Kamis, 06 Maret 2014

Kajian Ayat kelemahan Manusia akan hal-hal duniawi

Ini merupakan salah satu tugas kajian ayat yang pernah diberikan ketika kegiatan Mentoring (rangkaian kegiatan Tutorial PAI UPI, Bandung), 2011 :)




BAB I
PENDAHULUAN
Manusia memang memiliki kecenderungan bersifat duniawi. Contohnya, tak sedikit di zaman sekarang ini manusia yang hidupnya berorientasi pada uang, harta, kekuasaan dan hal duniawi lainnya. Adalah keliru kalau manusia menjadikan harta dan anak sebagai tujuan hidupnya. Wanita, anak-anak, emas dan perak, kendaraan, binatang peliharaan, dan semua kekayaan adalah menyenangkan dan dipandang baik oleh manusia dan sangat dicintainya.
Dia tidak memandang jelek mencintai benda-benda itu, bahkan dia tidak dapat terhindar dari mencintainya. Amat sedikit sekali orang yang memahami keburukan atau bahayanya, sekalipun bukti-bukti cukup jelas dan banyak yang memperlihatkan keburukan dan bahayanya itu. Dia tidak mau lagi surut dari mencintainya. meskipun sudah menderita disebabkan harta benda kesayangannya itu. Kadang-kadang manusia menyukai sesuatu, padahal dia mengetahui sesuatu itu buruk, dan tidak berguna. Siapa yang menyukai sesuatu tetapi ia belum memandungnya baik untuk dirinya, mungkin pada suatu waktu dia dapat melepaskan diri dari padanya. Sesungguhnya Allah menjadikan tabiat manusia cinta kepada harta benda kesenangan itu. Tetapi terserah kepada manusia itu sendiri, sampai di mana ia dapat mempergunakan harta benda itu untuk mengabdi kepada Allah SWT dan mendapatkan keridaan-Nya.
Allah SWT melarang kaum muslimin berjalan di muka bumi dengan sombong. Orang yang berjalan dengan sombong di muka bumi bukanlah bersikap wajar, karena bagaimanapun juga kerasnya derap kaki yang ia hentakkan di atas bumi, tidak akan menembus permukaannya dan bagaimanapun juga tingginya ia mengangkat kepalanya, tidaklah ia dapat melampaui tinggi gunung. Bahkan kalau ditinjau dari segi ilmu jiwa, orang yang biasa berjalan dengan penuh kesombongan, di dalam jiwanya terdapat kelemahan. Ia merasa rendah, maka sebagai imbangannya, ia berjalan dengan sombong dan berlagak, dengan maksud menarik perhatian orang lain agar memperhatikannya.
Maka apabila Allah SWT menegaskan bahwa mereka sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan setinggi gunung, bertujuan agar kaum Muslimin menyadari terhadap kelemahan-kelemahan yang terdapat pada diri mereka, dan supaya ia bersikap rendah hati, jangan bersikap takabur, karena sebagai manusia tidak akan sanggup mencapai sesuatu yang di luar kemampuan yang dimilikinya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Qur’an Surat Ali Imron ayat 14

http://web1hari.com/file/gif/3/3_14.gif
Artinya: “ dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
2.1.1 Tafsir Ayat
a. Dari Tafsir Al-Jalalain:
“(Dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada syahwat) yakni segala yang disenangi serta diingini nafsu sebagai cobaan dari Allah atau tipu daya dari setan (yaitu wanita-wanita, anak-anak dan harta yang banyak) yang berlimpah dan telah berkumpul (berupa emas, perak, kuda-kuda yang tampan) atau baik (binatang ternak) yakni sapi dan kambing (dan sawah ladang) atau tanam-tanaman. (Demikian itu) yakni yang telah disebutkan tadi (merupakan kesenangan hidup dunia) di dunia manusia hidup bersenang-senang dengan hartanya, tetapi kemudian lenyap atau pergi (dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik) yakni surga, sehingga itulah yang seharusnya menjadi idaman dan bukan lainnya.”
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa setiap manusia dalam kehidupan dunia ini akan dihiasi oleh keinginan atau kecenderungan terhadap syahwat atau hawa nafsu yang cenderung mengikuti bisikan setan, dalam ayat ini disebutkan perhiasan atau kesenangan manusia di dunia sebagai ujian antara lain:
1.    Wanita, Wanita sudah ditaqdirkan atau dalam penciptaannya sudah indah sehingga pantas wanita sebagai perhiasan dunia. Dalam perkembangan sejarah ummat manusia, banyak pemimpin atau raja yang tidak kuat dikala diuji dengan hiasan dunia yang namanya wanita. Dalam dunia akhir-akhir ini juga ujian dari wanita semakin dahsyat baik lewat media cetak, elektronik maupun langsung dalam wujud pergaulan dan interaksi sosial lainnya. Oleh karena itu kecenderungan terhadap perhiasan dunia yang berupa wanita sudah diberi jalan oleh Allah SWT dengan jalan menikah dan membangun keluarga sakinah, mawaddah, dan warohmah. Untuk itulah kita perlu menjaga kecenderungan kepada perhiasan yang bernama wanita agar jangan sampai tergelincir dari jalan Allah SWT.
2.    Anak, Sejak zaman dahulu anak sudah menjadi perhiasan dunia, tanpa kehadiran anak tentunya akan terasa berbeda, seperti bagaimana kerinduan sorang nabi Ibrohim terhadap kelahiran seorang anak (Ismail) dan kemudian ketika do'anya dkabulkan oleh Allah SWT kemudian beliau diuji keimanannya apakah cinta atau keenderungan hubbus syahawat terhadap anak lebih besar terhadap cintanya kepada Allah SWT dengan ujian untuk menyembelih anak tersayangnya dan ternyatakecintaan nabi Ibrohim terhadap Allah lebih besar dan melakukan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya yang akhirnya Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba yang besar. inilah perhiasan dunia yang berupa anak dapat membuat kecintaan kita kepada Allah SWT menjadi berkurang jika tidak dapat mengendalikan syahwat kepada baniin (anak).
3.    Harta yang banyak merupakan impian dan keinginan semua orang agar dalam hidup mengarungi dunia ini dapat kiranya bahagia, padahal kebahagiaan tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dimilikinya, tetapi manusia berlomba-lomba untuk mengumpulkan harta sampai lupa akan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya. inilah perhiasan dunia berupa harta yang dapat menggelincirkan orang dari jalan Allah, seperti yang dialami oleh seorang Sa'labah. bagaimana dia begitu rajin beribadah tatkala ia masih dalam kondisi miskin bahkan sangat miskin sampai-sampai untuk melaksanakan ibadah dia harus bergantian dengan istrinya karena tidak ada kain lagi, akan tetapi setelah dia menghadap rosulullah dan minta di do'akan agar menjadi orang yang kaya kemidian diberikanlah seekor kambing kepada Sa'labah. kemudian dari satu kambing itulah berak pinak sehingga sa'labah menjadi orang yang kaya raya namun dengan ujian kekayaannya itu dia tergelincir sehingga kemudian tidak taat kepada Allah SWT.
4.    Emas dan perak, merupakan simbol dari kesuksesan seseorang dalam kehidupan dunia ini sehingga kebanyakan manusia berlomba-lomba untuk mengumpulkan emas dan perak dan kecencerungan untuk mengumpulkan emas dan perak kalau kita tidak hati-hati dapat menggelncirkan seorang dari jalan Allah.
5.    Kuda yang bagus atau dalam bahasa sekarang adalah kendaraan yang mewah, adalah keinginan hampir semua orang, setelah mempunyai istri atau wanita, harta yang banyak dan emas dan perak adalah kendaraan yang dapat digunakan untuk kepentingan kehidupan. Pada zaman dahulu kuda merupakan kendaraan yang bergensi dan mempunyai kedudukan yang tinggi ketika orang memiliki kendaraan yang bagu. inilah hiasan-hiasan dunia yang patut kita waspada terhadap keinginan atau hasyrat yang berlebihan sehngga menggelincirkan dari beribadah kepada Allah SWT.
6.    Hewan ternak termasuk sapi atau kambing atau dalam bahasa sekarang adalah modal atau usaha yang banyak. walaupun secara harfiah juga kesenangan kepada hewan atau binatang peliharaan juga termasuk pada hiasan dunia, seperti burung dengan harga yang mahal, sapi atau kambing untuk lomba, atau hal lainnya yang memiliki kecenderungan untuk memiliki.
7.    Sawah dan ladang yang luas dan tanaman termasuk juga tambak, kebun dan usaha-usaha yang berkaitan dengan itu merupakan hiasan dunia yang menghiasi kehidupan manusia didunia ini. yang membuat manusia mempunyai kecenderungan untuk memilikinya semua.
2.1.2 Makna dalam Kehidupan
Manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki kelemahan dan kekurangan, terutama jika menyangkut hal keduniawian. Dalam hal ini, manusia juga memiliki nafsu serta keinginan-keinginan yang bersifat keduniawian. Allah berfirman dalam surat ini bahwa manusia di jadikan indah pandangannya terhadap hal-hal yang di sebutkan.
Manusia memang memiliki kecenderungan bersifat duniawi. Contohnya, tak sedikit di zaman sekarang ini manusia yang hidupnya berorientasi pada uang, harta, kekuasaan dan hal duniawi lainnya. Adalah keliru kalau manusia menjadikan harta dan anak sebagai tujuan hidupnya. Wanita, anak-anak, emas dan perak, kendaraan, binatang peliharaan, dan semua kekayaan adalah menyenangkan dan dipandang baik oleh manusia dan sangat dicintainya. Dia tidak memandang jelek mencintai benda-benda itu, bahkan dia tidak dapat terhindar dari mencintainya. Amat sedikit sekali orang yang memahami keburukan atau bahayanya, sekalipun bukti-bukti cukup jelas dan banyak yang memperlihatkan keburukan dan bahayanya itu. Dia tidak mau lagi surut dari mencintainya. meskipun sudah menderita disebabkan harta benda kesayangannya itu. Kadang-kadang manusia menyukai sesuatu, padahal dia mengetahui sesuatu itu buruk, dan tidak berguna. Siapa yang menyukai sesuatu tetapi ia belum memandungnya baik untuk dirinya, mungkin pada suatu waktu dia dapat melepaskan diri dari padanya. Sesungguhnya Allah menjadikan tabiat manusia cinta kepada harta benda kesenangan itu. Tetapi terserah kepada manusia itu sendiri, sampai di mana ia dapat mempergunakan harta benda itu untuk mengabdi kepada Allah SWT dan mendapatkan keridaan-Nya.
Manusia memandang baik mencintai harta benda tersebut. Tetapi hendaknya manusia menyadari bahwa semua harta benda itu hanya untuk kehidupan duniawi yang tidak kekal. Tak patutlah kiranya harta benda untuk dijadikan manusia sebagai cita-cita dan tujuan terakhir dari kehidupan di dunia yang fana ini, sehingga dia terhalang untuk mempersiapkan diri bagi kehidupan yang sebenamya, yaitu kehidupan di akhirat yang abadi. Bukankah di sisi Allah ada tempat kembali yang baik (surga)? Dan alangkah bahagianya manusia, sekiranya dia mempergunakan harta benda itu dalam batas-batas petunjuk Allah SWT.
2.1.3 Hadist/Surat lain yang menunjang
a. Al-Qur’an surat Al Kahfi ayat 7
إنا جعلنا ما على الأرض زينة لها لنبلوهم أيهم أحسن عملا
Artinya:
Sesungguhnya, Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Q.S Al Kahfi: 7)
b. Al-Qur’an surat Ar Rum ayat  21

ومن آياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة
Artinya:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya; dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. (Q.S Ar Rum: 21)
c. Q.S. At Tagabun

إنما أموالكم وأولادكم فتنة
Artinya:
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)
(Q.S At Tagabun: 15)
d. Q.S Al Fath ayat 11

سيقول لك المخلفون من الأعراب شغلتنا أموالنا وأهلونا فاستغفر لنا
Artinya:
Orang-orang Badui yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan "Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampun untuk kami ini"
(Q.S Al Fath: 11)

e. H.R. Bukhari dari Ibnu ‘Abbas

لو كان لابن آدم واديان من ذهب لتمنى أن يكون له ثالثا ولا يملا جوف ابن آدم إلا التراب ويتوب الله على من تاب
Artinya:
Sekiranya manusia itu mempunyai dua lembah emas. tentulah ia menginginkan lagi di samping yang dua itu lembah yang ketiga. Tidak ada yang dapat memenuhi perut Bani Adam kecuali tanah. Dan Allah mengampuni orang-orang yang bertobat kepada-Nya.
(HR Bukhari dari Ibnu 'Abbas)
f. Q.S. An Nahl ayat 5-6
والأنعام خلقها لكم فيها دفء ومنافع ومنها تأكلون ولكم فيها جمال حين تريحون وحين تسرحون وتحمل أثقالكم إلى بلد لم تكونوا بالغيه إلا بشق الأنفس إن ربكم لرءوف رحيم والخيل والبغال والحمير لتركبوها وزينة ويخلق ما لا تعلمون

Artinya:
"Dan Dia telah menciptakan binatang ternak untuk kamu, padanya ada (bulu) yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan kamu makan (apa yang dapat dimakan) dari padanya. Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskan ke tempat penggembalaan. Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya, melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya Tuhanmu adalah Maha Pengasih lagi yang Maha Penyayang. Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahui"
(Q.S An Nahl: 5-6)

2.2 Surat Al Isra ayat 37

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا

Dan janganlah kamu berjalan dimuka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumidan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.

