolusi indutri di Inggris pada kisaran abad 17-18. Eksplorasi terhadap alam
secara besar-besaran kemudian dilakukan oleh masyarakat d seluruh dunia.
Munculnya fenomena seperti melelehnya gunung es dan meningginya permukaan air
laut serta bumi yang terasa semakin panas menjadi indikasi atas terjadinya
degradasi kualitas lingkungan hidup secara drastis.
Masalah lingkungan
hidup ini juga terkadang menjadi masalah yang bukan lagi bersakala lokal
ataupun nasional, melainkan internasional dan mempengaruhi hubungan
antarnegara. Mungkin masih jelas di ingatan kita bagaimana kebakaran hutan di
wilayah Indonesia yang asapnya begitu meresahkan dan mengganggu negara tetangga
seperti Malaysia, Singapura sehingga “panasnya kebakaran hutan mengakibatkan
panasnya hubungan antarnegara”.
Bisa dibayangkan apa
jadinya hubungan antar negara jika terjadinya kerusakan dan menurunnya kualitas
lingkungan. Permasalahan ini bukan hanya milik satu negara saja, Indonesia
misalnya yang dikenal sebagai paru-paru dunia tidak dapat dijadikan sebagai
satu-satunya pihak yang disalahkan dalam penggundulan dan kerusakan paru-paru
dunia tersebut. Melainkan juga seluruh pihak yang terlibat didalamnya, dan
penanggulangannya pun bukan hanya dibebankan dan dilimpahkan kepada pihak
Indonesia saja, melainkan kepada seluruh pihak. Bukankah efeknya akan mendunia?
Bukankah hutan Indonesia merupakan “Paru-paru Dunia” bukan “Paru-paru
Indonesia”? bukankah bumi itu satu? Bukankah keseimbangan ekosistem harus
senantiasa dijaga? Bukankah jika salah satu sistem didalamnya rusak atau tidak
berfungsi sebagaimana mestinya maka akan terjadi pula ketidaksesuaian dan
ketidakseimbangan pada ekosistem keseluruhannya? Terlalu sulitkah Asia bersatu
untuk menuju pemeliharaan dan penyesuaian kembali fungsi dari lingkungan?
Lain hutan, lain pula
lautan. Laut atau perairan menempati hingga 71% dari keseluruhan permukaan
bumi. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya ekosistem bumi jika terjadi kerusakan di
laut atau perairan. Tumpahan minyak, eksplorasi bahan bakar yang terdapat di
lautan, penggunaan bahan kimia, hingga penggunaan bom atau alat peledak dalam
mencari ikan menjadi masalah-masalah yang harus diselesaikan bersama bukan
hanya oleh satu negara melainkan oleh seluruh negara.
Hutan, laut, daratan,
hingga udara sudah mengalami perubahan yang ke arah degradasi atau penuruan
kualitas. Eksploitasi bahan tambang yang tidak bertanggungjawab, pembangunan
yang tidak memperhatikan lingkungan, penanggulangan sampah dan limbah,
pemanasan global, mutasi genetik, rekayasa genetika, pengembangan teknologi
yang mengacu pada terjadinya kerusakan lingkungan, dan lain sebagainya.
Disadari atau tidak,
perubahan yang terjadi pada lingkungan ini sedikit banyaknya akan dan telah
mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri. Relakah manusia menggadaikan alam
dan lingkungan yang notabene “Pinjaman” dari anak cucu kita dengan
“kesejahteraan fana nan sesaat”? satukan Asia, wujudkan kehidupan yang selaras,serasi
dan harmonis dengan alam. Lingkungan Hidup adalah hidupku, Hidupku untuk
Lingkungan.
Ditulis Oleh: Elin
Karlina
Mahasiswa S1 Pendidikan
IPS Universitas Pendidikan Indonesia
Januari, 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar