Sabtu, 03 Agustus 2013

Tentang hobi #1


Salah satu hobi saya yang tak pernah bisa saya lepaskan sejak kecil adalah dalam dua hal, yakni dalam hal musik dan buku. Dua hal ini lah yang bisa melupakan dan mengalihkan perhatian saya dari hal lainnya, mereka layaknya sahabat yang selalu ada untuk saya. Dari ketertarikan saya terhadap membaca buku, muncullah ketertarikan saya yang lain, yakni menulis.
Sejak kecil, budaya membaca memang sangat dekat dengan kehidupan saya, ketika kawan-kawan seusia saya menghabiskan waktunya dengan bermain atau menonton tv saya justru menghabiskan waktu saya dengan buku. Itulah salah satu alasan mengapa saya menjadi tertutup. Di keluarga saya senantiasa diajarkan untuk membaca kembali pelajaran yang di dapat di sekolah dan membaca bahan ajar untuk hari berikutnya. Kemudian semakin berkembang dengan ketertarikan saya membaca komik, cerpen, majalah, cerbung, novel, hingga buku-buku sejarah.
Topik-topik yang sangat saya gemari dalam hal membaca adalah topik sejarah, petualangan serta mysteri. Mungkin ketiga topik ini tidak begitu lazim dibaca oleh wanita seumuran saya yang pasti lebih tertarik pada hal-hal berbau romance. Padahal, dipikiran saya cerita-cerita romantis seperti itu sangat membodohi pembacanya, menjual angan-angan semu nan indah kepada pembaca, dimana pertemuan senantiasa diawali dengan ketidaksengajaan, teman masa kecil ataupun orang yang awalnya bermusuhan. Lalu akhirnya, bisa ditebak bukan? Yah, happy ending. Sementara dikehidupan nyata perjalanan hidup tidak semudah itu. Kenapa saya tahu alur dan cerita yang lazimnya ada dalam buku-buku bernuansa romantis? Tentu saja karena saya pun pernah punya ketertarikan pada hal tersebut, cukup bagus juga untuk meningkatkan mood yang mungkin sedang turun drastis. Tetapi saya lebih memilih buku-buku motivasi atau religi untuk meningkatkan mood tersebut.
Buku sejarah sebagai salah satu ketertarikan saya didasari atas peristiwa sejarah yang bersifat sangat subyektif, dimana seseorang yang menjadi pahlawan dalam satu pandangan bisa saja menjadi penjahat pada sudut pandang yang lain. Selain itu, sejarah merupakan sebuah misteri, dimana peristiwa yang ada belum tentu sama persis dengan apa yang kita baca. Hal ini tentu saja menarik perhatian saya karena dengan itu pembaca seharusnya bijak untuk tidak menelan bulat-bulat informasi yang didapat dari satu sumber buku saja melainkan harus memperbanyak dan memperkaya khasanah bacaan, melihat dari segala sudut pandang, menarik kesimpulan dan mungkin bisa saja membuat suatu hipotesa baru bukan?
Sejarah Indonesia yang walaupun berusia masih muda jika dibandingkan sejarah China atau Amerika ternyata memiliki suatu medan magnet tertentu yang menarik perhatian pembaca dan penikmat sejarah, bagaimana awal mula terbentuknya “Indonesia” dari berbagai kerajaan-kerajaan di Indonesia, peran tangan-tangan kolonial, intrik kekuasaan, perjalanan negara ini setelah kemerdekaan, perkembangan Indonesia dalam berbagai hal dan asspek kehidupan sangat menarik perhatian pembaca dan pecinta sejarah. Hal ini dikarenakan penulisan sejarah sangat dipengaruhi oleh siapa penulis sejarahnya dan sejarah hanya ditulis oleh para pemenang dan pemenang adalah siapa yang bertahta dalam politik dan kekuasaan di negeri tersebut. Seringkali saya temukan versi sejarah yang berubah mengikuti perubahan orde yang berkuasa.
Sebenarnya saya tidak perlu memberikan analisis mendalam darimana spekulasi saya ini berasal, karena hal ini tentunya sudah menjadi rahasia umum yang semua orang mungkin saja tahu dan alasan lain karena saya tidak ingin dicap sebagai salah satu orang yang beraliran satu atau beraliran dua, saya hanya ingin meberikan informasi yang saya tahu dan yang sesuai denga kapasitas saya sebagai mahasiswa. Tetapi jika dapat saya berikan gambaran atau contohnya, kita ambil saja buku berjudul Api Sejarah karya Bapak Ahmad Mansur Suryanegara yang memberikan pandangannya tentang peran para ahli ulama dalam kemerdekaan Indonesia, dimana beliau merasa penulisan sejarah “resmi” tidak mencakup menyeluruh karena tidak menuliskan peran dari orang-orang yang turut berperan dibalik usaha pencapaian kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan Indonesia (Dalam hal ini beliau menonjolkan peran ulama). Kesubjektivitasan sejarah pun bisa dilihat dari buku yang berjudul Saling Silang Indonesia Eropa:dari diktator, musik hingga bahasa karya Bapak Joss Wibisono yang menuliskan mengenai pengaruh Indonesia terhadap budaya Eropa maupun pengaruh Eropa terhadap budaya Indonesia dari beberapa segi (politik, musik dan bahasa). Hanya saja, dari buku ini terlihat bahwa penulis cenderung mengambil sudut pandang Eropa (Belanda), hal ini tentu saja dapat dimaklumi karena penulis memang sempat tinggal di benua tersebut sejak tahun 1987.
Pembenaran sejarah yang terlalu dipaksakan. Puing-puing serta serpihan kesamaan dari berbagai segi yang dipaksa untuk terangkai, dipaksa untuk tersusun menjadi satu kesimpulan. Gambaran puzzle kebenaran yang kurang tepat dan tidak pada tempatnya.
Bukti-bukti sejarah yang ada belum tentu benar, karena bukti dan fakta pun bisa saja menipu. Justru hal yang luput dari pandangan mata seringkali menjadi kebenaran yang sesungguhnya. Dapat diambil kesimpulan dari beberapa buku yang saya baca adalah kebenaran yang ada dan tertulis belum tentu benar tetapi kebenaran sudah pati ada.
Cirebon, 3 Agustus 2013 10:11

2 komentar:

  1. Halo Eline, trims jach udah menjebut bukuku "Saling Silang Indonesia Eropa". Anda menulisnja begini:

    Hanya saja, dari buku ini terlihat bahwa penulis cenderung mengambil sudut pandang Eropa (Belanda),

    Bolehkah saja minta pendjelasan apa makna kalimat di atas? Bagian mana pada buku "Saling Silang" jang menundjukkan penulisnja, saja, telah berpendapat demikian?

    Terima kasih, salam

    BalasHapus
  2. Hallo mBak Elin, ini orang pada membahas blog Anda lho. Silahken batja: https://www.facebook.com/Kandjeng/posts/10201150578138840

    BalasHapus