BAB
I
PENDAHULUAN
Manusia memang memiliki
kecenderungan bersifat duniawi. Contohnya, tak sedikit di zaman sekarang ini
manusia yang hidupnya berorientasi pada uang, harta, kekuasaan dan hal duniawi
lainnya. Adalah keliru kalau manusia menjadikan harta dan anak sebagai tujuan
hidupnya. Wanita, anak-anak, emas dan perak, kendaraan, binatang peliharaan,
dan semua kekayaan adalah menyenangkan dan dipandang baik oleh manusia dan
sangat dicintainya.
Dia tidak memandang jelek mencintai
benda-benda itu, bahkan dia tidak dapat terhindar dari mencintainya. Amat
sedikit sekali orang yang memahami keburukan atau bahayanya, sekalipun
bukti-bukti cukup jelas dan banyak yang memperlihatkan keburukan dan bahayanya
itu. Dia tidak mau lagi surut dari mencintainya. meskipun sudah menderita
disebabkan harta benda kesayangannya itu. Kadang-kadang manusia menyukai
sesuatu, padahal dia mengetahui sesuatu itu buruk, dan tidak berguna. Siapa
yang menyukai sesuatu tetapi ia belum memandungnya baik untuk dirinya, mungkin
pada suatu waktu dia dapat melepaskan diri dari padanya. Sesungguhnya Allah
menjadikan tabiat manusia cinta kepada harta benda kesenangan itu. Tetapi
terserah kepada manusia itu sendiri, sampai di mana ia dapat mempergunakan
harta benda itu untuk mengabdi kepada Allah SWT dan mendapatkan keridaan-Nya.
Allah SWT melarang kaum muslimin berjalan di muka bumi
dengan sombong. Orang yang berjalan dengan sombong di muka bumi bukanlah
bersikap wajar, karena bagaimanapun juga kerasnya derap kaki yang ia hentakkan
di atas bumi, tidak akan menembus permukaannya dan bagaimanapun juga tingginya
ia mengangkat kepalanya, tidaklah ia dapat melampaui tinggi gunung. Bahkan
kalau ditinjau dari segi ilmu jiwa, orang yang biasa berjalan dengan penuh
kesombongan, di dalam jiwanya terdapat kelemahan. Ia merasa rendah, maka
sebagai imbangannya, ia berjalan dengan sombong dan berlagak, dengan maksud
menarik perhatian orang lain agar memperhatikannya.
Maka apabila Allah SWT menegaskan
bahwa mereka sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan setinggi
gunung, bertujuan agar kaum Muslimin menyadari terhadap kelemahan-kelemahan
yang terdapat pada diri mereka, dan supaya ia bersikap rendah hati, jangan
bersikap takabur, karena sebagai manusia tidak akan sanggup mencapai sesuatu
yang di luar kemampuan yang dimilikinya.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Qur’an Surat Ali Imron ayat 14

Artinya: “ dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu:
wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda
pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
2.1.1 Tafsir Ayat
a. Dari Tafsir Al-Jalalain:
“(Dijadikan
indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat) yakni segala yang
disenangi serta diingini nafsu sebagai cobaan dari Allah atau tipu daya dari
setan (yaitu wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak) yang berlimpah dan
telah berkumpul (berupa emas, perak, kuda-kuda yang tampan) atau baik (binatang
ternak) yakni sapi dan kambing (dan sawah ladang) atau tanam-tanaman. (Demikian
itu) yakni yang telah disebutkan tadi (merupakan kesenangan hidup dunia) di
dunia manusia hidup bersenang-senang dengan hartanya, tetapi kemudian lenyap
atau pergi (dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik) yakni surga,
sehingga itulah yang seharusnya menjadi idaman dan bukan lainnya.”
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa setiap manusia dalam
kehidupan dunia ini akan dihiasi oleh keinginan atau kecenderungan terhadap
syahwat atau hawa nafsu yang cenderung mengikuti bisikan setan, dalam ayat ini
disebutkan perhiasan atau kesenangan manusia di dunia sebagai ujian antara
lain:
1.
Wanita, Wanita sudah ditaqdirkan atau dalam
penciptaannya sudah indah sehingga pantas wanita sebagai perhiasan dunia. Dalam
perkembangan sejarah ummat manusia, banyak pemimpin atau raja yang tidak kuat
dikala diuji dengan hiasan dunia yang namanya wanita. Dalam dunia akhir-akhir
ini juga ujian dari wanita semakin dahsyat baik lewat media cetak, elektronik
maupun langsung dalam wujud pergaulan dan interaksi sosial lainnya. Oleh karena
itu kecenderungan terhadap perhiasan dunia yang berupa wanita sudah diberi
jalan oleh Allah SWT dengan jalan menikah dan membangun keluarga sakinah,
mawaddah, dan warohmah. Untuk itulah kita perlu menjaga kecenderungan kepada
perhiasan yang bernama wanita agar jangan sampai tergelincir dari jalan Allah
SWT.
2.
Anak, Sejak zaman dahulu anak sudah menjadi perhiasan
dunia, tanpa kehadiran anak tentunya akan terasa berbeda, seperti bagaimana
kerinduan sorang nabi Ibrohim terhadap kelahiran seorang anak (Ismail) dan
kemudian ketika do'anya dkabulkan oleh Allah SWT kemudian beliau diuji
keimanannya apakah cinta atau keenderungan hubbus syahawat terhadap anak lebih
besar terhadap cintanya kepada Allah SWT dengan ujian untuk menyembelih anak
tersayangnya dan ternyatakecintaan nabi Ibrohim terhadap Allah lebih besar dan
melakukan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya yang akhirnya Allah SWT
mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba yang besar. inilah perhiasan dunia
yang berupa anak dapat membuat kecintaan kita kepada Allah SWT menjadi
berkurang jika tidak dapat mengendalikan syahwat kepada baniin (anak).
3.
Harta yang banyak merupakan impian dan keinginan semua
orang agar dalam hidup mengarungi dunia ini dapat kiranya bahagia, padahal
kebahagiaan tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dimilikinya, tetapi
manusia berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta sampai lupa akan kewajibannya
sebagai hamba Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya. inilah perhiasan dunia
berupa harta yang dapat menggelincirkan orang dari jalan Allah, seperti yang
dialami oleh seorang Sa'labah. bagaimana dia begitu rajin beribadah tatkala ia
masih dalam kondisi miskin bahkan sangat miskin sampai-sampai untuk
melaksanakan ibadah dia harus bergantian dengan istrinya karena tidak ada kain
lagi, akan tetapi setelah dia menghadap rosulullah dan minta di do'akan agar
menjadi orang yang kaya kemidian diberikanlah seekor kambing kepada Sa'labah.
kemudian dari satu kambing itulah berak pinak sehingga sa'labah menjadi orang
yang kaya raya namun dengan ujian kekayaannya itu dia tergelincir sehingga
kemudian tidak taat kepada Allah SWT.
4.
Emas dan perak, merupakan simbol dari kesuksesan
seseorang dalam kehidupan dunia ini sehingga kebanyakan manusia berlomba-lomba
untuk mengumpulkan emas dan perak dan kecencerungan untuk mengumpulkan emas dan
perak kalau kita tidak hati-hati dapat menggelncirkan seorang dari jalan Allah.
5.
Kuda yang bagus atau dalam bahasa sekarang adalah
kendaraan yang mewah, adalah keinginan hampir semua orang, setelah mempunyai
istri atau wanita, harta yang banyak dan emas dan perak adalah kendaraan yang
dapat digunakan untuk kepentingan kehidupan. Pada zaman dahulu kuda merupakan
kendaraan yang bergensi dan mempunyai kedudukan yang tinggi ketika orang
memiliki kendaraan yang bagu. inilah hiasan-hiasan dunia yang patut kita
waspada terhadap keinginan atau hasyrat yang berlebihan sehngga menggelincirkan
dari beribadah kepada Allah SWT.
6.
Hewan ternak termasuk sapi atau kambing atau dalam
bahasa sekarang adalah modal atau usaha yang banyak. walaupun secara harfiah
juga kesenangan kepada hewan atau binatang peliharaan juga termasuk pada hiasan
dunia, seperti burung dengan harga yang mahal, sapi atau kambing untuk lomba,
atau hal lainnya yang memiliki kecenderungan untuk memiliki.
7.
Sawah dan ladang yang luas dan tanaman termasuk juga
tambak, kebun dan usaha-usaha yang berkaitan dengan itu merupakan hiasan dunia
yang menghiasi kehidupan manusia didunia ini. yang membuat manusia mempunyai
kecenderungan untuk memilikinya semua.
2.1.2 Makna dalam Kehidupan
Manusia sebagai makhluk Allah yang
memiliki kelemahan dan kekurangan, terutama jika menyangkut hal keduniawian.
Dalam hal ini, manusia juga memiliki nafsu serta keinginan-keinginan yang
bersifat keduniawian. Allah berfirman dalam surat ini bahwa manusia di jadikan indah
pandangannya terhadap hal-hal yang di sebutkan.
Manusia memang memiliki
kecenderungan bersifat duniawi. Contohnya, tak sedikit di zaman sekarang ini
manusia yang hidupnya berorientasi pada uang, harta, kekuasaan dan hal duniawi
lainnya. Adalah keliru kalau manusia menjadikan harta dan anak sebagai tujuan
hidupnya. Wanita, anak-anak, emas dan perak, kendaraan, binatang peliharaan,
dan semua kekayaan adalah menyenangkan dan dipandang baik oleh manusia dan
sangat dicintainya. Dia tidak memandang jelek mencintai benda-benda itu, bahkan
dia tidak dapat terhindar dari mencintainya. Amat sedikit sekali orang yang
memahami keburukan atau bahayanya, sekalipun bukti-bukti cukup jelas dan banyak
yang memperlihatkan keburukan dan bahayanya itu. Dia tidak mau lagi surut dari
mencintainya. meskipun sudah menderita disebabkan harta benda kesayangannya
itu. Kadang-kadang manusia menyukai sesuatu, padahal dia mengetahui sesuatu itu
buruk, dan tidak berguna. Siapa yang menyukai sesuatu tetapi ia belum
memandungnya baik untuk dirinya, mungkin pada suatu waktu dia dapat melepaskan
diri dari padanya. Sesungguhnya Allah menjadikan tabiat manusia cinta kepada
harta benda kesenangan itu. Tetapi terserah kepada manusia itu sendiri, sampai
di mana ia dapat mempergunakan harta benda itu untuk mengabdi kepada Allah SWT
dan mendapatkan keridaan-Nya.
Manusia memandang baik mencintai
harta benda tersebut. Tetapi hendaknya manusia menyadari bahwa semua harta
benda itu hanya untuk kehidupan duniawi yang tidak kekal. Tak patutlah kiranya
harta benda untuk dijadikan manusia sebagai cita-cita dan tujuan terakhir dari
kehidupan di dunia yang fana ini, sehingga dia terhalang untuk mempersiapkan
diri bagi kehidupan yang sebenamya, yaitu kehidupan di akhirat yang abadi.
Bukankah di sisi Allah ada tempat kembali yang baik (surga)? Dan alangkah
bahagianya manusia, sekiranya dia mempergunakan harta benda itu dalam batas-batas
petunjuk Allah SWT.
2.1.3 Hadist/Surat lain yang
menunjang
a. Al-Qur’an
surat Al Kahfi ayat 7
إنا جعلنا ما
على الأرض زينة لها لنبلوهم أيهم أحسن عملا
Artinya:
Sesungguhnya, Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Q.S Al Kahfi: 7)
b. Al-Qur’an surat Ar Rum ayat 21
Sesungguhnya, Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Q.S Al Kahfi: 7)
b. Al-Qur’an surat Ar Rum ayat 21
ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها
وجعل بينكم مودة ورحمة
Artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya; dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. (Q.S Ar Rum: 21)
c. Q.S. At Tagabun
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya; dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. (Q.S Ar Rum: 21)
c. Q.S. At Tagabun
إنما أموالكم وأولادكم فتنة
Artinya:
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)
(Q.S At Tagabun: 15)
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)
(Q.S At Tagabun: 15)
d. Q.S Al
Fath ayat 11
سيقول لك المخلفون من الأعراب شغلتنا أموالنا وأهلونا فاستغفر لنا
Artinya:
Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan "Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampun untuk kami ini"
(Q.S Al Fath: 11)
Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan "Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampun untuk kami ini"
(Q.S Al Fath: 11)
e. H.R. Bukhari dari Ibnu ‘Abbas
لو كان لابن آدم واديان من ذهب لتمنى أن يكون له ثالثا ولا يملا جوف ابن آدم إلا التراب ويتوب الله على من تاب
Artinya:
Sekiranya manusia itu mempunyai dua lembah emas. tentulah ia menginginkan lagi di samping yang dua itu lembah yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut Bani Adam kecuali tanah. Dan Allah mengampuni orang-orang yang bertobat kepada-Nya.
(HR Bukhari dari Ibnu 'Abbas)
لو كان لابن آدم واديان من ذهب لتمنى أن يكون له ثالثا ولا يملا جوف ابن آدم إلا التراب ويتوب الله على من تاب
Artinya:
Sekiranya manusia itu mempunyai dua lembah emas. tentulah ia menginginkan lagi di samping yang dua itu lembah yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut Bani Adam kecuali tanah. Dan Allah mengampuni orang-orang yang bertobat kepada-Nya.
(HR Bukhari dari Ibnu 'Abbas)
f. Q.S. An
Nahl ayat 5-6
والأنعام خلقها لكم فيها دفء ومنافع ومنها تأكلون ولكم
فيها جمال حين تريحون وحين تسرحون وتحمل أثقالكم إلى بلد لم تكونوا بالغيه إلا بشق
الأنفس إن ربكم لرءوف رحيم والخيل والبغال والحمير لتركبوها وزينة ويخلق ما لا تعلمون
Artinya:
"Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan kamu makan (apa yang dapat dimakan) dari padanya. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskan ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi yang Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahui"
(Q.S An Nahl: 5-6)
"Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan kamu makan (apa yang dapat dimakan) dari padanya. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskan ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi yang Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahui"
(Q.S An Nahl: 5-6)
2.2
Surat Al Isra ayat 37
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
Dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi ini dengan sombong,
karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumidan sekali-kali
kamu tidak akan sampai setinggi gunung.
2.2.1 Makna dalam Kehidupan
Allah SWT melarang kaum muslimin berjalan di muka bumi
dengan sombong. Orang yang berjalan dengan sombong di muka bumi bukanlah
bersikap wajar, karena bagaimanapun juga kerasnya derap kaki yang ia hentakkan
di atas bumi, tidak akan menembus permukaannya dan bagaimanapun juga tingginya
ia mengangkat kepalanya, tidaklah ia dapat melampaui tinggi gunung. Bahkan
kalau ditinjau dari segi ilmu jiwa, orang yang biasa berjalan dengan penuh
kesombongan, di dalam jiwanya terdapat kelemahan. Ia merasa rendah, maka
sebagai imbangannya, ia berjalan dengan sombong dan berlagak, dengan maksud
menarik perhatian orang lain agar memperhatikannya.
Maka apabila Allah SWT menegaskan bahwa mereka sekali-kali
tidak dapat menembus bumi dan tidak akan setinggi gunung, bertujuan agar kaum
Muslimin menyadari terhadap kelemahan-kelemahan yang terdapat pada diri mereka,
dan supaya ia bersikap rendah hati, jangan bersikap takabur, karena sebagai
manusia tidak akan sanggup mencapai sesuatu yang di luar kemampuan yang
dimilikinya.
Kesombongan ada dua
macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal
ini diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadist di
atas dalam sabda beliau, “sombong adalah menolak kebenaran dan suka
meremehkan orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan
berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia
yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada
apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh
Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cet
Daar Ibnu Haitsam).
Sombong terhadap al
haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya.
Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan
penolakannya tersebut. Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk
menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para rasul ‘alaihimus
salaam.
Orang yang sombong terhadap ajaran rasul
secara keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang
kebenaran yang dibawa oleh rasul dan dikuatkan dengan ayat dan burhan,
dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran
tersebut.
Bentuk kesombongan yang
kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan
merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri
dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri
sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka,
serta merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan
2.2.2.
Hadist/Surat lain yang Mendukung
Sesungguhnya
islam melarang dan mencela sikap sombong, dan diantara ayat yang menjelaskannya
adalah:
a. Q.S. Luqman ayat 18
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً
إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ {18}
“Dan janganlah
kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)
b. Q.S.
An Nahl ayat 23
إِنَّهُ لَا
يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Dia tidak
menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)
c. HR
Bukhari dan Muslim
Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ
جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah
kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur (sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no.
2853).
d. H.R. Muslim
Diriwayatkan
dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي
قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ
أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ
يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat
kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang
bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang
bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai
keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan
orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)
An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan
dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka,
serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar
Ibnu Haitsam)
2.3.
Surat Al-Maidah Ayat 51

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi
pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang
lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka
sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
2.3.1
Asbabun Nuzul
Ibnu Ishak, Ibnu Jarir, Ibnu Abu Hatim dan
Imam Baihaqi mengetengahkan sebuah hadis dari Ubadah bin Shamit yang bercerita,
"Tatkala aku memerangi Bani Qainuqa tiba-tiba Abdullah bin Ubay bin Salul
cenderung memihak mereka dan berdiri pada pihak mereka." Setelah itu
Ubadah bin Shamit menuju kepada Rasulullah saw. untuk menyatakan penyucian
dirinya kepada Allah dan Rasul-Nya dari fakta yang telah dibuatnya bersama
orang-orang Bani Qainuqa. Ia adalah salah satu di antara orang-orang Bani Auf
bin Khazraj. Ia telah mengadakan fakta bersama mereka, sama dengan apa yang
dilakukan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul terhadap mereka (orang-orang Bani
Qainuqa). Akhirnya Abdullah bin Ubay mengajak mereka untuk mengadakan
perjanjian fakta dengan orang-orang kafir dan tidak memihak mereka. Selanjutnya
Ibnu Ishak mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa
Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubay, yaitu firman Allah, "Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan
Nasrani sebagai wali(mu)..." (Q.S. Al-Maidah 51).
Khitab atau tujuan ayat
ini adalah peringatan dan ancaman: “Wahai sebagaian orang-orang yang beriman barang
siapa yang keluar dari agama yang haq (Islam) dan menggantinya dengan agama
lain serta kembali kepada kekufuran sesudah iman.” Sekaligus pula, dalam ayat
ini terkandung informasi tentang peristiwa (banyaknya orang murtad) yang akan
terjadi pada masa yang akan datang (ikhbar al-ghaib qabla wuqu-‘ihi).
Ibnu Jarir dan Qatadah mengatakan bahwa Allah Swt. menurunkan ayat ini karena Dia mengetahui akan banyaknya orang yang murtad terutama setelah Nabi Saw. wafat. Kategori murtad yang pertama muncul sesudah Nabi Saw wafat (pada masa Abu Bakar al-Sidiq) adalah orang-orang yang mengatakan: “kami shalat tapi kami tidak mau membayar zakat karena Allah tidak dapat merampas harta kami”
Ibnu Jarir dan Qatadah mengatakan bahwa Allah Swt. menurunkan ayat ini karena Dia mengetahui akan banyaknya orang yang murtad terutama setelah Nabi Saw. wafat. Kategori murtad yang pertama muncul sesudah Nabi Saw wafat (pada masa Abu Bakar al-Sidiq) adalah orang-orang yang mengatakan: “kami shalat tapi kami tidak mau membayar zakat karena Allah tidak dapat merampas harta kami”
Inilah jawaban Allah,
bahwa Dia akan mendatangkan satu kaum yang Ia mencintai mereka dan mereka pun
mencintai Allah. Inilah karakteristik pertama dari mukmin yang sempurna
(al-mukmin al-kamil) yaitu mereka yang dicintai Allah karena mereka mencintai
Allah Swt. Oleh karena itu, mukmin yang sempurna adalah mukmin yang memiliki
sifat mahabbah (cinta kepada Allah). Orang yang berusaha mencintai Allah akan
merasakan manisnya iman,
Karakteristik yang
kedua adalah mereka berkasih sayang dengan sesama mukmin dan keras terhadap
musuh-musuh mereka yang kafir (Yahudi dan Nasrani). Karakter ini semakna dengan
ayat: (Keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang dengan sesama
mereka (Qs. Al-Fath: 29)).
Karekteristik ketiga
adalah berjuang di jalan Allah yaitu jalan kebenaran dan kebaikan untuk
memperoleh ridha Allah Swt. Sebaik-baiknya jihad adalah mengorbankankan jiwa
dan harta untuk memerangi musuh-musuh kebenaran (al-haq). Itulah ciri nyata
dari mukmin yang benar dan lurus.
Ciri yang keempat
adalah mereka tidak takut dengan celaan dari orang-orang munafik. Orang munafik
yang lebih khawatir kepada hinaan dan celaan dari orang Yahudi dan Nasrani yang
menjadi wali mereka, atau takut dimusuhi dan diperangi oleh Yahudi dan Nasrani.
Orang-orang yang memiliki iman sempurna tidak pernah berharap balasan atau
pujian dari manusia tetapi amal yang dilakukan didasarkan kepada kebenaran dan
menjauhi sesuatu yang bathil karena jelas bathilnya.
Inilah di antara
sifat-sifat utama yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hamba yang Ia kehendaki
dan menjauhkannya dari selain mereka. Itulah masyiah (ketentuan) yang Allah
tetapkan. Allah yang maha memiliki berbagai keutamaan, Ia maha luas dengan
rahmatNya dan maha mengetahui terhadap keadaan ciptaanNya.
2.3.3
Hadist/Surat lain yang mendukung
a.
H.R. Bukhari dan Muslim
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Dari Nabi Saw bersabda: tiga perkara yang dengannya seseorang akan
merasakan manisnya iman: (1) seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya dan
tidak ada yang melebihi cinta kepada keduanya; (2) tidak mencintai
seseorang/sesuatu kecuali atas dasar cinta kepada Allah; (3) seseorang yang
benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke neraka
(Hr. Bukhari dan Muslim)
BAB
III KESIMPULAN
Surat pertama, Ali
Imron ayat 14 menjelaskan mengenai kelemahan manusia dalam hal keinginan serta
ambisi manusia yang berkaitan dengan hal yang bersifat duniawi. Manusia
menginginkan hal-hal yang memang telah di jadikan Allah terlihat baik, sebagai
ujian serta cobaan hidup sekaligus titipan yang kelak akan di ambil kembali
oleh pemiliknya, Allah SWT.
Tetapi, adakalanya
manusia bersifat sombong dan kufur nikmat, tidak mensyukuri apa yang telah di
berikan oleh Allah SWT. Karena kekufurannya inilah manusia akan terpuruk dengan
sendirinya ketika harta, kekayaan, kekuasaan, anak atau apapun yang mereka
banggakan dan miliki di ambil oleh Allah. Sehingga tidak aneh jika zaman
sekarang ini banyak orng yang bunuh diri karena stress ketika apa yang
dimiliknya di ambil kembali.
Kesombongan ini
merupakan ancaman yang sangat berbahaya jika di miliki oleh hati kita, terutama
jika kesombongan tersebut di miliki oleh pemimpin kita. Karena hal ini bisa
menimbulkan terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme serta cara-cara lain yang
dianggap halal untuk kepentingan dirinya sendiri, untuk memperkaya diri sendiri
walaupun harus menyengsarakan dan merugikan rakyat.
Jadi, dalam menjalani
kehidupan ini, kita harus senantiasa bersifat rendah hati dan tidak menjadi
orang yang kufur nikmat dengan senantiasa bersyukur dan memahami bahwa apa yan
kita miliki bukanlah semata-mata milik kita, melainkan hanya merupakan sebuah
titipan yang kelak akan di ambil oleh pemiliknya yang Hak, Allah SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar