Salah satu hobi saya
yang tak pernah bisa saya lepaskan sejak kecil adalah dalam dua hal, yakni
dalam hal musik dan buku. Dua hal ini lah yang bisa melupakan dan mengalihkan
perhatian saya dari hal lainnya, mereka layaknya sahabat yang selalu ada untuk
saya. Dari ketertarikan saya terhadap membaca buku, muncullah ketertarikan saya
yang lain, yakni menulis.
Sejak kecil, budaya
membaca memang sangat dekat dengan kehidupan saya, ketika kawan-kawan seusia
saya menghabiskan waktunya dengan bermain atau menonton tv saya justru
menghabiskan waktu saya dengan buku. Itulah salah satu alasan mengapa saya
menjadi tertutup. Di keluarga saya senantiasa diajarkan untuk membaca kembali
pelajaran yang di dapat di sekolah dan membaca bahan ajar untuk hari
berikutnya. Kemudian semakin berkembang dengan ketertarikan saya membaca komik,
cerpen, majalah, cerbung, novel, hingga buku-buku sejarah.
Topik-topik yang sangat
saya gemari dalam hal membaca adalah topik sejarah, petualangan serta mysteri. Mungkin
ketiga topik ini tidak begitu lazim dibaca oleh wanita seumuran saya yang pasti
lebih tertarik pada hal-hal berbau romance. Padahal, dipikiran saya
cerita-cerita romantis seperti itu sangat membodohi pembacanya, menjual
angan-angan semu nan indah kepada pembaca, dimana pertemuan senantiasa diawali
dengan ketidaksengajaan, teman masa kecil ataupun orang yang awalnya
bermusuhan. Lalu akhirnya, bisa ditebak bukan? Yah, happy ending. Sementara dikehidupan
nyata perjalanan hidup tidak semudah itu. Kenapa saya tahu alur dan cerita yang
lazimnya ada dalam buku-buku bernuansa romantis? Tentu saja karena saya pun
pernah punya ketertarikan pada hal tersebut, cukup bagus juga untuk
meningkatkan mood yang mungkin sedang turun drastis. Tetapi saya lebih memilih
buku-buku motivasi atau religi untuk meningkatkan mood tersebut.
Buku sejarah sebagai
salah satu ketertarikan saya didasari atas peristiwa sejarah yang bersifat
sangat subyektif, dimana seseorang yang menjadi pahlawan dalam satu pandangan
bisa saja menjadi penjahat pada sudut pandang yang lain. Selain itu, sejarah
merupakan sebuah misteri, dimana peristiwa yang ada belum tentu sama persis
dengan apa yang kita baca. Hal ini tentu saja menarik perhatian saya karena dengan
itu pembaca seharusnya bijak untuk tidak menelan bulat-bulat informasi yang
didapat dari satu sumber buku saja melainkan harus memperbanyak dan memperkaya
khasanah bacaan, melihat dari segala sudut pandang, menarik kesimpulan dan
mungkin bisa saja membuat suatu hipotesa baru bukan?
Sejarah Indonesia yang
walaupun berusia masih muda jika dibandingkan sejarah China atau Amerika ternyata
memiliki suatu medan magnet tertentu yang menarik perhatian pembaca dan
penikmat sejarah, bagaimana awal mula terbentuknya “Indonesia” dari berbagai
kerajaan-kerajaan di Indonesia, peran tangan-tangan kolonial, intrik kekuasaan,
perjalanan negara ini setelah kemerdekaan, perkembangan Indonesia dalam
berbagai hal dan asspek kehidupan sangat menarik perhatian pembaca dan pecinta
sejarah. Hal ini dikarenakan penulisan sejarah sangat dipengaruhi oleh siapa
penulis sejarahnya dan sejarah hanya ditulis oleh para pemenang dan pemenang
adalah siapa yang bertahta dalam politik dan kekuasaan di negeri tersebut. Seringkali
saya temukan versi sejarah yang berubah mengikuti perubahan orde yang berkuasa.
Sebenarnya saya tidak
perlu memberikan analisis mendalam darimana spekulasi saya ini berasal, karena
hal ini tentunya sudah menjadi rahasia umum yang semua orang mungkin saja tahu
dan alasan lain karena saya tidak ingin dicap sebagai salah satu orang yang
beraliran satu atau beraliran dua, saya hanya ingin meberikan informasi yang
saya tahu dan yang sesuai denga kapasitas saya sebagai mahasiswa. Tetapi jika
dapat saya berikan gambaran atau contohnya, kita ambil saja buku berjudul Api
Sejarah karya Bapak Ahmad Mansur Suryanegara yang memberikan pandangannya
tentang peran para ahli ulama dalam kemerdekaan Indonesia, dimana beliau merasa
penulisan sejarah “resmi” tidak mencakup menyeluruh karena tidak menuliskan peran
dari orang-orang yang turut berperan dibalik usaha pencapaian kemerdekaan
maupun mempertahankan kemerdekaan Indonesia (Dalam hal ini beliau menonjolkan
peran ulama). Kesubjektivitasan sejarah pun bisa dilihat dari buku yang
berjudul Saling Silang Indonesia Eropa:dari diktator, musik hingga bahasa karya
Bapak Joss Wibisono yang menuliskan mengenai pengaruh Indonesia terhadap budaya
Eropa maupun pengaruh Eropa terhadap budaya Indonesia dari beberapa segi
(politik, musik dan bahasa). Hanya saja, dari buku ini terlihat bahwa penulis
cenderung mengambil sudut pandang Eropa (Belanda), hal ini tentu saja dapat
dimaklumi karena penulis memang sempat tinggal di benua tersebut sejak tahun
1987.
Pembenaran sejarah yang
terlalu dipaksakan. Puing-puing serta serpihan kesamaan dari berbagai segi yang
dipaksa untuk terangkai, dipaksa untuk tersusun menjadi satu kesimpulan. Gambaran
puzzle kebenaran yang kurang tepat dan tidak pada tempatnya.
Bukti-bukti sejarah
yang ada belum tentu benar, karena bukti dan fakta pun bisa saja menipu. Justru
hal yang luput dari pandangan mata seringkali menjadi kebenaran yang
sesungguhnya. Dapat diambil kesimpulan dari beberapa buku yang saya baca adalah
kebenaran yang ada dan tertulis belum tentu benar tetapi kebenaran sudah pati
ada.
Cirebon, 3 Agustus 2013
10:11
Halo Eline, trims jach udah menjebut bukuku "Saling Silang Indonesia Eropa". Anda menulisnja begini:
BalasHapusHanya saja, dari buku ini terlihat bahwa penulis cenderung mengambil sudut pandang Eropa (Belanda),
Bolehkah saja minta pendjelasan apa makna kalimat di atas? Bagian mana pada buku "Saling Silang" jang menundjukkan penulisnja, saja, telah berpendapat demikian?
Terima kasih, salam
Hallo mBak Elin, ini orang pada membahas blog Anda lho. Silahken batja: https://www.facebook.com/Kandjeng/posts/10201150578138840
BalasHapus