2.2.1 Makna dalam Kehidupan

Allah SWT melarang kaum muslimin berjalan di muka bumi dengan sombong. Orang yang berjalan dengan sombong di muka bumi bukanlah bersikap wajar, karena bagaimanapun juga kerasnya derap kaki yang ia hentakkan di atas bumi, tidak akan menembus permukaannya dan bagaimanapun juga tingginya ia mengangkat kepalanya, tidaklah ia dapat melampaui tinggi gunung. Bahkan kalau ditinjau dari segi ilmu jiwa, orang yang biasa berjalan dengan penuh kesombongan, di dalam jiwanya terdapat kelemahan. Ia merasa rendah, maka sebagai imbangannya, ia berjalan dengan sombong dan berlagak, dengan maksud menarik perhatian orang lain agar memperhatikannya.
Maka apabila Allah SWT menegaskan bahwa mereka sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tidak akan setinggi gunung, bertujuan agar kaum Muslimin menyadari terhadap kelemahan-kelemahan yang terdapat pada diri mereka, dan supaya ia bersikap rendah hati, jangan bersikap takabur, karena sebagai manusia tidak akan sanggup mencapai sesuatu yang di luar kemampuan yang dimilikinya.
Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadist di atas dalam sabda beliau, “sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam).
Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut.  Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para rasul ‘alaihimus salaam.
Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh rasul dan dikuatkan  dengan ayat dan burhan, dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran tersebut.
Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan

2.2.2. Hadist/Surat lain yang Mendukung
Sesungguhnya islam melarang dan mencela sikap sombong, dan diantara ayat yang menjelaskannya adalah:
a. Q.S. Luqman ayat 18
وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ  {18}
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)
b. Q.S. An Nahl ayat 23
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)
c. HR Bukhari dan Muslim
Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ
“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur (sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).
d. H.R. Muslim
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)
An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam)
2.3. Surat Al-Maidah Ayat 51

http://www.alquran-indonesia.com/images/alquran/s005/a051.png

Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

2.3.1 Asbabun Nuzul

Ibnu Ishak, Ibnu Jarir, Ibnu Abu Hatim dan Imam Baihaqi mengetengahkan sebuah hadis dari Ubadah bin Shamit yang bercerita, "Tatkala aku memerangi Bani Qainuqa tiba-tiba Abdullah bin Ubay bin Salul cenderung memihak mereka dan berdiri pada pihak mereka." Setelah itu Ubadah bin Shamit menuju kepada Rasulullah saw. untuk menyatakan penyucian dirinya kepada Allah dan Rasul-Nya dari fakta yang telah dibuatnya bersama orang-orang Bani Qainuqa. Ia adalah salah satu di antara orang-orang Bani Auf bin Khazraj. Ia telah mengadakan fakta bersama mereka, sama dengan apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Ubay bin Salul terhadap mereka (orang-orang Bani Qainuqa). Akhirnya Abdullah bin Ubay mengajak mereka untuk mengadakan perjanjian fakta dengan orang-orang kafir dan tidak memihak mereka. Selanjutnya Ibnu Ishak mengatakan, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubay, yaitu firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali(mu)..." (Q.S. Al-Maidah 51).
Khitab atau tujuan ayat ini adalah peringatan dan ancaman: “Wahai sebagaian orang-orang yang beriman barang siapa yang keluar dari agama yang haq (Islam) dan menggantinya dengan agama lain serta kembali kepada kekufuran sesudah iman.” Sekaligus pula, dalam ayat ini terkandung informasi tentang peristiwa (banyaknya orang murtad) yang akan terjadi pada masa yang akan datang (ikhbar al-ghaib qabla wuqu-‘ihi).
Ibnu Jarir dan Qatadah mengatakan bahwa Allah Swt. menurunkan ayat ini karena Dia mengetahui akan banyaknya orang yang murtad terutama setelah Nabi Saw. wafat. Kategori murtad yang pertama muncul sesudah Nabi Saw wafat (pada masa Abu Bakar al-Sidiq) adalah orang-orang yang mengatakan: “kami shalat tapi kami tidak mau membayar zakat karena Allah tidak dapat merampas harta kami”
Inilah jawaban Allah, bahwa Dia akan mendatangkan satu kaum yang Ia mencintai mereka dan mereka pun mencintai Allah. Inilah karakteristik pertama dari mukmin yang sempurna (al-mukmin al-kamil) yaitu mereka yang dicintai Allah karena mereka mencintai Allah Swt. Oleh karena itu, mukmin yang sempurna adalah mukmin yang memiliki sifat mahabbah (cinta kepada Allah). Orang yang berusaha mencintai Allah akan merasakan manisnya iman,
Karakteristik yang kedua adalah mereka berkasih sayang dengan sesama mukmin dan keras terhadap musuh-musuh mereka yang kafir (Yahudi dan Nasrani). Karakter ini semakna dengan ayat: (Keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang dengan sesama mereka (Qs. Al-Fath: 29)).
Karekteristik ketiga adalah berjuang di jalan Allah yaitu jalan kebenaran dan kebaikan untuk memperoleh ridha Allah Swt. Sebaik-baiknya jihad adalah mengorbankankan jiwa dan harta untuk memerangi musuh-musuh kebenaran (al-haq). Itulah ciri nyata dari mukmin yang benar dan lurus.
Ciri yang keempat adalah mereka tidak takut dengan celaan dari orang-orang munafik. Orang munafik yang lebih khawatir kepada hinaan dan celaan dari orang Yahudi dan Nasrani yang menjadi wali mereka, atau takut dimusuhi dan diperangi oleh Yahudi dan Nasrani. Orang-orang yang memiliki iman sempurna tidak pernah berharap balasan atau pujian dari manusia tetapi amal yang dilakukan didasarkan kepada kebenaran dan menjauhi sesuatu yang bathil karena jelas bathilnya.
Inilah di antara sifat-sifat utama yang dikaruniakan Allah kepada hamba-hamba yang Ia kehendaki dan menjauhkannya dari selain mereka. Itulah masyiah (ketentuan) yang Allah tetapkan. Allah yang maha memiliki berbagai keutamaan, Ia maha luas dengan rahmatNya dan maha mengetahui terhadap keadaan ciptaanNya.

2.3.3 Hadist/Surat lain yang mendukung
a. H.R. Bukhari dan Muslim

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Dari Nabi Saw bersabda:  tiga perkara yang dengannya seseorang akan merasakan manisnya iman: (1) seseorang yang mencintai Allah dan RasulNya dan tidak ada yang melebihi cinta kepada keduanya; (2) tidak mencintai seseorang/sesuatu kecuali atas dasar cinta kepada Allah; (3) seseorang yang benci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke neraka (Hr. Bukhari dan Muslim)


















BAB III KESIMPULAN
Surat pertama, Ali Imron ayat 14 menjelaskan mengenai kelemahan manusia dalam hal keinginan serta ambisi manusia yang berkaitan dengan hal yang bersifat duniawi. Manusia menginginkan hal-hal yang memang telah di jadikan Allah terlihat baik, sebagai ujian serta cobaan hidup sekaligus titipan yang kelak akan di ambil kembali oleh pemiliknya, Allah SWT.
Tetapi, adakalanya manusia bersifat sombong dan kufur nikmat, tidak mensyukuri apa yang telah di berikan oleh Allah SWT. Karena kekufurannya inilah manusia akan terpuruk dengan sendirinya ketika harta, kekayaan, kekuasaan, anak atau apapun yang mereka banggakan dan miliki di ambil oleh Allah. Sehingga tidak aneh jika zaman sekarang ini banyak orng yang bunuh diri karena stress ketika apa yang dimiliknya di ambil kembali.
Kesombongan ini merupakan ancaman yang sangat berbahaya jika di miliki oleh hati kita, terutama jika kesombongan tersebut di miliki oleh pemimpin kita. Karena hal ini bisa menimbulkan terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme serta cara-cara lain yang dianggap halal untuk kepentingan dirinya sendiri, untuk memperkaya diri sendiri walaupun harus menyengsarakan dan merugikan rakyat.
Jadi, dalam menjalani kehidupan ini, kita harus senantiasa bersifat rendah hati dan tidak menjadi orang yang kufur nikmat dengan senantiasa bersyukur dan memahami bahwa apa yan kita miliki bukanlah semata-mata milik kita, melainkan hanya merupakan sebuah titipan yang kelak akan di ambil oleh pemiliknya yang Hak, Allah SWT.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar